LANTAKLAH KAU – Puisi Tarech Rasyid

DR Tarech Rasyid, M.Si - Dosen Universitas IBA Palembang, Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumulih

DR Tarech Rasyid, M.Si – Dosen Universitas IBA Palembang, Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumulih

 

LANTAKLAH KAU

Koruptor yang menguras harta negara

Jangan dijatuhi hukuman mati

Cukup  diberi hukuman sepuluh kali usianya

Semua rekeningnya diblokir

Seluruh harta jarahannya disita

Lalu, hukumannya ditambah

Membersihkan jalan raya setiap pagi

Mengenakan baju rompi warna kuning

Bertuliskan:  “Aku Tikus Negara!”

Lantaklah kau!

Koruptor yang tak puas dengan keputusan hakim

Jangan halangi dia melakukan banding

Jangan dicabut hak politiknya

Cukup jatuhkan palu:

Kirim satu regu penembak mati

Kirim sebuah peti mati

Sebelum nama bulan berganti

Sudah dilaksanakan hukuman mati.

Lantaklah kau!

 

Bali, 2014

                     

UJIKU TENTANG UJIKAU

Ujikau idak korupsi,

cuma gratifikasi

Ujiku kau korupsi.

Ujikau idak korupsi,

Cuma mindahin komisi ke politisi

Ujiku kau korupsi

Ujiku tentang ujikau:

Kau masuk jala koruptor berdasi.

 

Ya, aku tahu kau keliru menentukan posisi

Kala menghadapi politisi yang minta upeti

Hatimu dikuasai rasa bimbang dan sangsi

Lalu, kau alihkan uang perusahaan asing ke saku politisi

Kau tertangkap tangan dan dipenjara seorang diri

Yang lain menyusul lain hari.

 

Ya, aku mengerti kau akademisi

Yang mempunyai integritas tinggi

Yang memiliki reputasi dan prestasi

Yang masih memiliki mimpi

Semua hancur dibalik jeruji besi

Semua kolegamu berlari sembunyi

Kau pun hanya berteman sunyi

 

Menjelang lebaran tiba pikiranmu kusut masai

Masa lalu yang celaka menampar nuranimu sepanjang hari

Suhu tubuhmu meninggi

Butiran keringat mengaliri dahi dan pipi

Hanya anak dan istri yang mengerti

Merekalah teman sejati.

 

Ujikau idak korupsi,

cuma gratifikasi

Ujiku kau korupsi

Uji kau diuji terbukti kau korupsi.

 

Ujiku tentang ujikau:

Kau masuk perangkap koruptor berdasi.

 

 

Palembang, 1582013

 

SELAMAT DATANG

DI NEGERI TAK JELAS

 Selamat datang di negeri tak jelas

Terbentang dari pulau tak jelas sampai ketidakjelasan pulau terpencil
Kekayaan alam yang jelas menjadi tak jelas dikuras pemeras.

Selamat datang di negeri tak jelas
Jutaan rakyat tak jelas dengan harapan yang jelas
Kumpul satukan suara berantas korupsi dengan keras dan jelas.

Jutaan rakyat tak jelas
Memilih wakil rakyat yang jelas
Tak sangka berbalas ketidakjelasan
Jelas melahirkan kebijakan tak jelas.

Jutaan rakyat tak jelas
Memilih presiden yang jelas
Berharap pilih menteri yang jelas
Tak sangka berbalas menjadi tak jelas
Jelas ketidakjelasan adalah kejelasan.

Selamat datang di negeri tak jelas
Jutaan rakyat tak jelas dengan harapan yang jelas
Kumpul satukan suara berantas koupsi dengan keras dan jelas
Jelas inginkan ketidakjelasan menjadi kejalasan!

 

Palembang, 2512015.

 

PROKLAMASI

RAKYAT TAK JELAS

Kami rakyat Indonesia yang tak jelas
Dengan ini menyatakan sejelas-jelasnya:
Selamatkan KPK
Selamatkan POLRI
Selamatkan INDONESIA.

Hal-hal yang mengenai
Korupsi
Kriminalisasi
Manipulasi
Dan lain-lain
Yang hadir terus menerus
Jelas diurus serius
Dan diselesaikan secara seksama
Dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Palembang, Senin pagi, 2612015
Atas nama rakyat Indonesia yang tak jelas
Dan siapa saja yang tak jelas

 

KAU ADALAH MUSUH KAMI

Sajakku adalah kata-kata
Yang lahir dari rahim para koruptor

Yang melakoni bisnis
Yang menjabat di pemerintahan
Yang mewakili rakyat di parlemen
Yang menjaga hukum penguasa
Yang menjadi aktor sandiwara Pat Gulipat.

 

Sajakku adalah kata-kata
Yang lahir dari rahim para koruptor
Nadanya penuh kemarahan
Iramanya menahan kegeraman
Diksinya seterang cahaya matahari
Kadang meluncur dari mulut

Kata umpatan dan makian.

 

Sajakku adalah kata-kata
Yang lahir dari rahim para koruptor
Yang membuat jalan-jalan berlubang
Yang mendirikan gedung-gedung rapuh
Yang menggusur lahan rakyat untuk pemodal
Yang membebani negara dengan hutang
Lalu, kalian berpesta pora
Menenggak anggur darah rakyat
Mendengar musik sambil tertawa
Menggeluti perempuan semalam suntuk
Semua dibayar rakyat dengan pajaknya
Maka kau adalah musuh kami.

 

Sajakku adalah kata-kata
Yang lahir dari rahim para koruptor
Yang berjarak dengan seniman salon
Yang mengutuk kebisuan insan kampus
Yang menangisi kecenian berlawan.
Aidah, mari kita jumput

orang-orang jujur Rudyard Kipling
Mereka tahu semua hal yang kita tahu
Mereka bernama:

Apa, Kenapa, Kapan
Bagaimana, Dimana dan Siapa
Kita kirim mereka ke kantor-kantor
Memeriksa APBD dan APBN
Menyelidiki kuasa anggaran.
Setelah mereka bekerja keras
Biarkan mereka berkisah di media sosial
Karena media mainstream

Kerap mengkorupsi kata
Agar mata pikiran warga terbuka
Lalu, mereka bergerak bersama nurani
Menumbangkan bandit demokrasi

Banditnya Mancur Oslon:

Ada bandit yang menetap

Ada bandit yang liar

Mereka adalah musuh kami!

 

 

Prabumulih, 2432015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SELAMATKAN IBU PERTIWI

  • kepada kaum muda Indonesia

 

Selamatkan Ibu Pertiwi

Dari tangan bandit demokrasi

Yang mengkhianatinya berulang kali

Yang memperkosanya berkali-kali

Keji tanpa hati nurani.

 

Lihatlah, Ibu Pertiwi menangis sedih

Airmatanya meleleh jatuh ke tanah

Tubuhnya robek dikoyak-koyak tangan penjarah

Hartanya dikuras nafsu serakah.

 

Oh, Ibu Pertiwi sungguh malang  nian nasibmu

Tak hanya anakmu yang berkuasa mencuri hartamu

Juga Asing dan Aseng yang datang bertamu

Tiada bersisa bagi cucumu

Kecuali kerusakan lingkungan di bumimu

dan tumpukan utang di pundakmu

 

Selamatkan Ibu Pertiwi

Dari tangan bandit demokrasi

Yang mengkhianatinya berulang-kali

Yang memperkosanya berkali-kali

Apakah kita yang diasuh nurani

Mau berdiam diri

Tidak, sayangku, kita adalah anak kandung Ibu Pertiwi

Kita adalah pewaris sah negeri ini.

Buanglah rasa takutmu ke dasar kali

Satukan barisan dengan rapi

Bulatkan tekad dengan nyali

Nyalakan api dalam diri

Perangi segala bentuk korupsi

Yang menciptakan politik basa-basi

Yang merusak tatanan ekonomi

Yang membangkrutkan negeri

Yang meruntuhkan harga diri Ibu Pertiwi.

 

Selamatkan Ibu Pertiwi

Dari tangan bandit demokrasi

Yang mengkhianatinya berulang-kali

Yang memperkosanya berkali-kali

Yang menjalar ke seluruh hirarki

Yang menular ke pelosok negeri

Yang mengentuti cita-cita proklamasi

Masihkah kau mematung diri

Menyaksikan korupsi.

Tidak, sayangku, tidak berdiam diri.

Wahai kaum muda Indonesia, mari:

Kita berbenah diri

Kita padukan hati

Kita satukan janji

Kita wujudkan mimpi konstitusi

Agar hidup berarti.

 

Mari kawan, kita berlawan, kepalkan tinjumu ke langit

Bangun gerakan sosial antikorupsi yang kuat

Jadikan ia pedang penghancur rantai korupsi berkarat

Agar Ibu Pertiwi selamat dari tangan para pengkhianat.

Wahai, kaum muda Indonesia, mari merapat

kita bulatkan kata sepakat

Kita babat para keparat

Kita lumat para bangsat

Agar negeri tak sekarat

Cucung tak melaknat.

 

Lihatlah, sayangku, mata Ibu Pertiwi mulai berpijar

Menyaksikan anak kandungnya menyebar

Di segala sudut memburu koruptor

Yang  tulus menumpahkan darah segar

Yang ikhlas tersungkur dan terkapar

Di ujung mulut pisau pedang dan pelor pembela koruptor

Lihatlah, sayangku, mata Ibu Pertiwi berbinar-binar

Menyaksikan api perlawanan yang terus berkobar

Menantang serangan balik para koruptor.

Sekali bergerak, tiada langkah mundur

Sekali mundur, berarti hancur!

 

Prabumulih-Palembang, 242015

 

 

 

 

KAU MEMANG BANGSAT

(Kepada Koruptor Indonesia)            

 

Kau memang bangsat

Mulutmu memuntahkan sumpah jabatan

Seraya berjubah politisi, pengusaha dan penguasa

Oh, perjamuan malam penuh khianat

Mencari cara mencuri harta negara dengan benar

Agar hukum tak terlanggar.

 

Kau memang bangsat

Mencibiri kejujuran Hatta dan Hoegeng

Meniru prilaku Yakuza dan Mafioso

Mematuhi petuah Machievelli

Meludahi Pancasila dan konstitusi

Megangkangi kitab suci

 

Kau memang bangsat

Bagaikan tikus yang mengerat  kekayaan negara

Dan kau tak mau peduli akibatnya

Orang-orang kelaparan kehilangan pangan

Orang-orang sakit kehilangan obat dan rumah sakit

Orang-orang sekolah kehilangan bangku dan buku

Orang-orang pabrik kehilangan upah dan pekerjaan

Orang-orang pantai kehilangan ikan dan jala

Orang-orang dusun kehilangan kebun dan lahan

 

Diantaranya, ada yang mencari jalan pulang

Melalui tali melingkari lehernya

Lalu, tubuhnya terggantung bersama derita yang mencintainya.

 

Kau memang bangsat

Mengkorupsi dengan hebat

Membuat rakyat melarat

Membuat negara sekarat

Membuat bangsa tak terhormat.

 

 

Prabumulih, 542015

 

 

 

 

 

KALA SDA DIKORUPSI

Cacing yang berasal dari Cina dan Eropa
Badannya kurus dan ceking
Menjelma pemangsa yang ganas:
Ditelannya hutan rimba
Dilumatnya kebun rakyat
Dihisapnya pajak negara
Uang menjadi mahkota kekuasaan.

Cacing berkulit kuning dan putih kian gendut
Batubara makanannya
Emas dan timah lauk-pauknya
Minyak minumannya

Gas cuci mulutnya
Cacing gendut itu licin

Dan tak pernah tertangkap.

Palembang, 642015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERJANJIAN DARAH

Asing dan Aseng bergandengan tangan
Berjalan melintasi pulau menatap kekayaan nusantara
Setiap ada pemilihan pemimpin publik
Sen mengalir membawa janji
Perkawinan penguasa dengan pengusaha.
Ada yang menyambutnya dengan tepuk tangan riang
Ada yang berpelukan sambil menari
Ada yang berpesta pora
Mereka bagaikan tikus yang berbahagia menikmati keju.

Dengan lampuku aku menyaksikan kehancuran
Mereka bersekutu mengkorupsi harta negara
Mereka bersekongkol mencuri kekayaan rakyat
Dipundak anak cucu kita memikul hutang dan kerusakan alam
Tajuk rencana menulis dengan kaca mata kuda
Kebenaran akademisi hanya menyenangkan mereka
Mereka bilang puisi pun telah tewas.
Tapi, tembang kebenaran puisiku bukan untuk mereka.

Kita harus berbuat sesuatu di bumi Pertiwi
Karena kita lahir dari rahimnya planet ini
Apa pun harus siap diangkat menjadi senjata
Karena kita bukan ikan yang dipindang
Atau anjing yang diburu.
Kita buat perjanjian yang tulus:
Ya, perjanjian darah
Perjanjan darah dengan rakyat!

Palembang, 1542015

 

 

 

 

 

 

 

 

AKU BILANG PREK

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau terpaksa

Jadi guru dari pada pengangguran.

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau tidur

Kala teori dan ilmu pengetahuan berkembang

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau meminta dan menerima

Uang bangku sekolah.

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau menarik upeti

Meluluskan peserta didikmu

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau memanipulasi

Untuk memperoleh sertifikat guru dan dosen.

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau terima suap

Dan mencuri anggaran pendidikan

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau utamakan keculasan

Ketimbang idealisme Sokrates dan Freire

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau menyingkirkan nurani

Membunuh kejujuran dan kebenaran

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

Karena kau abaikan pesan Bung Hatta:

Pendidikan sejati adalah pendidikan karakter!

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang prek

karena kau cuma pandai berkata:

Tut wuri handayani, tapi

Hakekatnya tak pernah sampai

 

Kau bilang dirimu berjiwa pendidik

Aku bilang Prek

Karena kau tak pernah menghayati

Pesan Pram untuk pendidik:

“Guru yang baik saja bisa melahirkan

bandit yang sejahat-jahatnya.

Bagaimana kalau gurunya

sudah bandit pada dasarnya.”

 

 

Palembang, menjelang petang, di Universitas IBA, 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENGAH MALAM ALMANAK BERGANTI

 

Tengah malam almanak berganti

70 tahun sudah usia Ibu Pertiwi, tapi

Belum merdeka dari korupsi.

Setiap upacara pagi

Putra-putri Ibu Pertiwi berjanji:

Bekerja wujudkan cita-cita kemerdekaan

Kau memang bekerja keras

Menguras harta negera

Demi ongkos kelakuan diri

Demi gengsi keluarga

Demi roda parpol berputar

Demi kekuasaan sebagai perisai diri

Ya, cacam, makin kabur cita-cita pendiri negeri.

 

Tengah malam almanak berganti

70 tahun sudah usia Ibu Pertiwi, tapi

Belum merdeka dari korupsi.

Setiap hari koran terbit pagi

Menulis berita tentang korupsi

Lihatlah, predator negeri lahir silih berganti

Mereka hadir segala sudut daerah

Mereka masuki setiap hirarki

Bagai lintah mereka hisap kekayaan negeri.

Ya, cacam, makin kabut impian konstitusi.

 

Cadar awan malam menutupi cahaya bintang

Seperti nurani koruptor yang tersihir tahta, harta, dan wanita

Mereka adalah politisi penguasa dan cukong

Merampas kekayaan rakyat

Merampok kekayaan negara

Dan, kau berhentilah bicara tentang Ratu Adil

Ratu adil itu mimpi orang-orang yang tak berdaya

Kita butuh penegak hukum yang adil

Kita butuh penguasa yang berani

Menumpas para koruptor:  Pengkhianat negara!

(Kemarahan dan kebencian kepadamu

Adalah kata yang muntah dari perut sajakku).

 

 

Palembang, Lorong Limbungan, malam 17 Agustus 2015

 

 

 

 

CERITA WISMA ATLET

 

Kala genderang pesta Sea Games ditabuh

Cahaya Jakabaring  gemerlap bagai emas

Dan gedung –gedung olahraga berkilauan bak berlian

Kesadaran orang-orang pun tersihir

Melupakan skandal korupsi wisma atlet.

 

Kala malam berjalan mengarungi gerimis

Atlet mancanegara pulas bersama mimpi di kamar wisma

Biarkan aku bercerita di sini tentang mereka dibalik jeruji

Orang-orang Jakarta menjelma lintah menghisap harta negara

Ada pengusaha kaya membekap dan membegal proyek raksasa

Ada anggota dewan berparas cantik menjadi pencuri

Ada pejabat kepercayaan penguasa menjadi perampok

Mereka membuka pintu menabur komisi sambil tertawa

Lalu, tikus-tikus pun berpesta pora di atas bolu-bolu maksuba

 

Kala angin malam merayapi kegelapan yang sunyi

Di sana nyanyian perut  orang-orang lapar

Tak terdengar ditelinga para koruptor

Kemelaratan mereka adalah maut yang menjemputnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PETANI MENULIS DI BATU NISAN

Di balik perizinan lahan sengketa

Ada pengusaha menyuap

Ada penguasa disuap

Ada politisi disuap

Ada aparat keamanan disuap

Itu terjadi dan tak akan berhenti

Di gedung kantor megah yang dingin

Di hotel bintang lima yang mewah

Di kota-kota Indonesia

Di kota-kota negara tetangga

Mereka telah menjelma koruptor

Di televisi mereka berkata

Perkebunan yang akan dibuka kelak

Kurangi angka pengangguran desa

Dan mensejahterahkan rakyat.

 

Di balik izin yang tergenggam ditangan

Pengusaha dan penguasa sepakat bersiasat

Atas nama kepentingan pembangunan

Senjata aparat keamanan telah terkokang

Nasib ribuan petani bagai buah dadu diguncang-guncang

Dibelakangnya berdiri ribuan istri dan anak-anak ikut terguncang

Lalu meletus amarah yang terpendam

Peluru muntah ke segala arah

Darah petani muncrat di tanah sengketa

Tubuh petani tersungkur mati di lahan sengketa

Rengas berdarah

Mesuji berdarah

Mayat  tergeletak

Bersimbah darah.

 

Petang menjemput malam

Dirayakan koruptor saling bersulang wiski

Sambil bersandar ditubuh perempuan seksi

Menonton berita televisi

Tentang petani yang luka-luka di rumah sakit

Tentang jasad petani yang dikubur

Tentang jerit-tangis istri kehilangan suami

Tentang jerit- tangis anak kehilangan ayah

Tentang kesedihan palsu para pejabat

Tentang kebohongan penegakan hukum

Sungguh membuatku dongkol dan muak.

 

 

 

Percayalah, akan tiba waktunya

Petani sadar deritanya bermula dari suap

Mereka pun menyuap benih dengan pupuk

Mereka tebar dilahan yang  kau kuasai

Kelak benih itu tumbuh serentak

Akarnya menjalar

Menjerat lehermu

Kau merintih

Kau berteriak

Kau menjerit

Kau tumbang

Rebah dan terhina

Lalu, petani menulis di batu nisanmu:

Di sini terbaring,

 koruptor tamak tak berhati nurani”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGENANG BUNG KARNO

 

Air mataku menetes

Dari buku Cindy Adams

Tercatat usia kemerdekaan baru satu hari

PPKI bersidang di Road van Indie

Bung Karno dan Bung Hatta

Ditetapkan sebagai Presiden

Dan Wakil Presiden.

Usai sidang

Bung Karno berjalan kaki

Pulang ke rumah

Kalau saja Penyambung Lidah

Rakyat Indonesia masih hidup

Mungkin ia menitikan airmata

Menyaksikan mobil mewah

Teronggok di garasi rumah megah

Yang dibeli dari uang hasil korupsi

Yang diperoleh melalui gratifikasi

Yang telah disita oleh KPK.

 

Air mataku menetes

Dari facebook Butet Kartaredjasa

Bung Karno berkata:

“…Aku tak boleh tinggal lagi di istana,

Kalian jangan ambil apapun,

Lukisan,  souvenir,  dan macam-macam barang.

Itu milik negara…”

Perasaan sedih memukul batinku.

Kalau saja Putra Sang Fajar masih hidup

Mungkin ia menitikkan air mata

Menyaksikan bandit negara

Yang merampok sumber daya alam

Yang merampas APBN dan APBD.

Yang maling apa saja yang bisa dipaling.

 

Air mataku menetes

Kala Bung Karno Berkata:

“Aku pingin duku, tapi

Aku tak punya uang…”

Nitri Gadis Bali buka dompet

Uangnya cuma ada senilai satu kilo duku.

Perasaan sedih menggigit batinku.

Kalau saja penggali Pancasila masih hidup

Mungkin ia menitikkan air mata

Melihat saku baju bandit negara

Dolar dan rupiah melimpah

Yang berasal dari nyopet uang negara

Yang berasal dari nyolong uang rakyat

Yang tersimpan dalam rekening gendut.

 

Air mataku menetes

Kala Bung Karno sakit

Tak dirawat di rumah sakit

Hanya di kamar berbau tak sedap

Yang dijaga ketat para tentara.

Saat ginjalnya kumat

Sekujur tubuhnya bergetar hebat

Tangannya yang selalu meninju langit saat pidato

Hanya bisa menekan dada

Menahan rasa sakit yang teramat sakit

Mulutnya yang mampu menyihir

Dan menggerakan rakyat

Hanya bisa berteriak lemah:

Sakit……sakit……sakit……

 

Airmata Bung Karno meleleh dipipinya

Airmata Bung Hatta mengalir tak terbendung

Saat Dwi Tunggal bertemu

Pilu mengiris hati pengingin sepatu Belly

Melihat sejawatnya sekarat tak terawat

Hanya karena berbeda pandangan politik.

Kalau saja Pahlawan Proklamasi masih hidup

Mungkin ia menitikan air mata

Menyaksikan koruptor yang sakit

Atau  pura-pura sakit

Dirawat di rumah sakit berkelas

Dengan peratawan istimewa

Dan perlakuan manusiawi.

 

Berulang kali almanak berganti

Wajah Wisma Yasso berubah

Menyimpan jejak sejarah

Bung Karno menghadap Sang Pencipta

Aku bertanya pada angin pagi

Wahai, koruptor yang tamak dan kemaruk

Bukalah topeng yang menutupi kalbumu

Bacalah makna Jasmerah dengan mata batinmu

Agar kau tahu kabut menutupi derita Bapak Marhaen

Air mata mengalir dari mata air sajakku.

 

 

Palembang, September 2015

 

 

 

BANCAAN HUTANG

 

Hutang negeri ini semakin membengkak

Seperti buntang gajah bunting di sungai Batanghari

Lalu, hutang itu menjadi bancaan bandit negara

Seperti ulat memakan daging buntang

Hutang habis dimakan

Kembali mencari hutangan

Kembali menjadi pengemis

Yang membungkukkan badan

Yang menundukan kepala

Yang tiada lagi malu-malu

 

Kepada

Kalau ada hutang yang jatuh tempo

Dibayar dengan hutang .

 

Pemimpin mengajari kita tata cara mencari hutang

Ke negara Amerika, Perancis, Jepang, dan Tiongkok

 

Budaya hutang dibiakkan oleh pemimpin

Generasi yang lahir memikul hutang mencari hutangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MEMBACA ASAP

Asap berpatroli

Di atas langit Sumatera Selatan

Berjalan hingga ke negara tetangga

Mencari pengusaha kebun sawit

Yang menguasai lahan sawit jutaan hekar

Yang berasal dari Malaysia dan Singapura

Yang menguasai  lahan sawit puluhan ribu hektar

Yang berasal dari Indonesia

Yang memperoleh izin hak guna usaha

Yang  menyuap para pejabat

Yang menyuap aparat keamanan

Yang menunggu kemarau datang

Yang memberi upah membakar

Hutan tropis terbakar

Lahan gambut terbakar

Tak ada lagi suara angin memukul daun

Tak ada lagi burung-burung berkicau

Hutan hilang, kebun-kebun sawit datang.

 

Asap berpatroli

Di atas langit Sumatera Selatan

Berjalan hingga ke daerah tetangga

Mengacaukan jadwal penerbagan

Mengganggu perjalan mobil antar kota

Membuat mata perih

Mengirimkan anak-anak ke rumah sakit

 

 

 

 

Lihatlah, pohon-pohon sawit tumbuh menghijau

Sungai-sungai menyusut

Air di dalam lahan gambut mengering

Kala kemarau datang

Panas matahari memanggang

Lahan gambut terbakar, tapi

Ada pula pengusaha yang membakar

Ada pula penduduk yang membakar

 

Berulangkali musim berganti

Kebun-kebun sawit tua diremajakan

Agar untung besar

Yang menghisap air lahan gambut.

 

Hutan hilang

Sungai menyusut

Lahan gambut kering

Kemarau panas mengirim api

Ada juga membakar hutan

Membuka lahan

Terimalah kiriman asap dari Bumi kami

 

 

Asap dari bekas kerajaan Sriwijaya

Membungkus Malaysia dan Singapura.

 

Pejabatnya marah

Melayangkan nota protes.

Kenapa harus marah dan protes?

Padahal, pengusha yang memiliki kebun sawit

Berjuta hektar itu berasal dari sana

 

Memerihkan mata

Menebar penyakit ispa

Memerihkan mata

 

 

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *