Membaca Kesastrawanan Gus Dur

Membaca Gus Dur sebagai sosok, figur, atau teks sekalipun adalah cara pas untuk menilainya, tanpa memosisikan dirinya pada posisi tersebut maka akan sulit mengikuti arah pembicaraan dan ungkapan yang dilontarkannya, yang sering mengundang kontroversi,nyeleneh, bahkan fitnah bagi pihak-pihak yang merasa “tertuduh” ketika Gus Dur memberikan sinyalemen inisial pelaku di balik motor kerusuhan di masyarakat seperti istilah ES dan Naga Hijau versus Naga Merah, terlepas dari benar dan tidak, ada dan tidak ada bukti, serta sasaran tembak apa yang dimaksudkan olehnya. Hal ini sangat dimaklumi mengingat Gus Dur adalah sosok yang dilahirkan dari rahim pesantren yang memiliki kualitas bahasa yang lumayan tinggi. Dikatakan tinggi, karena gaya bahasa yang cenderung retoris dengan menggunakan balaghah beserta perangkat-perangkatnya yang terangkum ke dalam model ungkapan majaz (metaforis) seperti isti’arah,tasybih (seni perbandingan), matsal (parable) tamtsil(persamaan), atau kinayah (metonimie).

Bagi kalangan pesantren, gaya bahasa tersebut tidak asing dan sering digunakan di dalam penggunaan tafsir bahasa-bahasa Al-Quran yang sudah dikembangkan oleh ulama-ulama terdahulu (salaf), terutama pada tafsir-tafsir isyari yang biasa digunakan oleh ulama-ulama sufi.

Membaca Gus Dur juga dapat dilihat dari aspek proses kreatif yang digelutinya. Tulisan-tulisan Gus Dur muda tidak bisa disamaratakan dengan tulisan-tulisannya ketika menjelang akhir kewafatannya. Tulisan-tulisan Gus Dur muda sangat progresif dan kental dengan genealogi pesantren yang melatarinya, sementara tulisan-tulisan akhirnya cenderung pada tulisan-tulisan reflektif. Dua dimensi yang harus dipahami secara detil.

Sebagai entitas kultural atau dikatakan Gus Dur sebagai sub-kultur, pesantren memiliki ciri yang sebetulnya berbeda dari pandangan Cliffort Geerzt tentang budaya santri yang beragam, mengingat ada banyak mazhab yang berkembang di dalam kehidupan pesantren, terutama pada aspek bahasa tafsir, fiqh, dan tentunya sufisme.

Dan, bila dihadapkan kepada keberadaan Kesusastraan Indonesia, tradisi kesusastraan pesantren seperti sudah terwakili oleh sastra Islami, padahal belum, sehingga wajar jika kemudian persepsi pesantren tidak pernah masuk dalam perhatian penelitian-penelitian ilmiah Kesusastraan Indonesia, meskipun sudah dimasukkan ke dalam sebuah fakultas resmi di IAIN/UIN melalui Fakultas Adab. Dengan kata lain, entitas murni yang meletakkan Islam sebagai agama ketika pelaku-pelakunya berakulturasi ke dalam kehidupan nyata di pesantren dan lingkungannya. Dengan demikian, sebagai makhluk historis, para kiai beserta santri dan jamaahnya telah bergelut dengan realitasnya sehingga memunculkan makna-makna baru dan pengembangan pola pandang (world view) mereka.

Problem lain yang dihadapi oleh kesusastraan pesantren di blantika Kesusastraan Indonesia adalah pada aspek historis. Sebagaimana disebutkan di dalam buku-buku Kesusastraan Indonesia, asal kemunculan kesusastraan yang selalu dikaitkan dengan entitas istana sentris dan sastra tutur masyarakat (folklor) dengan mengabaikan entitas lain yang ada di dalam kehidupan nyata sejarah masyarakat Indonesia, yaitu komunitas resi atau para biksu yang kemudian digantikan atau diwarisi oleh peran-peran kiai setelah Islam masuk ke Indonesia. Komunitas yang memiliki wewenang dan wilayah tersendiri di dalam menafsirkan bahasa-bahasa langit atau ayat-ayat Tuhan ke dalam bentuk cerita (hikayat) dan syair-syair sebagai pihak kedua. Meskipun tak dapat dipungkiri ada relasi kuasa antara pihak istana dan pihak kedua, namun eksistensi dan kemandirian yang dimiliki oleh pihak kedua masih tetap terpelihara dengan baik tanpa ada intervensi dari pihak istana.

Dari sini, memunculkan sosok Gus Dur sebagai sastrawan menjadi penting, karena Gus Dur lahir dari entitas pihak kedua. Hanya saja, pertanyaan yang mengemuka adalah karya sastra apa yang telah dibuat oleh Gus Dur? Novelkah? Cerpenkah? Puisikah? Di manakah posisi kesastrawanan Gus Dur di antara sastrawan-sastrawan besar lainnya?

Agak sulit untuk mengatakan karya apa yang telah dibuat Gus Dur sebagai sastrawan. Namun demikian, dalam bentuk dan rupa yang lain, terutama faktor historis dan narasi, hal tersebut tidak terlalu sulit jika dikembalikan kepada kultur dan tradisi yang berkembang di pesantren yang memiliki gaya bahasa tersendiri seperti anekdot-anekdot dan kisah-kisah sufisme. Faktor historis yang dimaksud di sini adalah di samping entitas manusianya, juga dengan kemunculan cerita-cerita dari tradisi agama seperti Manohara pada langkan Candi Borobudur dan Kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang fenomenal bagi sejarah bangsa dan agama di Indonesia. Begitu pula cerita-cerita Gus Dur di dalam setiap pertemuan pengajian, ia menyampaikan narasi-narasi yang mudah dicerna dan candaan (anekdot) sebagai ciri khasnya.

Kontroversi yang akan mengemuka adalah pada faktor bentuk ini memang, untuk memosisikan Gus Dur sebagai sastrawan. Sebagaimana WS Rendra pernah memaksakan kehendaknya untuk menyebut sastranya adalah satra pamflet. Karena disebabkan pada faktor formalisme yang berkembang di dalam ranah Kesusastraan Indonesia, maka faktor isi terkadang sering terabaikan. Begitu pula pada kasus Sutardji Calzoum Bachri yang membuat puisi mantranya keluar dari kredo perpuisian yang menjadi polemik dan kontroversi.

Dengan demikian, Gus Dur bersama tulisan-tulisannya dapat dikategorikan sebagai sastrawan, karena di dalam faktor isi yang memuat entitas tradisi pesantren telah memberikan pesan-pesan ke dalam bentuk yang khas dimiliki olehnya seperti ungkapan-ungkapan naratif, gaya bahasa, gestur, dan tulisan-tulisannya yang dapat diteliti secara seksama melalui kacamata sastrawi.

Pilihan kata untuk judul buku ini sebagai yang terbesar di Nusantara adalah pilihan sadar untuk mengatakan sebagai ”sastra praktis” sebagaimana tasawuf praktis yang dipelopori oleh Al-Imam Al-Ghazali yang termuat ke dalam etika (akhlaqi) untuk membedakan dengan sastrawan-sastrawan dan pujangga-pujangga besar lainnya seperti Raja Ali Haji, Hamzah Fansuri, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Yosodipura, Ranggawarsita atau Pramoedya Ananta Toer yang telah mengabdikan hidup mereka ke dalam kegiatan hidup bersastra. Istilah sastra praktis digunakan untuk tidak mengatakannya sebagai sastra tradisional yang mengandalkan model tutur saja, melainkan juga tindakan berupa uswatun hasanah atau suri teladan. Pun, sebagai penyelamat bangsa yang diambang kehancuran, Gus Dur dengan jiwa kesusastraan yang halus telah merelakan dirinya sebagai pihak yang ”disalahkan” di dalam sejarah bangsa ketika membela hak-hak minoritas. Meskipun tidak mudah untuk mengatakan dirinya telah rela mengorbankan jabatannya demi untuk kebenaran sebuah prinsip yang berpegang teguh pada konstitusi. Problem perpecahan bangsa yang didasari oleh agama dan kekerasan, serta ideologi sektarian yang selalu menjadi momok sejak agama-agama besar dan paham-paham ideologi dunia masuk ke Nusantara telah diselesaikan secara sastra dengan baik oleh Gus Dur dan pendahulu-pendahulunya sebagaimana kemunculan kitab Sang Hyang Kamahayanikan tersebut.

Dan tentang epigon, sengaja kata ini jadi pilihan untuk memaknai diri Gus Dur yang selalu merepresentasikan dirinya ke dalam sejarah Brawijaya V, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, dan juga Syekh Ahmad Mutamakkin. Ketiganya merupakan “agen” yang menjadi jembatan sekaligus sosok pemersatu ketika Majapahit dan Demak mengalami masa-masa surut dan peralihan peradaban pada masa-masa baru Demak dan Mataram Baru sebagai kebangkitan dari era Mataram Kuno.

Sebuah tulisan, Tuhan Tidak Perlu Dibela, adalah suara lirih Gus Dur untuk mengatakan agama dan kekerasan senantiasa mengancam keutuhan bangsa, ketika umat sudah terjebak ke dalam simbol-simbol formal agama. Maka, jalan Pancasila dan demokrasi adalah pilihan bagi bangsa ini untuk tetap rukun dan harmonis di dalam berbangsa dan bernegara. Juga di dalam mencapai perdamaian dunia sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

TEKS : MURANEWS.COM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *