SEMBELIT PAGI – Cerpen Warman P

Warman Pluntaz - alumnus IAIN Raden Fatah Palembang. Penyair di Palembang. Aktif menulis essay, puisi dan cerpen sejak di bangku SMA.

Warman Pluntaz – alumnus IAIN Raden Fatah Palembang. Penyair di Palembang. Aktif menulis essay, puisi dan cerpen sejak di bangku SMA.

Cerpen Warman Pluntaz

Malam menghantarkan  kemelutnya sepanjang  waktu. Uap  panas  seharusnya telah  memompa segala sisa  pembuangan  berkarat sepanjang tahun.   Akupun seharusnya telah  mencoba menjemput pagi dengan senyuman manis  setelah rehat sejenak.

“Selamat pagi”, Suara gemuruh menyapa.

“Bukan, besok saja sekalian”, jawabku  terjerat  kantuk berat

“Kenapa harus ditunda ?”.

“Pokoknya besok  saja. Titik !!”.

“Kamu bodoh!!”

Pantatku ditendang seseorang. Aku melengos memeluk bantal guling empuk. Melanjutkan tidur yang tertunda. Waktu kini  terbalik. Sinar pagi tak lagi menarik, sementara  malam indah sepanjang  jalan berlampu hias tak mampu lagi memberikan atmosfir pikiran  jernih.

“Seperti apa kebijaksanaan itu , wisdom….wisdom…..kepalamu ?”,

Sesungguhnya aku telah menyusun harapan sejak aku  mulai belajar  membaca tanda-tanda  zaman meskipun aku mungkin  selalu keliru memulai abjad  dengan benar. Tapi, aku  tetap percaya pada proses yang dilakoni, apapun bentuknya.

Seandainya  harus memulai dari sesuatu paling tidak aku sukai sekalipun, itupun harus dilakoni dengan  penuh penghayatan. Benar juga kata sahabatku,  sesuatu yang kita sukai belum tentu akan berdampak baik bagi kita, demikian  juga sebaliknya sesuatu yang tidak kita sukai  bisa jadi akan berdampak baik bagi kita sendiri. Bisa jadi, ini pelajaran  pertama yang aku jalani. Betul, memulai sesuatu yang tidak kita sukai  sampai menjadi nikmat.  Ini baru tantangan  hidup. Harus dihadapi  dan diikuti sampai kemanapun ia pergi.

“Ikuti saja bola liar itu, bung !”,  kataku membangun motivasi diri

“Lupakan Goerge Bush, Netanyahu, Blair ……..juga lupakan Karl Marx, Lenin,Gramsci, Castro…..Lupakan saja  semua yang mengganggu kerjamu”.

“Bagaimana dengan  Soekarno, Tan  Malaka , dan Tuan Kamerad lainnya, lupakan saja”,

“Persetan”, pikirku.

Hidup cuma sebentar. Eksistensi ditentukan oleh semangat  kerja. Ya, bekerja walau seperti mesin. Tuhan selalu ada di mana-mana. Di ruang kerja, melihat batin pekerja. Di Masjid Ia melihat hati orang sholat, Kompleks Pelacuran juga melihat batin Sang Pelacur, Pengabdian tak terbatas ruang dan waktu, tak terbatas apapun.

Aku  kembali menikmati ruang fiksi pagi sambil mendengkur. Hidup tanpa batas. Aku dapat berubah apa saja,  Superman, Batman, Kamandanu, Brama, Gatot Kaca, Soekarno atau jadi Khomeni atau apa saja.  Spirit selalu datang tak terduga, jika datang disambut  secarik kertas  dan pulpen, sambil menimbang-nimbang nomor berapa yang akan keluar nanti sore.

“Dasar buntut”.

“Tak mengapalah, Ini cuma permainan”.

‘Siapa Yang untung ?”.

“Tak ada jika tak ada yang beli,  atau para pemain menang semua”.

Arah waktu pagi ini berputar-putar. Jarum  Jam maju dan mundur.  Bandulnya  patah. Tak ada telepon  maupun pesan-pesan penting. Hanya ucapan selamat pagi dari beberapa orang yang tak kukenal sebelumnya.  Lalu beberapa pedagang  sayur dan makanan pagi lewat hilir mudik di depan  pintu. Seorang Anak  berseragam Sekolah  Menengah Pertama  memanggil  penjual roti.

“Ini Roti  paling enak sedunia, tak ada bandingannya, pembuatnya  datang dari negeri seberang, merantau ke sini khusus untuk usaha buat roti”

“Jadi ini roti buatan  orang,  kenapa tak buat sendiri?

“Tak bisalah, neng! Mana sempat abang buatnya”,

“Tak sempat  atau tak bisa ?”

“Dua-duanya lah”

“Istri abang bagaimana ?”.

“Ngurus anak saja”.

“Ohhh….kasihan…ya…”,

Aku masih menikmati  tidur pagi  menjelang siang yang nyaman. Udara mulai gerah. Atap seng mulai  seperti penggorengan.  Aku melompat dari ruang tidur saat teringat  sesuatu yang sangat penting bagi.

“Jimatku mana?”,

“Jimat apa ? Seperti apa ? Dari siapa? Ditaruh dimana ? ” tanya Deo keheranan

“ Jimat murah rezeki, enteng jodoh, disegani, naik jabatan, dan lain-lain , bentuknya seperti kalung, Itu dari seorang dukun paling top di Indonesia,  Namanya saja Ki Gendeng Sontoloyo  dari Gunung Kelut ,  terakhir saya taruh di atas buku ….buku ini”, jawabku menunjuk  buku-buku memuat pikiran Karl Marx yang sampai sekarang belum aku pahami.

“Sudahlah lupakan saja, katanya, kau percaya pada proses, pada keyakinan dan semangat kerja, perjuangan tak kenal henti, kok malah  tergantung dengan jimat….lha ini bagaimana?”

“Bukan begitu persoalannya, inikan ….”, aku  tak dapat  menjawab pertanyaan itu.  Harus diakui sejak beberapa waktu lalu aku mulai banyak  mempercayai  berbagai hal berbau  supra natural

“ Kalau demikian kau telah terjebak takhayul, astaga….aku tak percaya… orang seperti kau  bisa percaya takhayul”,

“Kau salah  besar, ini bukan takhayul,  ini hanya percobaan, semacam ikhtiarlah, antara keduanya, boleh percaya atau tidak”.

“Sebaiknya tidak saja”, Deo  menyeruput kopi   pagi  kembali mengetik seperti seperti biasanya.

“ Dasar Monyet”.

Aku sedikit kaget sekaligus agak membenarkan ucapan Deo  sedikit masa bodoh. “Mungkin benar,!”, Pikirku  agak skeptis

Kini aku terjebak terlalu jauh kepada hal yang bersifat supra natural, klenis  bahkan menjurus kepada syirik.  Benar, rasa penasaranku telah menjebakku menjadi  bagian dari takhayul itu sendiri.

Aku paksakan  memulai pagi dengan cerah. Dua botol air putih langsung saja aku teguk sampai habis seperti anjuran orang-orang.

Aku  menikmati diri dalam ruang mandi seperti biasanya. Tak ada pelepasan. Suasana kembali membosankan. Menarik diri  dari kegalauan selama ini dari  ruang terdahulu selalu saja gagal. Aku kembali menikmati siksa pagi.

“Oi lepaslah…..lepaslah…bangsat”,

Aku memaki tembok, sikat gigi, cermin, bak mandi dan lobang WC. Semuanya begitu  menyiksa.  Suara gemericik air mestinya menjadi sumber pencerahan diri, kembali menusuk-nusuk pikiranku.

“Kemelut”,

“Tentu, tapi mestinya diolah terus hingga menjadi enak, menjadi nikmat, tanpa beban,  dan lepas begitu saja….terus memulai dari  baru lagi… tak ada sisa pelepasan esok… besok…tetaplah besok…bukan hari ini,  jika tidak begitu, nikmatilah ketergilasan  oleh waktu”.

Aku mencoba mengingat-ngingat kata-kata motivasi diri. Aku harus menghargai waktu. Karena waktu seperti roda  buldozer yang  berputar cepat, kapanpun bisa menggilas siapa saja yang dihadapinya. Artinyanya, tak ada waktu  untuk tak memanfaatkan waktu.

Pagi masih menyisakan semangat serta beban. Tapi aku  tetap mencoba melepas beban. Meninggalkan ruang mandi  dengan semangat   baru.  Menghirup udara pagi yang tersisa. Segelas kopi  dan berita  pagi  tetap harus berubah  menjadi ruang penuh warna.  Kemarin adalah tetaplah seperti dokumen, kapan-kapan akan dibuka jika dibutuhkan. Jika tidak, biarlah menumpuk  di gudang bacaan atau  terbuang percuma di toilet umum.

 

Jambi, Juni 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *