Smaradina Muda Mangin – Novel Kawan Syam

Novel Syam Asinar Radjam

Smaradina Muda Mangin

 Prolog

Malam berubah menjadi sangat pendiam, ketika aku memulai memutuskan untuk membaca ulang pesan-pesan Mangin. Sebuah amplop tebal. Sayup percik air menuruni batuan jauh di bawah pondokan. Sungainya, —dari penjaga pondok tempatku menginap malam ini —tidaklah sejernih suaranya. Keruh berbau pinggir kota. Bulan sesekali pemalu. Dijaga awan, pucat kafan. Pelepah-pelepah kelapa yang terlihat, menunggu sapa angin.

Gegas kubuka amplop yang dia titipkan sebelum aku berangkat meninggalkan Palembang.

Pertemuanku terakhir dengan Mangin, tak bertemu muka. Hanya sebuah paket post. Dia memintaku untuk menjauhkan masa lalunya. Tak masuk akal.

Amplop tebal kertas samson warna coklat tua. Talinya entah diikat dengan simpul apa. Perlu dua menit untuk memecahkan simpul tali pengikat amplop. Angin yang kuundang dari jendela terlalu pemalu, hingga baju belacuku harus kuyup tersiram peluh.

Akhirnya berhasil juga setelah mencongkel enam jepitan staples. Kulongok isinya. Tiga bundel, satu buku harian selama satu tahun Mangin. Kumpulan kerangka puisi dan draft cerita pendek yang tak pernah selesai dengan baik. Benda-benda ini tak pernah aku temui selama ini, sekalipun kami satu kamar kost —tepatnya aku membenalu saja pada dia selama empat tahun lebih. Satu lembar lagi, surat berisi pesan kepadaku, supaya kubaca baik-baik, dan disimpan saja. Aku mulai membaca lembar-perlembar apa yang dia pindahkan ke dalam bentuk tulisan. Aku tak percaya yang kubaca hanyalah sekumpulan huruf yang berangkai.

Seperti yang ditulisnya berikut;

Apapun yang yang terjadi pada anak lelaki kecil sepertiku, ingin aku kisahkan kepadamu, Dinda. Kau bukan sesiapa, sekalipun. Ada sebuah hipotesa yang hendak kubuktikan. Tanpa harus kujatuhkan apel dari Menara Pisa, atau kuerami sendiri telur ayam. Bahwa setiap insani menyadari ketika seseorang lain menjatuhkan pilihan padanya tanpa getaran bunyi dari dria mulut. Tak kuingini rasa ini lesap begitu saja, sekalipun tanpa kuungkapkan padamu. Seperti mentari yang menyinarkan saja terangnya. Seperti Burung yang meletakkan serbuk sari pada kepala putik sekuntum bunga.

Pun mungkin teori ini bukanlah keniscayaan. Tanpa percobaan yang mendahului, didukung asumsi penguat yang lemah. Kuterima apapun.
(Sumber buku harian Mangin; halaman 33)

Ternyata Mangin puitis juga. Karena yang kukenal selama ini, dia hanyalah seorang pencinta data, penyuka diskusi tentang data kejadian, konflik, sengketa, dan apa saja. Dan dia juga mengkabarkannya ke khalayak. Tapi dia puitis? Haram jadah, tak sempat aku mengenalnya sedemikian jauh. Aku mengambil gelas air putih, dan beranjak ke teras panggung lantai dua. Tak lupa bungkus kretek juga gelas kopi yang berisi tinggal separuh. Harus dua kali mengulang ke dalam, aku juga butuh pensil dan kertas.

Surat pengantar paket yang kubaca sore tadi, menyebutkan,

Seperti biasanya, Acun. Tetaplah kau boleh menggunakan tiga kumpulan tulisan ini untuk apa pun. Tapi tolong, bawa jauh mimpiku ini. Sampaikan pesanku, kepada 1519 jenis burung, 515 jenis mamalia, 20000 jenis tumbuhan angiospermae, 270 spesies amphibia, 600 jenis reptil, 121 kupu-kupu, dan 210 juta rakyat Indonesia, ha ha ha,… Aku mencintanya. Ada pertanyaan?

“Terima kasih, atas kepercayaan ini. Kusimpan kerna kelak kau kan menghiba memintanya kembali, Kawan.” Aku membuang nafas, jauh.

Aku berjingkat di lantai kayu menuju ransel. Takut membangunkan Odoy dari desahan nafas yang teratur. Kertas, blocknote di tanganku. Sleeping bag, tersepak. Telepon berdering di lantai bawah. Malam menemaniku membaca lagi tulisan Mangin. Mengeja lagi potongan-potongan dialog imajiner Mangin dengan dirinya sendiri atau siapa. Entah?

Have I told you lately that I love you?
Have I told you there’s no one else above you?
Fill my heart with gladness, take away all my sadness,
ease my troubles that’s what you do

Bibirku tergetar lirih mengingatkan lagu yang selalu disenandungkan kawanku itu sebelum malam menyergap. Kawanku yang selalu membubuhi inisial AMM dari Alfred Muda Mangin pada setiap tulisannya.
***

Satu
Satu tahun lalu. Sebelum kuputuskan untuk menceritakan kisah Mangin, —seorang kawan baikku yang kadang tak kukenal dengan persis— semua sederhana. Mangin yang kukenal seorang lelaki gamang, teledor, dan jorok. Lengkap sudah penderitaannya. Aku akan ceritakan sedikit, seperti apa rupa dan kelakuannya, sekenal aku.

Tapi nanti, ada sebuah kisah tentang pertemuan yang membuatnya tergiring pada kegamangan berkepanjangan. Tentu saja aku cukup tahu, dan banyak berkesempatan mengenal dia karena dia mengizinkan aku membaca buku hariannya, sekaligus aku adalah kawan diskusinya mulai dari persoalan politik sampai ke urusan ideologi merah jambu -demikian dia menyebut istilah romantisme.
***

Pertemuan
Satu tahun? Tak bulat memang, dalam hitunganku sekitar selisih tiga atau empat bulan. Sebuah malam, saat itu Mangin bertemu seorang gadis dalam tatapan kebinaran. Masih ingat anak lelaki Mangin, karena teramat sering dia ceritakan kepadaku. Tentang senyum anak gadis itu yang mungkin bukan untuknya. Dalam bungkus kemeja denim dan blue jeans. Gadis yang tak feminim dalam perspektif Barat.

Jika tak salah dengar dan tak salah hafal gadis itu bernama, Dinda. Berkulit gelap kekuningan. Lazimnya melayu jawa. Kakinya bergoyang-goyang mengikuti alur diskusi. Dagunya sesekali ditopang tungkai tangan kanan. Mangin teringat bahwa kelakuan gadis itu mirip ketika dia mengayun-ayun tubuh bocah keponakannya, layaknya sebuah ayunan di taman kanak-kanak yang hanya satu catur wulan Mangin singgahi.

Duduk dia di sayap kanan letter U ruang pertemuan. Lebih sering menunduk ke bawah, arah meja lipat di kursi yang didudukinya. Menyibukkan pandangan pada bahan bacaan di tangan kanan. Tangan kiri lebih banyak dipakai menyibak anakan rambut yang sesekali mengganggu mata.

Matanya lelah dengan semangat keingin-tahuan tetap terlihat, sembab, sesekali memejam. Mengerjap dengan diikuti gerakan kecil gelengan kepala. Mengusir penat. Telapak tangan sesekali menutup setiap gerakan menguap. Menutupi arah jam lima dan tujuh dari matanya dua lesung pipi sesekali terlekuk, membuat Mangin berfikir keras supaya diskusi tengah malam menjadi lebih memancing tawa-tawa kecil. Mengundang lebih banyak lagi kemunculan lesung pipi. What a boy!

Mata, senjata sekaligus titik lemah. Dan mata lelah di sudut pandangan Mangin begitu bening. Sekaligus sebuah buku yang penuh dengan bahan bacaan yang perlu digali. Dalam penilaian awal Mangin, gadis itu adalah kuntum pembangkangan terhadap pakta dominasi aktivis laki-laki di kampus ini. Mudah-mudahan. Entah, toh semua bisa saja keliru tafsir. Sesekali kepalanya terangkat mendongak, mengikuti alur diskusi setiap ketika ada komentar yang muncul.

Detik per detik sudut mata Mangin tak rela melepaskannya. Tapi tak ada waktu untuk urusan bergeli malam itu. Harus fokus memfasilitasi diskusi di training dasar organisasi bagi mahasiswa baru. Batangan Djarum coklat baru dibakar, asapnya mengaburkan pandangan Mangin. Mata indah, sepasang lesung pipi. Blur, dalam ruang tajam yang sempit kecepatan 1/1000 second. Fokus, bergantian pas foto, close-up. Mangin yang dipercaya memfasilitasi diskusi tengah malam gelisah, selayaknya penunggu bis mahasiswa ke Indralaya. Gelisah. Tolong jawab, adakah teori revolusi yang lahir dari proses mengejar bis kota?

Diskusi tengah malam ini dimulai sejak pagi. Mangin kebagian satu sesi dekat pukul delapan malam -setelah pengantar yang cukup panjang dari seorang kawan. Sekalipun wacana yang didiskusikan terkategori ringan, Mangin harus membagi konsentrasinya pada dua arah. Ketika organizing comitte sudah mengisyaratkan bahwa alokasi waktu telah terlampaui, dan gerakan mulut beberapa peserta mulai menguap, Mangin memutuskan untuk mengakhiri proses pembisikan awal ini.
Dia mengambil penghapus white board dan menimpa goresan tinta spidol dengan warna baru, kosong. Setelahnya penghapus terlempar-lempar di tangan kanan-kiri Mangin dalam gerakan-gerakan kecil.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan suatu bangunan yang tersusun kokoh,” Mangin menutup diskusi dengan mengutip Firman Tuhan.
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Lalu Beriring Angin
Bersamaku, Mangin menembus pekat aspal yang mulai berkabut. Mengejar 32 km di depan. Yang aku paham Mangin, mengejar sepasang mata yang satu malam sebelumnya melupakan dia tentang keindahan bintang. Secara eksplisit dia pernah kelepasan omongan tentang ini. Mangin mengendus keindahan, terbawa riung angin yang meriapkan rambut tak akrab sisir nya.

Bergantian lampu dekat jauh menyentuh marka dan rambu, berpendar fluoresenct. Beriringan berberapa kendaraan dengan arah lampu beradu arah. Kadang ketika jalur aspal bersisian dengan jalur kereta api aku merasa berkejaran dengan kereta menuju batubara yang kosong.

Mangin malam itu, yang aku paham bukan hendak menemui raut gadis malam sebelumnya semata. Adalah mungkin semacam penebusan dosa, dua tahun alpa dia mendorong gerakan himpunan mahasiswa jurusan. Tak ada pertanyaan yang harus dijawab atas kealpaan tersebut. Bukan karena wabah weberian yang bersimaharajalela, yang kemudian melumpuhkan semangat mengorganisir komponen-komponen masyarakat sipil atau individu sekalipun. Liberalism. Semua hanya persoalan pilihan.

“Butuh banyak energi untuk berpijak di dua kaki yang terkadang terlihat berjauhan,” Aku pernah menasehatinya demikian.

Mungkin pula Mangin mengejar angan, toh kenyataan seringkali tak terpegang,…

Waktu itu, sebelum Mangin memilih, dia teringat kampungnya. Semula dianggapnya jauh dari kenistaan metropolis, tanpa polusi dan dekadensi moral. 1870, Prabumulih (dalam dunia perminyakan disebut juga Komplek Palembang Selatan), tempat pertama kali minyak ditemukan di daerah tersebut oleh bangsa Belanda, pada rembesan puncak antiklin di Kampong Minyak ketika sedang melakukankan pemetaan geologi. Mangin keliru, ternyata dibelakang rumah; adalah Sungai Kelekar, situs hidup sebuah pengrusakan.

Sesaat Mangin sadar, bahwa dia lahir dan dibesarkan di sebuah komunitas korban tambang minyak. Mungkin bukan cuma Mangin yang memiliki sungai di belakang rumah tapi tak sedetik dia menceburkan diri berenang. Padahal semua tetua tahu bahwa tersebutlah Pangkalan Rusa, pemandian khusus kaum laki-laki. Dan Pangkalan Hup, konon sebagai pemandian untuk kaum perempuan. Tetua mengingatkan pula bahwa selalu ada media komunikasi, bukan hanya pertemuan hari ke hari di pangkalan ketika waktu mandi, tapi juga pertemuan minggu ke minggu di kalangan yang mempertemukan pedagang dan pembeli yang tidak hanya datang dari kawasan dekat tetapi juga dari banyak anak sungai lain, Ogan bahkan Musi. Tahun ke tahun seluruh penduduk bertemu dalam pesta nanggok bedusun, untuk menangkap ikan.

Semuanya tak ditemukan Mangin dalam potret masa kecilnya, karena guhong, sungai, atau batanghari, telah tecampur minyak mentah dan air terproduksi dan tak jarang pula sludge.

Bisa jadi ketika dia mengingat tentang kampungnya adalah kali pertama muncul kebingungan atas sebuah pilihan. Mencoba menuju beberapa arah, mencari kawan-kawan berdiskusi. Tak ada kawan mahasiswa yang saat itu berhasil ditemui untuk berdiskusi tentang Kelekar. Semuanya melihat sebagai kewajaran. Semua – yang ditemui – mungkin mengidap dan terjangkit syndrom NIMBY’s . Tidak juga aku. Bukan karena kami memiliki ketertarikan dan isi kepala yang berbeda. Aku hanyalah temannya yang justru kebanyakan menjadi pendengar setianya. Aku tak bisa banyak membantu, toh akupun sedang belajar dari dia.

Dulu, sering kuperhatikan Mangin tepekur. Merasa obrolannya mungkin dianggap sampah.

“Toh, tak semua sampah itu bisa dimusnahkan begitu saja, Mangin,” Aku mencoba membangkitkan semangatnya.

“Contoh saja, plastik dikonsumsi masyarakat Indonesia mencapai satu juta setengah ton. Taruhlah, tujuh kilogram per kapita termasuk jenis sampah yang tak bisa dilebur dalam tanah. Berasal dari delapan ratusan pabrik pembuatan produk mengandung bahan plastik. Plastik memang sebuah kemasan atau bahan yang disukai konsumen. Ringan untuk dibawa, tahan perubahan alam. Tak gampang terurai. Disalahkan adalah konsumen, karena menghasilkan sampah domestik. Tak ada padahal upaya penarikan kembali atas sampah plastik oleh perusahaan. Kecuali untuk beberapa kasus,” Aku memaparkan bahan bacaanku yang baru selesai dibaca di komputer Mangin sendiri.

“Dan sampah juga adalah sebuah hukum alam, atas setiap aktivitas yang dilakukan insani. Tinja, urine, keringat, bau mulut. Tanaman meluruhkan daun-daun tua, menumpukkan seresa, selanjutnya adalah pekerjaan mikro-organisme. Semuanya termanfaat sebagai penopang daur hidup bumi,” Dia melengkapi bacaanku. Lalu aku lihat dia tertawa. Lepas.

Obrolannya dianggap sampah? Mungkin iya. Karena obrolan seperti ini biasanya muncul pada kaum urban, kaum marginal yang langsung bersentuhan dengan masalah. Tapi Mangin, muncul dari kelas apa? Tak paham, karena tak pernah dia menerima raport. Atau bad file di recycle bin komputer beberapa orang yang diajak berdiskusi tak pernah di buang secara permanen.

“Jangan terlalu dianggap sulit,” Ujarku. “Cobalah untuk zikir, fikir dan ikhtiar dan tak terlalu banyak pelesir”

Aku merasa Mangin di boncengan motorku dalam diam. Mungkin, mencoba melupakan kenangan di belakang. Kondisi material saat kini sudah lumayan. Terlihat cahaya di ujung terowongan. Matahari menembus kanopi pagi, aku pakai bahasa Mangin.

Kami menerobos angin. Panas siang telah usai. Sisa matahari menguap di aspal hitam. Jacket Softball New York Yankees, yang membungkus tubuhnya memang mempan melawan dingin di dadanya yang tipis. Tapi angin berkemampuan menyelusup jeans bolong Mangin. Salah dia sendiri. Aku sudah mengingatkan resiko perjalanan sebelum dia merayuku minta diantar.

“Telah lama aku kedinginan, entah berapa masa. Mengejar hangat yang telah separuh jalan. Dinda,..” Tiba-tiba saja Mangin mendesis. Kuat dan memancingku untuk tertawa.

Dinda, -dia telah sempat menghafal dan melafaskan nama itu beberapa kali malam sebelumnya– yang disamarkan dengan ‘Kuntum Pembangkangan’ setelah investigasi kecil mengenai anak perempuan ini kepada teman-teman.

“Kebut, Cek .” Mangin memerintahku di belakang setir. Berlanjut pada ledekan bahwa katanya aku sayang dengan speedometer.

Abu rokok melayang, sempat terlihat nyala kemerahan, hilang menjauhi laju sepeda motor. Menghisap uap air. Berlalu beriring angin.
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Lebung
Perjalanan singkat yang terasa amat panjang. Kiri kanan hanyalah rawa. Embun mulai turun. Rawa.

Aku dan Mangin melewati 65 persen daratan yang didominasi rawa. Lebak, lebung, lopak, semua menjadi sumber ikan dan lahan sawah dengan beragam jenis padi. Padi Pegagan yang pernah paling terkenal mungkin tinggal nama, tapi Mangin sempat mengecap manisnya beras Pegagan anyar di Pulau Kemaro. Padi itu kini terkumpul di Bank Gen IRRI Philipina, kekayaan hayati yang dirampas untuk kepentingan komersial pihak utara.

Dengan potensi ini petani memanfaatkan ikan sepanjang tahun. Mulai awal tahun kalender Masehi, petani menangkap ikan dengan jala, jaring, bubu, kemilar, dan bekarang, sampai Juni, karena air sedikit tinggi. Ketika air lebak lebung dangkal – antara Agustus dan Oktober- petani melebung. Semua penangkapan dilakukan kolektif. Antara Juli dan September petani memakai rebeh -sejenis rumpon untuk ikan dan udang dari kayu yang dipagarkan dan dahan-ranting kayu di bagian yang terpagar– yang dipasangkan di sungai.

November sampai Desember ketika air lebak lebung kering, petani memanfaatkan lahan jadi persawahan. Dengan memulai masa penyiapan lahan dan menanam padi, musim panen pun tiba pada pertengahan Agustus hingga Oktober. Begitulah siklus kawasan lebak lebung.

Memang tak ada masa istirahat bagi petani, tapi ada masa istirahat bagi lahan pertanian. Jadi tak perlu pupuk ; karena masa istirahat yang cukup panjang, juga karena endapan lumpur kembali menjadi lebak atau lebung.

Mangin sempat dua bulan bergelut dengan melebung. Betapa nikmat menyantap patin bakar dengan ketan, melihat bocah-bocah menari riang di miang padi. Bujangan dan gadis bercengkrama di bawah pohon-pohon Bungur berbunga. Pada waktu dia menikmati dua bulannya, embam sejenis mangga sedang berbunga dan kuning bunga memantul di air sungai, jauh sepanjang hari masa sampai senja menjauhi matahari.

Tak ada pola ekspolitatif yang dianut petani sampai pada dikenalkannya sistem lelang. Petani menangkap ikan dengan alat tangkap sederhana dan tradisional. Kemilar, jala, bubu, jaring, pancing, rebeh. Lebak Lebung terkategoi sebagai lahan basah, wetlands, yang memiliki kekayaan hayati beragam.

Mulai dari ikan, mis, lele, sepat, betok, patin, toman, gabus, sepat siam, beringit, tembakang, jambala, baung, jelawat, udang gala, lais. Fauna bergantung pula disana ; beragam jenis burung mulai dari pemangsa flora kawasan seperti padi, dan teratai, serta beragam tumbuhan rawa sampai ke pemangsa burung, seperti burung elang, bangau, belibis, dan ayam-ayam.

Daftar ini baru teridentifikasi secara acak alamiah yang tidak dihargai rasionalitas modern sehingga begitu kentaranya ketidaktahuan akan kelestarian fungsi kawasan sebagai tempat hidup flora, fauna dan manusia.

Angin kencang menggetarkan stang sepeda motorku. Aku tersentak sekejap dan kulemaskan genggaman tangan kananku, memelan sedikit jatuh ke angka 40 di spedometer.

Dalam hitungan Mangin, tercatat 1114 objek lelang dari 993 lebak lebung di 18 kecamatan. Sayang, teramat disayangkan tak ada lagi tempat bagi rakyat untuk mengelola kekayaan ini secara merdeka. Lebak Lebung yang juga berisi ikan riu-riu –ikan penyengat yang sangat memedihkan– di jaman pemerintahan marga dikelola secara kolektif.

Tapi dengan perubahan paradigma pembangunan yang berbau PAD-sasi, semuanya harus melahirkan beragam banyak aturan main. Sedikitnya tiga kali terjadi perubahan peraturan daerah mengenai pengelolaan lebak lebung paska diberlakukannya UU no. 5 tahun 1979 yang sangat keJawa-Jawaan. Padahal belum tentu laik sistem pemerintahan desa di pakai di kawasan dengan tipologi masyarakat yang berbeda.

Tak ada perbaikan secara signifikan dalam paska perubahan kebijakan-kebijakan tersebut. Rakyat tetap tidak ditempatkan sebagai pemilik sah atas kawasan lebak lebung secara komunal. Dan tetap saja membuka peluang monopolistis dan eksploitatif dengan mekanisme lelang. Betapa sebuah peluang terciptanya konflik pengelolaan sumber daya alam disengajakan.

Karena beberapa hal, penolakan lelang lebak lebung yang merugikan petani berarti harga lelang terlalu mahal sehingga hasil tangkapan atau biaya penangkapan ikan semakin mahal. Karena setiap petani lebak lebung harus membayar uang tangkap kepada pengemin yang menguasai kawasan, maka sebagian besar hasil pelelangan dinikmati pemerintah daerah dan panitia lelang.

Di pinggiran kota keberadaan rawa ini terincar ancaman pengembangan kota dan pengembangan ekonomi daerah.

Bintang gemintang menggenggam teropong
Purun megu menung
Dan di gelanggang olahraga; Pengusuran
(Sumber; Hikayat Jakabaring I, Sajak AMM)

Aku lirik dari kaca spion Mangin menatap jauh rawa, menerobos air coklat kental masuk menembus jauh ke dalam lumpur tebal

Rawa adalah daratan ; darat yang tergenang. Maka tentu saja menarik banyak pihak untuk menjadikan rawa darat sebagai daratan biasa yang dengan mantra reklamasi mencitapkan de-rawa-nisasi.

Tak urung Palembang yang memang berada di pinggir sungai besar Musi lambat laun kian tergenang. Musi tak lagi menyungai. Sedimentasi sampai enam juta ton pertahun terkirim ke hilir, plus disfungsi reservoar rawa asli ikut hilang.

Di Sumsel sendiri peruntukan lahan sangat tidak adil bagi kebutuhan keberlanjutan lingkungan hidup ; tujuh puluh persen dari 11 juta lahan diserahkan untuk kepentingan tambang, HTI, industri, perkebunan besar, dan macam-macam bau eksploitasi alam. Sisanya untuk petani, dan masyarakat –itupun masih dipotong dengan kebutuhan kawasan perkotaan, ruang terbuka bagi publik, fasilitas umum.

Kenyataan seperti ini menciptakan beragam konflik dan ketakberdayaan masyarakat mempertahankan kepemilikan tanah menciptakan komunitas orang-orang kalah yang termarginal. Politik pemerintah membuka lahan subur bagi investasi modal besar, dan bisa semuanya terpampang telanjang melalui Letter of Intent IMF.

Tak ada kekuatan politik masyarakat untuk mempertahankan apa yang sudah seharusnya dimiliki mempertajam ketidakadilan, demi sebuah kepentingan perusahaan besar yang berdiri di tengah-tengah hidup miskin mayoritas petani. Kondisi kontra produktif ini tidak memungkinkan pembangunan dari masyarakat bawah karena kepemilikan atas tanah merupakan satu-satunya alat produksi. Tuntutan untuk hidup hanya menjadi lapisan bawah jargon developmentalisme pemerintah.

Kekurangan dalam bentuk material kebutuhan hidup yang makin sulit untuk dipenuhi menjadi gambaran dari fakta kemiskinan sehari-hari proletariat, dan fenomena penindasan ini tidak begitu menjadi lebih penting karena sikap pasrah sebagai bentuk ketidakberdayaan, yang mestinya sudah harus diakhiri dengan memulai penolakan atas tindakan ketidakadilan pemilikan sumber daya alam. Bertani adalah pekerjaan dalam mengolah tanah oleh masyarakat yang memilikinya.

Mangin terkenang bagaimana masyarakat yang sejak tahun 1950-an membuka lahan rawa di Jakabaring tersingkir. Bermula sejak 1991, keinginan ‘proyek’ reklamasi akhirnya menguasai lahan, dan mereka tersingkir. Kejatuhan Suharto merajut mimpi mereka, membangun kebun, dan meminjam bahasa Imron Supriyadi, petani mengantar anak-anak mereka kembali ke sekolah.

Tapi kemana anak-anak akan sempat bersekolah setelah proyek PON XVI membuat mereka harus kalah lagi. Keringat petani tak berkutik dengan selembar surat. Sawah kebun siap berganti asrama atlet PON.

Kuingin menggaris tanah dengan ranting
Kubuat se-dua bentuk kotak
Bermain cak ingkling; olah raga yang tak menggusur
(Sumber; Hikayat Jakabaring VI, Sajak AMM)

Sepeda motor yang kami kendarai melaju saja membela rawa di kiri kanan. Menembus kabut yang pelahan menyelimuti dingin. Kupikir Mangin terdiam saja dalam sisa perjalanan. Dia berpikir tentang sesuatu, dan aku terasa mencatat kental keping-keping pikirannya, terpaku di seluruh lembar-lembar kesadaranku.

Bangunkanlah Hypodhrome, Colloseum
Tak mampu mengatasi rasa lapar
(sumber; Hikayat Jakabaring VII, Sajak AMM)
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Nikoton dan Gelembung Balon Permen
Tibalah kampus –tempat kegiatan dilangsungkan, sekitar pukul sembilan malam. Aku memarkir motor yang panas. Dibawah pohon sonokeling.

Kuperhatikan Mangin disambut kebimbangan, apa yang harus dikerjakan. Bukan masalah bagiku, langsung kusambut tawaran panitia. Segelas kopi hangat di cangkir bekas air mineral. Sudah aku tarik tungkai lengan Mangin untuk ikut bergabung dalam lingkaran, di hadapan kopi yang mengepulkan aroma kental. Dalam cengkraman yang hangat.

Kulihat Mangin terduduk saja di pojok koridor gelap. Mengeluarkan bungkus kretek dari saku jaket. Mencabut sebatang, dan kotak bungkus kretek itu kulihat disusupkan lagi ke saku jaket. Batangan kretek yang tak juga dibakar. Hanya dipelintir-pelintir saja oleh permainan jari.

“Penuhilah dada tipismu dengan nikotin di pojok gelap ujung koridor,” aku berkata dalam hati. “Jika mampu menyelesaikan kebimbangan. Karena memilih terlibat dalam diskusi di dalam kelas akan lebih menjeratmu sekalipun itu sebuah ujian atas keberanianmu. Tak ada pilihan yang lebih baik. Kecuali kalau mau kita lanjutkan saja diskusi tadi sore tentang Serelo Draft fact sheet yang sedang kau coba susun. Bukan memilih ke sini.”

Sayup terdengar petikan gitar. Boyis? Boyis mungkin sebuah pilihan yang sedikit lebih menarik. Lagu dan petikan gitar pasti diseling hisapan nikotin dan diskusi kiri kanan depan belakang.

“Lekaslah ke sana, Goblok!” Batinku memerintah Mangin.
“Apa jadinya jika petani tak ada sawah,… Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah…,” koor Boyis cs sedikit keras.

Aku lihat Mangin melangkah menuju Boyis. Dan duduk di bangku semen di sebelah Boyis. Boyis terpaksa menggeser setang gitarnya supaya tak terkena badan Mangin. Serta merta pula mengubah cara duduknya supaya lebih nyaman.

“Kerbau di kepalaku ada yang suci, kerbau di kepalamu senang bekerja, kerbau di sini teman petani. Ular dinegara maju menjadi sampah nuklir….” Kudengar suara Mangin dalam lagu berbeda judul. Mataku tak akan melepaskan pemandangan tentang Mangin. Aku ingat persis bagaimana gejala kejatuhan cinta sang Mangin. Lelaki gamang satu kostku.

Sampai gelembung balon permen karet muncul dari balik pintu ruangan diskusi. Dua sisi gelembung balon karet tanpa sisi, membiaskan binar mata malam sebelumnya. Dibawa mendekat oleh sepasang kets, t-shirt kuning dan rok flanel motif skotland. Terlihat rupa keterkesiapan Mangin.

Memandangnya, Mangin layaknya terjebak pada sensasi yang membingungkan. Dalam gelembung-gelembung permen karet. Trampolin? Entah, tapi dia tertiup dari sebuah poros yang dipompa entah oleh siapa. Dia memajamkan matanya, menyiapkan kapanpun kelak terlempar keluar orbit ketika sisi balon terpecah.

Selamat datang kebimbangan. Boyis, Mangin dan kawan-kawan makin mengeraskan koor. Membuang semua gelisah, bersama puntung rokok yang ada peringatan pemerintahnya. Mengajarkan betapa hidup di jaman batu seperti sekarang membutuhkan ambivalensi.

Tapi mungkin Mangin telah kehilangan konsentrasinya. Tapi aku sempat memperhatikan gadis yang membuat dia kehilangan konsentrasi itu. Pertama dalam gelembung permen karet dan t-shirt kuning dan rok panjang motif Skot. Kedua berganti kostum yang lebih simpel, blue jeans dan kemeja donker. Kemudian beralih lagi bersalin warna ke asal, kuning dan kotak-kotak Skot. Sebuah permainan warna yang menawan. Mangin tak tahu, mungkin? Tapi otakku sempat mencatat.
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

DUA
Dua kali, ini yang kedua, menurut pengakuan Mangin. Dia terkondisi mengingat perempuan selain Emak, Kelawai, dan keponakannya yang sedang lucu-lucunya. Memaksa sekali perasaan yang teramat sering muncul tanpa diundang. Dan setiap melihat sorot matanya Mangin merasa jantung berdegup.

Runtuhnya WTC di New York, atau patah satu sisi Pentagon pun mungkin tak mampu membuatnya seterpana setiap kali gadis itu menatap.

Sebelumnya lima tahun lalu. Seperti sebuah novel singkat Mangin, Kejora; Interlude –yang kutahu lewat pengakuan catatan hariannya dia pernah menulis novel. Itupun sebuah perasaan yang amat utopis untuk diwujudkan, karena tak dipahami tahapan untuk mewujudkan. Dan pula sudah berhasil dilupakan semuanya ; tentang hasrat menanti tatap gadis yang seolah tahu setiap sore di sebuah tempat yang disebutnya Simpang Seroja. Sekalipun pernah Mangin teringat dan terniat bertemu, ketika menyambangi kota tempat gadis itu sekarang berada.

Satu gagang telepon bergetar dalam belitan sumang.
Satu lagi dalam bingung.
Saat itu kutelepon ibumu, tahu?!!!
(Sumber; Buku Harian Mangin, halaman 107)

Atau,
Kucarilah kau ke sini
Kukhayal sebuah reuni

Teringatkan Simpang Tiga Seroja, dalam kilas satu lustrum
Wedang ronde menghangatkan rinduku.
(Sumber; Buku Harian Mangin, halaman 106)

Tentang perasaan terakhir ini ingin Mangin ceritakan dengan jujur bersama kawannya, Bu Jin Ai FM. Radio gelap yang dia bangun beberapa tahun lalu itu dia tingalkan karena berkeinginan membangun community radio di ladang-ladang pertanian, di talang-talang, di rompok-rompok , menemani kicau murai di radio yang digantung menghibur sang penyadap karet. Dang perumput di tengah huma. Atau pesta nugal, bahkan perayaan ngetam. Sebuah proyek masa depan Alfred Muda Mangin. Sesuatu saat mungkin akan tersampai.
* * *

On The Spot
Mangin terkenang bangkai Bu Jin Ai FM-nya. Entah dimana terkubur. Setelah harus berpindah-pindah studio. Sekalipun itu juga bukan masalah bagi Mangin dan Bontot, kawan yang merangkap teknisi. Radio mereka malah pernah berstudio di Volkswagen Combi, mobile radio. Sebuah pengalaman yang mengesankan bagi Mangin dan Bontot karena bisa langsung on air on the spot.

Masyarakat Kelekar menuntut Pertamina. Masyarakat dusun Prabumulih, bersama Solidaritas Peduli Lingkungan Prabumulih SPLP, meminta pencemaran Sungai Kelekar dihentikan. Tuntutan lain adalah agar Badan Usaha Milik negara ni melakukan normalisasi sungai. Hal ini terungkap dalam beberapa kali pertemuan antara masyarakat – perusahaan dan DPRD Muara Enim. Menurut masyarakat Pertamina harus bertanggung-jawab atas kerugian material dan immaterial karena masyarakat tak menikmati kontribusi dari sebuah kegiatan eksploitasi di tanah mereka, dan DPRD ataupun eksekutif harus memberi jaminan dalam bentuk perda sebagai bukti keberpihakan pada rakyat.

Pernah suatu kali mereka –Chandot & the Gank— pulang dan berkumpul ketika menjelang Ramadhan. Studio mereka adalah juga kedai jagung bakar. dan jingle Bu Jin Ai FM berubah ; “Dari kedai jagung bakar, Bu Jin Ai berkoar, Beli jagung dapat lagu, pesan lagu dapat jagung bakar,…” Begitulah Bontot biasanya membuka siaran sore menjelang berbuka puasa, dari kedai jagung bakar.

Radio yang tak berjam siar tetap. Dan tentu saja tak mampu mengakomodir kepentingan khalayak. Teori social responcibility tak dapat dipakai karena tak ada alat komunikasi langsung yang dapat dipakai pendengar Bu Jin Ai FM untuk menghubungi studio yang notabene bergerak terus, dan gelap. Tapi Bu Jin Ai memang dimaksudkan Mangin untuk mengkritik pekerjaan Alfred Rambang , kawannya, yang telah membangun radio gelap terlebih dahulu. Radio yang hanya berisi lagu dan karya sastra. Tanpa sentuhan jurnalistik radio.

Kadangkala Mangin malah justru menikmati studio berjalannya ini. Karena memungkinkan sekali untuk menyiarkan informasi yang digali on the spot dan memudahkan pencarian berita dengan radiowalk . Bukan hanya mengupas sastra pembebasan layaknya Anonymous FM-nya Alfred Rambang. Tapi juga menceritakan persoalan informasi, fakta, opini terkini mengenai pengelolaan sumber daya alam.

Mengenangkan Alfred dan radio gelapnya, mengenangkan pula kehilangan jejak seorang kawan yang amat pandai menyembunyikan rahasianya. Menghilang tanpa jejak. Apatah seorang lelaki harus menghilang setelah gagal menemukan dirinya sendiri?

Dan Bu Jin Ai FM pun sejak setahun lalu harus mati suri, karena berpencarnya Chandot & the Gank. Merintis arah sendiri-sendiri. Tetapi Mangin tetaplah sebuah alat penyuara lewat aktivitas kesehariannya. On the spot. Dari beberapa catatan transkrip pemberitaan Bu Jin Ai terbaca ;

Paska pertemuan segitiga antara SPLP (Solidaritas Peduli Lingkungan Prabumulih) bersama bersama masyarakat Prabumulih, Pertamina OEP Prabumulih, dan Komisi D DPRD Muara Enim tanggal 3 Juli 2000 terulang lagi kelalaian Pertamina OEP Prabumulih. Pertemuan 3 Juli tersebut telah mensepakati bahwa Pertamina tak lagi membuang limbah ke Sungai Kelekar sejak 1 November 2000, dan bukan berarti pada kurun waktu sebelumnya Pertamina boleh mencemari Kelekar.

Kelalaian tersebut mengakibatkan pecahnya pipa penyalur minyak mentah di daerah Pencucian Batu Kuning Simpang Empat, tanggal 15 Juli 2000. Saat diminta keterangan, pihak Humas Pertamina OEP Prabumulih tidak bisa menjelaskan berapa jumlah minyak yang tertumpah sebenarnya. Secara kuantitas memang tumpahan minyak ini tak sejauh kejadian sebelumnya (Oktober 1998) yang sampai mengalir setidaknya 8 kilo meter.

Tumpahan minyak mengaliri sepanjang 1,5 km di Sungai Kelekar. Menurut beberapa saksi, minyak mulai tumpah sekitar tengah hari. Lalu sekitar pukul 18.00 sore Pertamina melakukan penanggulangan dengan sangat konvensional, yakni cara bakar sehingga mengakibatkan kebakaran sekitar kompleks pemakaman leluhur (puyang) masyarakat dusun Prabumulih, dan tanah budal (ulayat) keturunan Puyang Tageri, yaitu tanah dusun lama yang diberi nama Tumbal Babat.

Di sisi ekologi, kebakaran tidak hanya melahap biota air Kelekar, juga menghancurkan keanekaragaman hayati dan fungsi alam bantaran sungai sekitar 400 m panjang di kalikan dengan 20 meter sisi kiri-kanan sungai. Bukan hanya sumber daya alam yang potensial sebagai sumber ekonomi rakyat yang dihancurkan, seperti ikan lele, belut, sepat, betok, udang, dan ketam (kepiting) bahkan hidupan air liar seperti biawak dan ular pun ditemukan mati.

Didarat, api membakar hutan bambu kapal –bambu khusus untuk lemang kecil dan keperluan lain pada acara adat ketika berziarah ke Puyang– setidaknya seluas 50 x 10 m atau 500 m2. Serta kayu-kayu besar yang potensial sebagai bahan bangunan dan penahan air di sungai (antara lain Seru dan Kemang). Setidaknya 600 pohon karet rakyat turut terbakar, ditambah tanaman pisang. Kualitas air Sungai menjadi asam sampai hari keempat setelah pembakaran –setelah sehari sebelumnya sungai tertimpa hujan, pH air sungai di lokasi pembakaran menunjukkan angka 5. Hal ini jelas menimbulkan kerugian baik secara ekonomis, politis, bahkan religius (adat) bagi rakyat.
(Sumber; Kelekar dibakar lagi, naskah berita Bu Jin Ai FM)

Dalam beberapa diskusi antara aku dengan Mangin, track record kerusakan Sungai Kelekar sudah nyaris setengah abad telah dicemari aktivitas penambangan minyak. Dari kejadian ini ada beberapa hal yang sangat disayangkan. Tindakan pengelolaan pencemaran ini masih memposisikan rakyat sebagai objek, bukan sebagai subjek yang perlu diakui haknya untuk dilibatkan secara setara.

Pertamina sangat sulit memberikan informasi seluas-luasnya bagi masyarakat. Bahkan penanggulangan tumpahan minyak dengan cara bakar tidak pernah meminta pertimbangan dari masyarakat, padahal lokasi tersebut adalah simbol pemersatu masyarakat dusun Prabumulih secara adat, lahan pertanian rakyat, bahkan pemandian warga sekitarnya. Dan Mangin sempat berterus pulang dia akan segera pulang ke Prabumulih, untuk pekerjaan-pekerjaan rumah yang tertinggal. Tapi entah?

Walah,…
Akhirnya tertata jua
Seperti hieroglyph dan hurup paku atau prasasti di kedukan bukit
Tintamu getah dan darah
Dari tangis anak putus sekolah
Demi lambung si busung

Betapa kesemenaan pemilik syah keserakahan memboroskan tinta,… tapi kutulis tetap
(Sumber; Hikayat Jakabaring V, Sajak AMM)
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Surat 2
Tengah malam acara keakraban antara mahasiswa baru dengan himpunan mahasiswa jurusan, Mangin hendak menyerahkan balasan surat singkat itu ke Dinda. Di persimpangan kebimbangan. Hujan sibuk-sibuknya sebagai panitia. Toh, mahfum Mangin kalau tak ada waktu baginya. Selama ini pun Mangin tak punya waktu banyak untuk Hujan. Karena diserahkan waktunya kepada kerja di kampung-kampung dan di depan komputer dengan wallpaper monitor para super heroes Detroit Comic.

Adakah nista seorang saya,
Ketika meminta maaf kepada perempuan-perempuan
Yang mencintaku adalah sebuah pertanyaan
Sebab, tak sekali kujatuhkan cinta pada perempuan
kecuali emak, kelawai dan keponakan
(Sumber; Sajak Mambu II, AMM)

“Aku punya jawaban atas suratmu kemarin.” Bisik Mangin ke Dinda ketika ada senggang waktu sedikit. Mangin membuka tas dan mencarinya di selipan-selipan buku. Membongkar ingatannya, apakah dia membawanya serta atau tidak, setelah meminta panitia menjemputnya pukul 11 malam.
“Aduh, maaf tertinggal?” Sesuatu penyesalan yang terucap.
“Ya, besok saja. Atau kapan-kapan.” Di gelap malam pun masih terlihat lesung pipinya. Tak ada perubahan rona muka. Mangin hanya memperhatikan segitiga di raut muka Dinda. Sama kaki, sepasang lesung pipi dan batang hidung.
Lalu Dinda pergi, entah melakukan apa. Hanya bayangan yang menjauh. Kegelapan menyelimuti. Dan teriakan bernada perintah-perintah saja yang terdengar. Malam berjalan. Awan tipis berarak. Kabut turun. Bau ubi bakar di tumpukan bara hadapan kami. Mengepul, mempur. Kulit ubi kayu memecah. Dagingnya empuk terlihat putih menyembul.
* * *

Smogie
Di tengah rawa timbunan, aktivitas malam yang di tempat itu pasti senyap berubah bak pasar malam. Tanpa komidi putar dan badut. Tak ada lempar botol, maupun roda gila. Kegiatan ramah tamah antara mahasiswa baru dan mahasiswa senior. Oalah, senior iku opo?

Mangin terlihat menikmati malam itu, ketika embun mulai perlahan turun. Satu depa di atas kepala. Kabut, yang jelas bukan smogie –seperti kemarau panjang tahun 1997. Sekalipun kebakaran hutan masih terlihat. Hot spot masih terpantau oleh NOAA . Aku menemaninya di tengah gundukan tanah timbunan yang lapang.

Kabut turun perlahan, merendah. Kulihat Mangin merendahkan bahu. Sebuah dingin yang menyergap. Sebuah dingin yang juga aku rasakan. Mangin terduduk di atas terpal. Dan aku mencoba mencarikan kopi panas untuk kami berdua. Melangkah melintasi barisan mahasiswa baru dalam lingkaran api unggun, dan sebuah orasi perenungan terdengar. Dan kutemukan yang dicari di dapur umum. Tungku yang masih menyala dengan teko mengepul uapnya. Banyak persediaan yang ada, aku dan Mangin hanya butuh seduhan kopi dua gelas.

Hirupan aroma kopi rakyat menemani kami dalam obrolan mengenangkan kehausan panjang ketika pengembaraan Serelo kemarau panjang 1997. Kemarau, pembakaran hutan, 11 perusahaan dinyatakan bersalah. Kami hanya bersendagurau, dibalik keseriusan pendidikan mahasiswa baru. Tentu saja, kami berada jauh di luar lingkaran.

“Mangin, lupakah kita, ketika itu, hanya kabut -seperti sekarang juga. Kau panjat pokok tertinggi, mencari arah bukit?”

Bibirnya tak mengeluarkan jawaban. Hanya gelak kecil.

.. Alpakah engkau? Bersama kita menyeruput kopi hangat. Tak kita sisakan bibir untuk meniup. Betapa terbakar lidah tak lebih berharga dibanding kehilangan satu derajat kopi yang baru kita curi dari petani yang telah bertahun dirampok?
(Sumber; Kutunggu Di Selatan; Sajak AMM)

Dia mencoba mengalihkan perhatian, dengan menyebutkan bahwa kabut yang dihadapi saat itu akibat pembakaran hutan untuk keperluan perluasan lahan perkebunan skala besar dan Hutan Tanaman Industri, dan bukan kabut seperti malam ini.

Pembicaraan ini bukanlah sebuah hal aneh. Toh, kebakaran hutan dan lahan bukanlah suatu masalah baru yang muncul dalam kancah lingkungan hidup, sudah sejak dekade 70-an permasalahan ini menjadi momok. Berbanding lurus dengan memburuknya kondisi hutan.

Banyaknya perkebunan skala besar dan pemberian Hak Pengusahaan Hutan mempercepat laju deforestary hutan. Mencapai dua koma empat juta hektar setiap tahun. Permintaan industri kayu sebesar tujuh puluh juta meter kubik pertahun, memaksa produksi hutan di luar ambang batas. Padahal kemampuan hutan Indonesia hanya dua per tujuh dari permintaan tersebut, artinya lima puluh juta kubiknya adalah produksi illegal. Hutan-hutan yang terdegradasi juga menyebabkan turunnya kesimbangan ekologis, hilangnya kelembaban mikro. Berimplikasi terhadap rentannya kebakaran hutan.

Dalam gelap kabut Mangin kulihat merogoh daypacknya. Katanya mencari batang pensil, yang selalu menemaninya kecuali ke kamar mandi. Karena di kamar mandi tak bisa ia berkonsentrasi belajar membuat sketsa dan ber-mural.

Harus ada pengganti surat untuk Dinda yang hilang entah kemana. Mungkin tertinggal di pojok gelap kamar kerjanya. Kutawarkan pulpenku, Dia menolak. Dia lebih menyukai pensil. Berbongkaranlah dia mencari di kantung-kantung tas. Dan tak lama sebatang pensil di selipan jari tapak tangan kanan. Sempat dia menyerigai tersenyum.

Dalam dingin kabut fajar, kulihat Mangin terbakar oleh sesuatu yang aku tak faham. Dadanya? Entah, tapi berimbas timbul sebuah energi baru baginya untuk menuliskan sesuatu, pada kertas, pada malam, pada kabut. Mangin menghirup hangat El Nino.

Sambil dia tengkurap menghadap nyala ranting, kami melanjutkan pembicaraan kebakaran hutan dalam tigapuluh dekade terakhir. Paling besar terjadi di Kalimantan Timur pada tahun 1992 sampai seluas 3,5 juta hektar. sebanding lima puluh enam kali luasan darat Singapura. Terulang lagi lima tahun berikutnya. Jadilah Indonesia sebagai eksportir asap terbesar di dunia.

Habitat orang utan, pongo pygmaeus pygmaeus, habitat homo sapiens, terbakar dalam nyala yang melukai. Kebakaran hutan dan lahan tahun 1997 mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar 56,5 triliun rupiah. Saat itu kami membayangkan sedang menumpukkan uang logam seratus rupiah dengan tebal sekitar dua milimeter.

Tertumpuk lima ratus enam puluh lima milyar keping. Terpancang menara keping receh setinggi satu juta seratus tiga puluh ribu kilometer. Padahal di keping uang logam seratus rupiah yang sedikit lebih tipis, versi 1978 tertulis jargon “HUTAN UNTUK KESEJAHTERAAN”.

Peristiwa yang sangat memprihatinkan ini telah meyebabkan terbakarnya 31.000 hektar hutan produksi, 4.374 hektar hutan lindung, 2.078 hektar hutan suaka alam, 835 hektar hutan taman nasional, 50 hektar hutan taman raya, dan 25 hektar hutan alam lainnya.

Orang-orang terlihat sibuk. Di jalanan Palembang aktivis lingkungan membagikan masker ke anak-anak sekolah. Di mana-mana juga seperti itu. Sultan Mahmud Badarudin II, sebuah bandara, sempat di tutup. 2000 penderita ISPA. Perahu ketek tabrakan di dekat Pulau Kemaro. Kendaraan antri dalam jarak pandang kabut satu meter di Lintas Timur Sumatera. Gugatan kepada 11 perusahaan pembakar hutan dan lahan di gelar. Rimbo sekampung hangus sepertiganya. Kris Biantoro membuat serial Kemilau Mutiara Hijau.

“Sumatera Selatan sendiri dengan sisa luas wilayah hutan lima juta hektar juga tidak lepas dari kemungkinan terjadinya kebakaran hutan.” Kata Mangin.
“Oh, ya?”
“1997 lalu Kantor Wilayah Kehutanan menyebutkan jumlah hutan yang terbakar mencapai enam ribu lima ratus empat puluh tiga hektar, dan dua ribu hektarnya disebabkan oleh perkebunan besar sawit dan HTI serta HPH.”

Jika kubaca lagi dokumen di komputer Mangin, dilihat ke belakang dari tahun 1994, untuk aras Sumatera Selatan jumlah luas hutan terjadi trend menurun, waktu itu dari 178.293.07 areal terbakar sembilan puluh persennya dalam kawasan hutan. 1995, 10.585,58 ha areal terbakar enam puluh tiga persen kawasan hutan. 1996 dari 12.070,01 ha areal terbakar sembilan puluh delapan juga.

“1997, bukan mustahil terulang lagi. Data kehutanan sumsel jumlah status hutan yang terlambat reboisasi adalah seluas lebih dua setengah juta hektar. Kondisi ambang yang menghawatirkan karena rawan kebakaran,” Mangin menegaskan lagi bacaanku.

Mangin merapatkan sweater, Kutinggalkan dia ketika hendak menulis.

Yang kukirim bukan surat, bukan kartu post.
Tapi Pamflet.
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 57)

Kabut masih saja mengepung ujung kepalanya, dan jika saja dia paksakan untuk menyundulkan kepala di tipis kabut kesegaran penuh akan merangkulnya lebih dalam. Tapi, Apakah kabut ini bukan smogie? Lalu mengapa Mangin bingung membedakannya ; bingung membedakan perasaannya sendiri?
***bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Sesobek Buram
Mangin sobek blocknote bekas sebuah kongres, mulai menggerakkan pensil di sisa nyala api di tumpukan potongan dahan. Setelahnya, menjelang pagi setelah melantunkan beberapa rhapsody tentang pagi bersama permainan gitar Hotma dia serahkan kepada Dinda.

Dinda melipatnya dan menyimpan di saku kemeja. Karena sempat mendengar bisikan Mangin, HANCURKAN SETELAH DIBACA.

Terus terang saja Mangin direndam rasa gelisah. Kuyuplah dia. Untunglah Dinda tak membaca apa yang diucapkan mata Mangin.

Mencintamu adalah kenistaan
Tak berani kunyatakan
Tak nyata kuucapkan
Karena ini bukan kegelian
(Sumber; SAJAK MAMBU; AMM)

Memalukan sekali. Buram seburam potret yang ditulis ulang oleh Mangin sendiri tadi petang.

Suatu hari pada zaman kompeni. Dibukalah Perkebunan Teh oleh Belanda. Karena secara hukum masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan milik para “kompeni”, petani yang semula mengolah lahan kebun teh tersebut mencari lahan jauh dari perkebunan. Lereng pebukitan.

Invasi Jepang, Belanda pergi. Indonesia merdeka, masyarakat merebut kembali tanah perkebunan, mengganti dengan kopi. Sisa perkebunan teh dapat dilihat dari tanaman teh yang dipelihara oleh masyarakat Talang Pasar Raya. Umur kopi dapat dijadikan tolak ukur, bahwa umumnya talang dibuka dalam kawasan pada dekade 1950 -1960.

Menurut salah satu responden, setelah pengusiran oleh kompeni terulang lagi di zaman ini untuk peruntukan suaka marga satwa. Apakah lupa, bahwa yang harus dilindungi juga sekumpulan satwa lain -yang oleh Tuhan diamanatkan menjadi khalifah di muka bumi–; homo sapiens? Padahal sebelum pengusiran di wilayah Talang Gajah yang berbatasan dengan wilayah Lampung sudah kurang lebih 600 KK. Ini bukan talang lagi jangan-jangan, tapi sebuah dusun?

Petani di sini memiliki lahan dengan beraneka pola, membuka sendiri (sejak jaman Belanda ataupun dengan peraturan Bacong Alas pemerintahan Marga), ganti rugi (dari eks transmingrasi tahun 1988 sampai 1991), ganti rugi langsung dan dengan persyaratan (kasus talang Domo dan Talang Damar Asam) dan ganti rugi dengan suatu persyaratan bagi hasil pengelola dan pemilik yang pada umumnya bermukim di luar kawasan. Pembukaan lahan dalam kawasan dilatari ketergantungan ekonomi. Walaupun ada alasan lain yang tidak pernah terucap, yaitu tanah subur tanpa pupuk.

Sebenarnya masyarakat dalam kawasan tahu di dalam kawasan tidak diperbolehkan untuk dilakukan segala aktivitas, baik pertanian, perkebunan, perburuhan dan penebangan kayu. Ketakjelasan batas (patok kuning, patok paralon dan patok putih) karena selama ini anggapan meraka patok kawasan adalah patok BW (Bose Weisen) jaman Belanda, harapan dari oknum aparat desa, kehutanan dan militer yang mengambil pungutan dari tahun 1992 sampai 1998, atau anggapan mereka merupakan lahan ganti rugi, warisan ataupun hak bacong alas yang telah ada sejak Jaman Marga.

Tidak adanya penerangan, kerjasama dan tak ada pelibatan partisipasi rakyat untuk perencanaan kawasan, yang ada hanya paksaan dan intimidasi. Setiap orang yang datang mereka selalu beranggapan sama, selama ini setiap diminta berkumpul yang ada hanya larangan, kekerasan dan perasaan was-was, kalaupun tidak adalah Janggolan (yaitu pungli dari aparat yang tak bertanggung jawab, dimana setiap panen dikenakan 150 kg per bidang tergantung dari jarak lahan, luasan, siapa yang punya serta kedekatannya pada aparat tersebut). Mereka tahu resiko dari pengarapan lahan di daerah kawasan, walaupun kalau ditanya ada yang menjawab pasrah (antara di usir dengan tetap bertahan), alasannya mereka hanya untuk mencari hidup.

Oalah. Kulihat dia tetap saja tercenung dalam paginya menuju pulang ke rumah dari lokasi kegiatan.
“Mangin, aku pulang duluan!”
“Hei, tunggu dulu!”
Aku sudah meloncat ke sepeda motor Hotma.
***
Rumah Jatam, 17 September 2001. 04; 36 WIB
bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Tiga
…Tiga, dua, satu.
Mangin mulai masuk hitungan mundur menuju kehidupan yang mulai membuat dia jijik dengan diri sendiri. Biasanya hari-hari dilalui dengan membaca fenomena pembangunan, menulis report, mendikusikan peminggiran hak rakyat, paling tidak membuat kertas daur ulang dll. Mangin mulai masuk jebakan romantisme. Ya serabit!

Sangat tak masuk akal kalau Dinda mampu membuat Mangin terhenyak sedemikian dibanding bencana ekologis dan bencana kemanusiaan manapun. “Bunuh diri saja, Kawan!” Nasehat Sotong suatu ketika. “Daripada kamu jadi dungu, tongop.”
“Kacus!”
“Ha, ha, ha,…..”

Ya, setiap orang apakah memang harus menjadi dungu ketika jatuh cinta? Sementara banyak yang harus aku kerjakan; aktivitas tambang dan ancaman ekologis sudah memprihatinkan dibanding patah hati sekalipun. Perizinan tambang sudah dikeluarkan sampai angka yang sangat tidak rasional. Total luas perizinan yang diberikan pada akhir tahun 1999 telah hampir mencapai enampuluh persen dari luas daratan Indonesia. Untuk 668 Perusahaan Kuasa Pertambangan dengan luas 48.363.263,09 hektar. Ditambah 105 Perusahaan Kontrak Karya seluas 50.130.440 hektar, 116 Perusahaan PKP2B dengan luas 110.157.748 hektar. Basta!
(Sumber: Buku harian Mangin; Halaman 60)

Aku sering mengingatkan dia, daripada membuang masa hanya kerena perempuan, kuceritakan beberapa data statistik yang malah mungkin boleh jadi dia telah lebih dulu tahu. Sampai tahun 1994 terdapat 2.138 izin pertambangan galian C yang dikeluarkan oleh daerah dalam bentuk SIPD . Bahkan terlihat adanya kecenderungan, perusahaan pertambangan mulai melakukan ekspansinya untuk membuka pertambangannya didaerah kawasan hutan lindung dan konservasi. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan angka 11,4 juta ha hutan alam yang akan dikonversi menjadi kawasan pertambangan.

Jika dihitung-hitung, kontribusi industri pertambangan untuk negara sangat rendah, antara tahun 1993 – 1995 misalnya hanya berkisar antara 2,54 – 2,92 % dari pendapatan kotor domestik (PDB). Anehnya, industri keruk yang begitu destruktif masih menjadi primadona bagi negara. Secara sistematis pemerintah berupaya mempertahankan eksistensi pertambangan di Indonesia. Bahkan dengan berani menggadaikan nasib generasi mendatang; kehancuran lingkungan hidup; penderitaan masyarakat adat; menurunnya kualitas hidup penduduk lokal; meningkatnya kekerasan terhadap perempuan; dan kehancuran ekologi pulau-pulau.

Dan Mangin masih saja terpana oleh betina. Ya, serabit! Sekalipun tidak selalu berarti romantisme menghambat revolusi. Tetapi sejarah mencatat kejadian buruk yang banyak atas itu. Saat ini kalau diajak berdiskusi mengenai encaman ekologi akibat pulping Indonesia, Mangin paling bilang,…

Ya, begitulah kanak-kanak
Membentuk burung-burungan, kapal terbang, kapal laut -teman prajurit berkaki satu,… dengan selembar kertas.
Dan orang dewasa,… Dalam tertawa melipat dunia, memperkosa hutan, melipat-lipat sawah, ladang, huma,… sungai dan perahu nelayan, menyumpal teriakan orang kampung, demi sepotong kertas.
(Sumber; Sajak Sepotong Kertas; AMM)

Mestinya Mangin ingat lagi, bahwa hingga tahun 2001, Departemen Kehutanan telah mengeluarkan izin HPH sebanyak 355 meliputi luasan 38.025.091 ha; HTI sebanyak 175 dengan luasan 7.861.251 ha . Sedangkan di tahun 1997, perijinan yang telah dikeluarkan untuk Perkebunan Kelapa Sawit sebanyak 612 dengan luasan 8.700.000 ha , belum lagi industri pertambakan, perkebunan karet dan lain sebagainya.

Sebagian yang cukup besar diperuntukan sebagai suplay kayu terhadap industri pulp dan kertas di Indonesia. Dan semuanya kental dengan nuansa perampasan. Mangin tak boleh lupa bahwa sampai saat ini ada 186 kasus sengketa lahan rakyat yang berhadapan dengan pemodal yang mengelola Hutan Tanaman Industri, perkebunan skala besar, industri, dan tambang, tak tinggal pula pemerintah daerah.

Mangin masih saja terhenyak. Kacau. Mambu. Hanya bimbang yang singgah dera jiwa…
***

Omerta
Matahari menjelang padam. Daun jendela belum tertutup. Membuka lawang sisa hangat matahari. Larik cahaya yang masih menerpa kisi jendela, mewarnai ruang tengah, sebuah bengkel kerja bersama rumah kost.

Mangin fokus di depan komputer. Menyerahkan sorenya pada sebuah dokumen yang pasat dia baca dan menyentuh keyboard sewaktu-waktu. Speaker Hagi mengeluarkan bunyi dari mp3 yang sengaja diaktivkan. The Police.

Selepas magrib. Tapi kost-an yang selalu ramai dengan diskusi itu sepi saja sore ini. Tinggal dia dan Minda yang dari tadi mengganggu kerjanya karena cuma ingin main games. Mangin sedari tadi tak mempedulikan. Perhatiannya hanya pada monitor komputer, kopi dengan mug yang belepotan ampas, serta potongan pisang tembatu goreng.

“Kau pasti sedang jatuh cinta?” todong Monda tiba-tiba. Hampir saja potongan terakhir pisang tembatu goreng lepas dari jepitan gigi Mangin. Tapi Mangin pura-pura tak mendengar, The Police berdendang Every Breath You Take. Suara Sting memenuhi lubang telinga lelaki Mangin. Dan memang Mangin tak ingin suara Sting terganggu oleh pertanyaan Monda.

“Ayo ngaku?” Monda menyergapnya lagi. Mangin tetap tak menjawab. Malah berkoor dengan Sting. “. Ill be watching you…!”

Monda mempermainkan bandana merah di kepala Mangin. Mengacak-acak kepalanya. Kepalanya menghalangi tatapan Mangin ke monitor komputernya.

“Ada apa sih, nggak biasanya reseh begini? Belum sholat?” Mangin mencoba meraih mug kopinya. Kepalanya mulai dibuat pusing oleh ulah Monda. Dia menjauhkan diri dari meja kerja. Memaksakan diri menatap Monda yang memang kalau lewat maghrib sangat sering mengacau pekerjaan siapa saja.

“Mau ngaku, nggak?!” Tatapan gadis kecil tukang usil di kost-an mereka memainkan pikiran Mangin.

Mangin merapatkan giginya. Lalu menjilat bibirnya yang lengket sisa minyak pisang goreng.

“Apa yang harus akui, Miss Monda?”
“Kau lagi jatuh cinta, Kan?”
“Kau peroleh dimana pertanyaan yang mambu model begitu?”
“Mambu? Ha ha ha,… Diam nggak menyelesaikan kebimbanganmu, kan?”
Mangin malah mendekati komputernya lagi. Memilih mendengar Deep Purple,… sometimes I fell like screaming. Monda malah merampas mouse. Memilih lagu baru, you’re the inspiration milik Chicago. Mangin membiarkannya. Merelakan tiga menit empat puluh satu detiknya diisi lagu pilihan Monda. Dan bernyanyi keras-keras.

“Tuh, kan?”
“Reseh! Meringam!”
“Ai cacam, Mangin. Aku nggak pernah lihat kau sebimbang ini. Sebentar-sebentar membuka file komputer. Sepertinya kau mulai sok puitis, ha ha ha. Lucu, apakah keharusan seorang yang jatuh cinta cenderung sok menjadi pujangga? Ha ha ha, lucu sekali.”
“Belum pernah melihat aku seserius ini?! Kamu kok, malah lucu sekarang?”

Monda diam. Jemarinya memainkan pensil. Mengetuk-ngetuk barisan giginya. Terbersit juga rasa kasihan Mangin atas penasaran Monda.

“Oke, ku kasih tahu. Tapi,…”
“Tapi apa?” Terlihat sekali perubahan warna muka Monda. Girang.
“Buatkan aku kopi lagi. Cepaaat!”

Monda berjingkrak tertawa menang menuju dapur. Dari balik dapur terdengar dentingan gelas beradu sendok. Ada suara kucuran air. Lalu sosok Monda dan satu mug baru berisi teh yang baru di sedu. Aromanya merayap ke setiap ruang kosong di rumah kost. Menabrak dinding kapur. Mungkin menghinggapi pula poster seorang yang mengepalkan tangan kiri.

“Kau mau tanya apa tadi?”
“Kau lagi jatuh cinta, kan?”
“Ha ha ha,….Pertanyaanmu itu kontra revolusi, Monda. Kenapa nggak kita diskusikan saja persoalan 186 kasus perampasan lahan di Sumsel, atau persoalan bus mahasiswa Universitas Sriwijaya yang tak pernah kelar?”
“Eiit, tadi kan sudah janji. Lagi pula persoalan yang kau sebutkan tadi adalah wacana yang selalu kita diskusikan selama ini. Dan aku protes kalau pertanyaan itu dianggap kontrev. Kan, kau dulu yang sendiri yang pernah bilang kalau revolusi itu sendiri adalah mencintai?”
“Bukan aku sendiri yang berkata demikian. Preire, Che, bahkan masih banyak yang lain. Camus pun pernah bilang bahwa pemberontakan adalah kreatifitas. Dan kau pasti mampu menarik relasi antara kreatifitas dan cinta.”

Mangin menarik mug yang ditaruh Monda di meja kayu dekat tumpukan kertas re-use.

“Ya, okelah! Tapi pertanyaanku harus kau jawab.” Monda setengah memaksa.
“Pertanyaan yang mana lagi?”
“Akui saja kalau kau sedang jatuh cinta!”
“Dengan siapa?”
“Sumber inspirasimu saat ini. Yang kau sering lantunkan…”

‘Lebih baik berbuat dosa, dari pada aku mengakuinya,’ dalam hati Mangin berkata. Tapi dia hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum saja. “Aku hanya sedang konsentrasi pada sebuah naskah ini saat ini.”

Mangin menyodorkan sebuah print-out dokumen. “Baca dan kritisi. Tak ada urusan dengan kegelian seperti yang kau sebut tadi. Buat aku tawarkan pada seorang kawan penerbit, selepas aku dari Bogor.”

Monda menerima lembaran naskah novel yang diakui Mangin belum selesai tersebut. Membuka-buka.

Mangin menjauh naik ke kamarnya. Monda mengikuti. Mengosongkan black ranselnya. Buku catatan kuliah, terlempar-lempar ke ujung meja. Baju kaos kumal selanjutnya. Lalu ke luar sebentar ke teras kamar, menyambar saja beberapa kemeja, kaos, celana dalam, kain tajung , selembar kain panjang batik milik emaknya. Semuanya tergulung dan dimasukkan saja ke dalam ransel. Diikuti beberapa buku bacaan, buku catatan, pensil, sikat gigi, odol.

“Berangkatnya, kapan?”
Pertanyaan Monda menghentikan sementara kegiatan Mangin.
“Besok malam.”
Mulut Monda membentuk hurup O, lama tapi tak bersuara. Melanjutkan lagi bacaannya. Lembar-perlembar sesekali hanya terbuka sekilas.
“Pesan terakhir?”
“Jangan titip oleh-oleh, dan jagain…”
“Dinda?”
Mangin tak bersuara.
“Sok tahu?!”
“Dasar sok misterius. Omerta! Kamu lagi jatuh cinta, kan?”
***
bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Belay On!
Aku tahu Mangin akan berangkat malam ini. Dengan Kereta malam, pukul sembilan. Dan biasa, tak ada yang istimewa mengenai sebuah keberangkatan antar kami, tak terbersit niatku mengantarnya. Demikian juga dia. Repot, jika aku harus mengatarnya, yang memang tak pernah menetap untuk tidak pergi kemana-mana.

Baru saja aku hendak pergi makan malam, ketika Monda mengendap masuk kamar Mangin. Serta merta dia sudah menutup hidung, karena kamar yang tidak pernah terawat. Sprai tetap seperti semula, acak-acakan sejak tadi pagi. Tidak terganggu. Aku terpaksa membuka daun jendela, supaya angin menipiskan aroma khas dari ruang semedi Mangin dan sekaligus sanggar seniku.

Angin membawa bau kuntum-kuntum kenanga di dekat pot heliconia. Kalau pagi kolibri terlihat mengecup kuncup-kuncup heliconia yang masih berembun. Tapi malam ini berbau kenanga.

“Agak lumayan,” Monda berkomentar.
Tak jelas apakah Monda memuji bau malam atau entah apa.

“Cun, kamu tahu apa yang terjadi dengan teman sekamarmu?”
“Tahu.”
“Ceritakan.” Lagunya seperti memerintah.
“Dia sedang tersiksa di kamar mandi.”
“Oh, ya?”
“He’eh, katanya kopi bikinan kamu bikin mules.”
“Huuuu, bukan itu goblok.”

Enak sekali Monda berkomentar. Datang datang-datang langsung memberi stigma goblok di jidatku. “Dasar Orde baru!”
“Eiit, apa maksudmu?!”
“Lha, yang biasa nuduh-nuduh itu, kan? Mentang-mentang tidak sepakat dicap goblok, PKI, Anti Pembangunan, Subversiv, GPK,” Jawabku. Tanganku langsung menyambar jacket.
“Hei, mau kemana. Kamu nggak tahu kalau kawanmu mulai gila.”
“Kamu baru tahu? Dia sudah gila dari dulu. Kamu ini bagaimana?”
“Bukan, uhh! Dia lagi jatuh cinta, tapi sok misterius.”

Aduh, mati aku. Obrolan di kamar ini hanya berkisar di issue itu. “Nggak tahu, dan nggak mau tahu.”

Monda seperti kecewa. Tangannya memukul-mukulkan gulungan kertas di tangannya.
“Mon, berkas apa itu.”
Dia menyodorkannya padaku. “Ini draft novel yang lagi dikerjakan Mangin. Tentang pemanjat tebing.”
Aku membaca covernya. Belay, On! “Apa katamu tadi?”
“Aku lagi diminta mengkritisi draft ini oleh Mangin. Katanya ini novel baru dia.”

Dasar plagiat. Pembohong. Enak saja dia mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya. “Asal kau tahu, saja Monda. Belay, On! Adalah milik aku. Tak ada sejarahnya Mangin menulis novel ini.”
Aku pergi berlalu begitu saja. Aku mau tertawa, dan lapar.

“Mangin! Ngaku!”
Aku mendengar teriakan Monda dari teras.
***
bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Empat
Empat kuntum bunga Bunga merawan digenggaman. Empat hari sudah dia meninggalkan Palembang. Ketika empat kali Mangin membaca ulang terus menerus surat singkat yang diterima entah beberapa bulan lalu. Tak ada yang berubah. Tak istimewa istimewa. Hanya lambang kelelawar yang menjadi tokoh kartun Detroit Comics. Batman.

Kertas bekas, tepatnya kertas kerja ujian Metode Ilmiah Mangin sendiri. Mata Kuliah yang kusuka, dan tak kuperoleh nilai apapun, kecuali kalimat “TIDAK AKTIF” di lembaran DPNA. Masalahnya, jam kuliah itu dihabiskan Mangin untuk berdiskusi dengan Bang Muhai, yang cakap dalam metode ilmiah.

Surat lama yang selalu tersimpan di selipan buku catatan. Di balik tulisan pencemaran 56 orang mabuk gas amoniak PT Pusri tanggal 29 September 2000, kebakaran Sungai Kelekar oleh tumpahan minyak mentah Pertamina OEP Prabumulih, dan perampasan tanah di Rimbo Semangus.

Sial. Bayangannya muncul terus. Ingin kubuat dia berada di balik bayangan Hujan. Berada dalam tirai tetesan membekukan. Lalu dia menjadi cahaya. Dia menjelma bintang. Sekalipun tak kupercaya bintang adalah bintang. Perjalanan sebuah bintang menuju mata manusia di kulit bumi dalam jutaan tahun cahaya. Artinya aku tertipu jika meyakininya, pesan bintang sampai ke mata sementara dia telah jauh berjalan. Dan Dinda, Dia menyendiri di tirai hujan. Tak ada bintang lain. Maafkan, kawan.

Dinda, kan aku sudah kirim kartu post,… selamat tidur, ya. Aku juga mau tidur. Sudah ah, jangan muncul terus. Tak jewer idungmu!
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 88)
* * *

Bunga Merawan; Da Vinci, Energi
Mangin memutar kuntum-kuntum bunga merawan. Sebenarnya bukan bunga, tetapi buah yang bersayap. Mengangkat tinggi dengan berjinjit. Hanya lima jari kakinya menyentuh lantai ubin. Melepasnya satu-satu. Meluncur pelan, karena dalam kondisi normal hanya dibutuhkan satu centi meter vertikal ke bawah bagi bunga bersayap ini untuk mencapai 1 kilometer horizontal. Tak terbayang betapa mudahnya mencapai Jakarta dari Puncak Gunung Dempo.

Tak mesti menghabiskan begitu banyak bahan bakar fosil yang terbakar menjadi karbon di udara. Tak harus melubangi ozon.

Bunga merawan, mengingatkan pada Profesor Seno dan Da Vinci. Da Vinci pernah membuat rancang bangun helikopter dengan baling-baling yang sangat mirip dengan helai sayap biji merawan. Seno -dengan mahasiswanya- justru terinspirasi oleh sayap biji mahkota bunga merawan untuk terbang jauh. Tapi siapa yang mau mengembangkannya di negara yang dililit utang dan tak mampu lepas dari jeratan intervensi negara dan lembaga pemodal seperti ini.

Untuk mengatasi krisis energi di Pulau Jawa sendiri –ya Mangin memandang bahwa hanya Jawa karena 76 persen kebutuhan energi Indonesia dihabiskan oleh Pulau Jawa– harus tunduk pada kebijakan aras global untuk melakukan restrukturisasi energi. Harus mengutang kepada Bank Pembangunan Asiakah?

Kuntum pertama menyentuh ubin di sudut tempat Alfred biasa menaruh bara aromatic insence. Tepat di tengah segi empat ubin. “Sempurna!” teriak Mangin.

Dia menjumputnya lagi, menjinjitkan kaki. “Bawalah jauh mimpiku. Kususul engkau dengan kekuatan yang sedang kukumpulkan saat ini. Karena benar ada krisis energi jika kau tahu, hu!”

Krisis energi? Demikian terus yang dipertanyakan dalam dialog imaginer yang memenuhi ruang dialektis Mangin. Angin yang menerobos kisi krei jendelanya, matahari yang sempat jatuh di pot heliconia, tetes tumpahan air kotor di gelas yang baru saja dibuangnya melengkukkan sebentar helai pelepah heliconia, menggoyangkan anakan rumput teki di bawahnya. Sampah padat yang masih terlihat nyala bakaran di ujung taman kecil kamar kerjanya.

Semuanya energi. Hanya saja, orang melihat bahwa energi adalah listrik, dengan kacamata komoditisme. Banyak yang tahu bahwa angka subsidi listrik mencapai 4,7 Triliyun Rupiah. Betapa besar pemborosan yang dibiarkan terjadi. Padahal penikmatnya bukanlah masyarakat kelas bawah, yang kesehariannya hanya memanfaatkan listrik untuk keperluan penerangan dan mungkin televisi atau radio.

Boy kecil bermain playstation, menyeduh susu dari dispencer, sejuknya kamar ber air conditioner, lampu kamar terang benderang.

Terang nyantak lampu wadah pelesir. Gelap keleman Talang Air Kunyit, Bocah Dulah, Kanak Binar, Budak Denan dan kawan-kawan bermain petak umpet di tengah sedu sedan obor kurang minyak tanah. Bersama senyum purnama.
(Sumber; Sajak Terang II; AMM)

Mangin menghentikan tingkahnya. Bunga merawan tergeletak di meja komputernya. Sherina bernyanyi di MP3 dalam 5 menit 22 detik,…. terbang dengan balon udaranya. Tangan Mangin menggerakkan mouse.. Start Menu > Program > Office 2000 > Microsoft Word.

Menuliskan sesuatu yang berkecamuk.
Dinda, mengapa sedemikian banyak energi yang harus kukumpulkan untuk mengakui semuanya. Karena ini bukan khayali. Jika kupakai saja energi yang ada bagaimana? Oh apakah aku butuh subsidi energi.

Padahal, subsidi untuk listrik tahukah kau, Dinda? Meningkat sejak 1998 mencapai 2001 menjadi 4,7 Triliyun Rupiah. Dan kuceritakan untuk membangun pembangkit listrik Nang Seno; Ulir Sumbu Tegak hanya paling tinggi 25 juta rupiah. 450 Watt sampai 2500 Watt dibangkitkan. Taruhlah energi ini menuhi kebutuhan 50 Kepala Keluarga di pedusunan. Berapakah pembangkit ini dibangun dengan dana subsidi? Berapa kekuatan energi dibangkitkan? Berapa jumlah desa terterangi? Hanya dengan merangkul kekuatan angin yang selalu dihembuskan alam.

Dinda, untuk membangun pembangkit listrik swasta milik 27 IIPs, berapa banyak energi fosil harus diperkosa. 11 IPPs menggunakan batubara sebagai bahan bakar. 6 menggunakan gas alam dan 9 memakai panas bumi. Ada satu memanfaatkan air , tapi dia harus dibisikkan supaya tak membangun dam yang menenggelamkan rakyat selayaknya Kedung Ombo.

Dinda keduapuluh tujuhnya adalah utang luar negeri.
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 79)

Ruangan yang panas. Kopi yang tak lagi mengepul, ampas di bibir mug. Entah apakah tulisan ini akan juga diserahkan kepada Dinda untuk dibaca. Tetapi mengenangkan Dinda adalah mengenangkan dunia pendidikan juga. Mengenangkan kampus. Mengingatkan Seno tua, Da Vinci, dan bayangkan jika saja pemborosan dana negara tak terjadi dan mampu membangun pendidikan total, total education pendidikan yang membebaskan menuju keutuhan manusia sebagai umat terhormat di bumi maka Da Vinci tidak akan hanya satu, Seno tak hanya ada di Sambisari.

Dan restrukturisasi adalah juga ancaman dunia pendidikan. Karena implikasinya terhadap nasionalisasi utang luar negeri juga membuat penyunatan bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak lainnya, pendidikan, kesehatan,.. Waduh, tanpa itu pun telah terjadi semuanya.

Oh, dunia tak semuda bermain ular tangga.
***
bersambung
Rumah Hijau, 10 Oktober 2001; 04.06

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Lima
Lima belas ribu perak lagi sisa rekening di ATM. Bagaimana Mangin bisa pulang, pergi dari ibu kota negara yang panas ini. Panas suhu, panas konstelasi politik… Mengutang lagi?

Mangin teringat Kantata Takwa ;.. menghutang lagi-lagi menghutang,… tahu tahu menipu. Walaupun lagu itu tak disindirkan baginya –lebih tepat untuk pengutang luar negeri yang tak tahu urusan. Padahal saat ini, utang luar negeri Indonesia mencapai 150 M yu es dollar. M-nya dibaca milyar.
M-I-L-Y-A-R.

Belum ditambah dengan obligasi yang nyaris setengahnya dan kredit ekspor yang ditalangi pemerintah. Akibatnya, Indonesia rentan terimbas krisis moneter. Padahal itu lebih dikuasai utangnya bank swasta yang ditalangi, di-bail-out oleh BLBI yang ‘budiman’ hingga utang para konglomerat harus jadi utang khalayak.

Memikirkan itu, jadi berat Mangin mengajukan pinjaman ongkos pulang dengan Asan. Lagi pula dia dalam rencana menikah.

Dinda muncul lagi. Walau cuma bayangan. Sebuah siluet saat sengeng yang terkadang muncul. Mungkin lebih baik Mangin turuti nasehat kawannya, Sotong. Bunuh diri. Bunuh diri kutakut neraka, menangis tidak bisa, “Diamlah Sawung!” Mangin memaki radio di ruangan Mai.

Mangin melipat kertas menjadi kapal kertas, ditiup ekornya yang beri tandatangan, melayang tak tentu arah. Berputar tapi gagal mencapai WTC.

Dinda, Kau tahu sebuah rahasia.
Aku mencintamu.
Bukan sekedar origami
Sesukar membangun letupan revolusi
(Sumber; R E T II, Sajak AMM)

Syukur, tak lama setelah itu bayangannya pergi. Tapi Mangin sudah antisipasi. Mangin harus mengalihkan perhatian kepada es teh di depannya.

Dan Patty yang menyeruput lewat sedotan. Bunyi seruputan yang meliurkan, butir-butir embun yang menempel di sisi luar mug. Perbedaan tekanan pada permukaan air teh dan rongga mulut Patty di tambah energi hidrolik menaikkanes teh, mengalir turun melalui kerongkongan. Mengalir saja.

Siang lewat dengan sempurna setelahnya. Mangin dapat melanjutkan perjalanan imaji dengan membaca kasus Submarine Tailing Disposal. Lebih lengkap inilah; STD adalah teknologi murah dan
merusak yang sedang ‘menyerbu’kawasan Asia-Pasifik. Diduga kuat kawasan itu kembali dijadikan ladang uji coba teknologi murah yang menguntungkan negara-negara utara tapi berlindung dibalik investasi yang seolah menguntungkan negara-negara Asia-Pasifik.

Peristiwa menakutkan itu pernah terjadi saat uji coba senjata nuklir untuk perdamaian di tahun 1960-an. Di Indonesia ada dua perusahaan yang menggunakan STD, Newmont Minahasa Raya dan Newmont Nusa Tenggara, keduanya anak Newmont Corporation yang berpusat di Denver, Amerika Serikat.

Berbagai argumentasi di kedepankan kedua perusahaan ini, sehingga pembuangan limbah tambang ke laut mendapat ‘pembenaran’ hukum dan ilmu pengetahuan. Selain Newmont, diduga kuat Meares Soputan Mining di Sulawesi Utara, Weda Bay di pulau Halmahera, BHP dan Antam di Pulau Gag Ingold di Pulau Haruku, dan Banyuwangi Minerals serta Jember Metal di Jawa Timur akan menggunakan STD dalam operasi tambang mereka.

Padahal Newmont telah menimbulkan dampak serius bagi lingkungan hidup laut dan pesisir di lokasi mereka beroperasi. Belum lagi negara Filipina, Papua Nugini, New Caledonia, Fiji, Solomon Islands telah dan akan menggunakan cara STD untuk membuang ampas tambang yang beracun.

Mangin membuka e-mail seorang kawan yang mengirimkan media on-line, sebuah dokumen deklarasi sebuah pertemuan; “Kami percaya bahwa pembuangan tailing ke dasar laut berbahaya bagi lingkungan hidup laut dan bagi komunitas yang tinggal di wilayah terkena dampak. Di konperensi ini kami mendengar berbagai dampak pembuangan tailing ke dasar laut pada lingkungan hidup dan masyarakat di berbagai tempat, antara lain Marinduque di Filipina, di Minahasa dan Batu Hijau di Indonesia, dan di tambang-tambang lainnya di kawasan Pasifik Selatan. Kesaksian dari masyarakat setempat, ilmuwan dan pejabat pemerintah menunjukkan bahwa…”

Mangin melanjutkan bacaan, sambil duduk mengangkat kaki sebelah. sesekali menopang dagu, menyeruput kopi dalam kebingungan. Pembuangan tailing ke dasar laut merusak ekosistem pesisir yang rawan karena, menimbun organisme hidup dengan endapan lumpur atau mengusir organisme tersebut dari habitat. Menyebabkan degradasi habitat laut dan air tawar. Mengurangi keanekaragaman hayati dan mengancam keseimbangan ekologi. Menyebabkan masuknya logam-logam berat dan polutan lain ke dalam rantai makanan. Pembuangan tailing ke dasar laut berdampak seketika dan jangka panjang, serta tidak ramah lingkungan. Pemulihan daerah-daerah yang terkena dampak pembuangan tailing ke dasar laut tak mungkin dilakukan.

Mengin melanjutkan bacaan dengan sendirinya, tentulah pembuangan tailing ke dasar laut mengakibatkan dampak serius bagi kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat pesisir. Perilaku mau untung sendiri model begini, melanggar hak asasi manusia, berupa hak lingkungan hidup yang bersih dan aman. Kesehatan masyarakat terancam kontaminasi logam berat dan materi beracun lainnya, anak-anak dan kaum wanita berada pada posisi yang paling rawan.

Degradasi lingkungan laut dan air tawar, mempengaruhi perikanan dan kehidupan nelayan. Produktivitas pertanian dan perikanan menurun. Dan selalu saja konflik sosial di masyarakat muncul akibat informasi yang tak cukup dan tanpa membangun dan menempatkan partisipasi rakyat sebagaimana mestinya.

Sama saja, sama saja. Semuanya sama. Perilaku pengrusak sumber daya alam ini menimbulkan kegetiran. Maka wajar, jika siapapun melihat yang model begini tergetar hatinya, karena pembunuhan genocide boleh jadi bukan hanya di medan perang. Tapi perang juga bukan hanya terjadi di medan tempur. Oww, berapa sebenarnya harga kehidupan.

Ingin ku dengar dendang rimba
Tembang tanpa partitur
Wow, jazzy
Bersama kopi di cangkir kaleng

Maaf, numpang tanya; siapa yang tahu harga kuntum rimba?
(Maaf, Numpang Tanya; Sajak AMM)

Bla bla bla… Kawannya itu kabarnya terus saja berlari. Menolak investasi tapi tidak menguatkan instrumen negara. Dagelan apa lagi ini, dalam sejarah tidak ada organisasi yang mampu membendung arus investasi kecuali satu; organisasi negara.

Negara yang kuat. Kata Sukarno, Berdaulat dalam politik, berkepribadian dalam budaya, Berdikari dalam ekonomi. Tak akan mampu melawan kapitalisme dengan kekuatan liberal. Sedikit lagi bacaan Mangin. Setahunya Pembuangan tailing ke dasar laut di Kanada dan Amerika Serikat merupakan pelanggaran hukum, dan belum pernah di usulkan di Australia.

Persetujuan internasioanl tentang perlindungan laut pun melarang. Tapi industri pertambagan trans-nasional dan para konsultannya tetap saja gencar mempromosikan pembuangan tailing ke dasar laut. Dan memang posisi mereka berada di atas posisi komunitas korban, segala argumentasi dan testimoni komunitas korban yang didasarkan atas pengalaman atas dampak termentahkan dengan mudah.

Kami secara tegas menganjurkan kepada pemerintah dan masyarakat internasional untuk melarang STD di seluruh dunia. Kami menuntut agar perusahaan tambang dan konsultan-konsultannya :

Mengakui akibat sosial budaya dan kesehatan dari pemakaian pembuangan tailing ke dasar laut baik di masa lampau atau sekarang. Menerima pertanggungjawaban atas kerusakan yang sudah disebabkan oleh pembuangan limbah. Yang berpusat di negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Australia memakai standar lingkungan yang sama di tambang mereka dikawasan ini dengan standar yang diharuskan negara asalnya. Kami percaya bahwa membuang tailing ke dasar laut bertentangan dengan prinsip dan harapan yang terkandung dalam pembangunan berkelanjutan

Email itu diberi tanggal dan tempat Manado, Sulawesi Utara Indonesia, 30 April 2001. Mata Mangin mulai perih. Kebanyakan minum kopi, barangkali. Padahal Tuhan telah memberikan isyarat bahwa Mangin harus istirahat. Ya, Mangin harus mulai membentangkan kasur, dan bermimpi.

DINDA!!!! Kenapa muncul lagi?! Dia terlihat tersenyum.

If you loose any sleep, come to my nightmare,….
(Dalam; Ketika Waktu Itu Tiba; Draft Cerpen AMM)
*** bersambung

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Aku Mangin dan Suatu Malam

Tak banyak yang kenal Mangin sekenal aku mengenal dia. Aku paham bahkan hari ke hari kehidupannya. Bukan lantaran aku dipercayanya membaca catatan hariannya. Akulah juga seorang buku hariannya pula. Pun setiap kali ada kejadian menarik menurut dia, menyentuh baginya, menyenangkan untuknya, sekalipun menyakitkan hatinya.

Aku tahu, dari diskusi, obrolan maupun keluh kesahnya setiap hari pada setiap perbalah-bantahan kami. Kadang aku tak mengerti mengapa dia lebih memilih sebagai pejalan yang sendirian. Dalam kehidupan sederhana pun, misalnya. Tak sekali dia menunggu atau meminta untuk ditemani atau membarangi siapapun, ke pasar, ke kampus, atau ke mana saja.

Dia bisa pergi sendiri tanpa sesiapa.

Sesungguhnya, dibalik kedekatan kami, aku berbeda jauh dengan dengan dia. Dia menyukai dunia jurnalistik. Sekalipun hanya memiliki sedikit ketekunan dan pembosan. Dia menyukai bentuk-bentuk pengkhabaran secara langsung tentang apa saja yang dia temui. Sementara aku lebih suka melebur diri dalam dunia sastra. Sekalipun bukan lantaran ucapan Seno Gumira Ajidarma bahwa sastra tetap bisa berbicara ketika jurnalistik dibungkam.

Tapi beruntung aku, kadang dia mengajakku terlibat dalam kegiatannya mencari berita. Dan seluruh dokumen di komputernya dihalalkan untukku sortir, kutip, bahkan dibajak untuk memperkaya bahan penulisan karya sastraku.

Mangin terlalu malas untuk mengerjakan itu. Banyak sekali cerita pendek dia yang hanya selesai hanya sampai permulaan. Tak selesai.

Kami dulunya sama-sama pendaki gunung. Sama-sama penyuka Balada Si Roy, sama-sama penyuka Winetou. Tapi dia menemukan bentuk petualangan lain, ke kampung-kampung, ke pinggir kota, dll. Dan setiap kali kuajak ke gunung, dia selalu menolak kalau hanya untuk mendaki gunung. Dia tak bersedia ikut jika memanjat tebing hanya untuk memanjat tebing.

Perjalanan yang semata perjalanan bukanlahperjalanan
(Sumber; In Memoriam; Sajak AMM)

Entah berapa lama aku telah mengenal dia, aku sendiri tak pernah terpikir untuk mengkalkulasikan berapa umur pertemanan kami, berapa batang kretek yang telah kami habiskan dalam diskusi sejak kami belajar merokok bersama ketika di bangku kuliah.

Banyak yang bilang kami sangat akur dan cocok. Apakah karena kami lahir di bawah rasi bintang yang sama? Dia sama sekali jauh dari kesan sempurna. Malas merawat diri, sungkan mandi, susah makan, dan kuat merokok.

Tapi selalu punya alasan pembenar, “Acun, aku beritahu padamu. Bahwa setiap mahluk adalah indah. Karena keindahan adalah ketidaksempurnaan.”

Dia dan aku selalu terlibat dalam perbalah-bantahan alot setiap menjelang tidur mulai dari setelah bangun dan memulai aktivitas. Kadang aku tak sanggup mengikuti pola hidup seperti ini. Kadang aku ingin lari, jauh.

Memulai kehidupan yang sepi sebagai penulis. Ya, se-realis apapun, ketika di keramaian pun, penulis serta merta masuk ke kehidupan yang sepi ketika dia memindahkan perenungannya ke deretan abjad di atas kertas. Hieroglyph di atas batu, tapak tangan di gua gelap, surat ulu di kulit kayu, atau hijaiyah.

Suatu malam aku terpaksa meminta permaklumannya untuk lelap lebih dulu. Dia tetap saja berkeluh kesah padaku, seorang buku hariannya. “Shit!”

Menjadi pertanyaan,… mengapa aku suka, aku harus berani mengatakan padamu bahwa… aku men…. tak berani masih.

Itulah, makanya cocok kau sebut aku dengan kata PECUNDANG. Tapi kadang aku merasa bahwa setiap kita harus berani mencintai, sama halnya dengan untuk melakukan pembangkangan (terhadap) nilai-nilai yang menindas. Sangat yakin aku dengan persetubuhan mutlak antara pembangkangan, pemberontakan, revolusi dengan cinta.

Dalam dialog imajiner dengan Paulo Praire bahwa revolusi adalah mencintai, Che melakukan revolusi dengan cinta kepada nilai-nilai pembebasan, Muhammad melakukan revolusi di zaman jahiliyah juga dengan mencintai umat manusia.

Kuinginkan pun demikian engkau; mulailah melakukan pembangkangan seperti yang kita diskusikan selama ini di kantin Kang Leman dengan secangkir kopi, lakukanlah, lakukanlah saja dengan semangat bahwa kau mencintai kehidupan yang terbebaskan.
(Sumber; TentanG Pembangkangan dan Mencintai, renungan AMM)

Dalam keterpejamanku kudengar dia berdeklamasi. Seperti biasa, tak pernah malamku tak diganggu keluhannya tentang bayangan, Dinda. Makanya kadang aku lebih memilih pergi. “Lagi-lagi, Dinda!” Aku memaki.

Dia tetap melanjutkan ceritanya.

“Shit! Slamat malam!” Aku memotong. Kadang kupikirkan tentang sebuah kamar baru yang bebas dari persoalan-persoalan yang selalu harus kusantap sebelum terlelap seperti ini. Ku rindukan nenek yang suka menceritakan Langedipa, Jelihim, Rumasalit, Kude Irang, Kancil, Pandir atau apa saja.

“Acun, menurutmu bagaimana puisi yang kutulis ini?” Dia mengajukan selembar kertas buram.
“Diamlah, Jangkrik!”

Dia tetap saja merayu. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal terhadapnya. Kalau saja kami menyimpan obat tidur sudah kuracuni dia sampai tidak bangun seribu tahun. Dan aku maupun dia tak pernah menyimpan apalagi memakai racun serangga cair. Mataku menjelajah kamar tidur, yang tak pernah rapi gara-gara dia menaruh segala macam kertas, kaos kaki, sendal, poster, gitar putus senar, kardus bekas, sembarangan.

“Besok kita rapikan, kamar.”

Tumpukan pakaian kotor di atas meja belajarku di sudut dekat jendela. Dan mataku berhenti ketika melihat cernmantel satu gulung di gantung di dekat jendela. Kucekik kau, Sapi! Kugantung kau, aku teringat the algojo dalam from dust till down.

“Cun,….”

Tiba-tiba saja kubalikkan tubuh ke arah suaranya. Dia membelakangiku. Memandangi kertas di tangannya. Dalam hitungan detik jab dan hook kiri kananku menabrak belakang kepalanya. Tubuhnya limbung.

“Good night, my friend!” Aku langsung menjatuhkan diri kembali ke kasur. Tanpa merekam detik-detik kejatuhan dia ke karpet.

Mudah-mudahan dia pingsan.
*** tamat

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *