Palembang Kota Rawan Banjir, Warga Masih Buang Sampah di Sungai

PALEMBANG, KS

Predikat Kota Palembang sebagai kota rawan banjir ke-17 se-Indonesia ternyata tidak membuat sadar warganya untuk tidak membuang sampah di sungai. Akibatnya Dinas PU BM dan PSDA Kota Palembang, dalam setiap harinya harus mengangkut sampah dari anak sungai sebanyak 32 kubik yang diangkut menggunakan puluhan truk.

Melihat di sejumlah titik, kondisi anak sungai di Kota Palembang memang cukup memperihatinkan. Hampir di semua anak sungai terdapat tumpukan sampah. Sikap warga yang masih membuang sampah di aliran sungai inilah, disesalkan Kepala Dinas PU BM dan PSDA Kota Palembang melalui Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Drainase, Bastari Yusak.

BACA : Banjir, Permasalahan Lingkungan yang Belum Terselesaikan di Palembang 

“Kendala dari dulu sampai sekarang masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah dan limbah ke aliran air,” ujarnya usai sosialisasi masyarakat pinggiran sungai di Ruang Parameswara Setda Palembang, Kamis (17/9/2015).

Perda No 44 tahun 2014 tentang sanksi pengotoran sungai nampaknya tidak berjalan. Akibatnya sampai saat ini masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

“Kita sudah semaksimal mungkin melakukan sosialisasi. Tapi hal itu hanya berjalan dalam beberapa hari saja. Sehari dua hari ditaati, tapi besoknya lagi sudah tidak lagi. Jelas ini membuat genangan air tidak mengalir, dan banjir pun tidak bisa dihindari,” tegasnya.

Beiring dengan itu, Hardiansyah dari BLH Kota Palembang mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan pengawasan, terutama tentang perizinan bagi tempat-tempat yang tidak mempunyai sistem aliran air.  Menurut Hardiansyah, perizinan sangat penting. Sebab bila ada anggota masyarakat yang ingin membangun gedung terlebih dahulu memerioritaskan IPAL-nya.

“Kita selalu berkoordinasi dan melakukan pengecekan ke lokasi jika ada bangunan yang mengganggu sistem lingkungan. Oleh karena itu, kita mengharapkan dengan sosialisasi ini semua elemen masyarakat bisa cepat menyadari dan mengantisipasi banjir,” tambahnya.

Melihat sikap demikian, baik Hardiansyah dan Bastari sangat menyayangkan bila hal ini terus terjadi. Sebab upaya penanggulangan banjir tidak akan berhasil, selagi warga tidak berhenti membuang sampah di aliran Sungai Musi.

Bastari mengakui, tumpukan sampah itu hanya akan terlihat jelas saat musim hujan tiba. “Kalau saat musim kemarau seperti sekarang sampah memang tidak terlihat, tapi coba nanti waktu musim hujan akan sangat menyolok, dimana-mana ada sampah,” tambahnya.

Banyaknya sampah yang menyumbat arus air, menimbulkan aliran anak sungai yang menyempit, bahkan terputus. Sebelumnya jumlah anak sungai diatas 100 dan sekarang tinggal 60-an. “Ini terjadi karena penyempitan akibat sumbatan sampah,” ujar Bastari.

Hasil pantauan di lapangan, tumpukan sampah yang parah terjadi di Sungai Bendung, Sungai Buah, Sungai Aur dan Sungai Sekanak. Belum lagi, pipa-pipa dari PDAM, tiang listrik juga ada yang berdiri diatas drainase. Padahal menurut Bastari, hal itu sangat mengganggu tata letak dan dapat menyumbat aliran air.

Terkait dengan hal itu, Bastari mengajak semua stake holder agar selalu menjaga aliran air dari tumpukan sampah.  Caranya mengajak forum masyarakat sungai menjaga anak sungai dari pembuangan sampah.“Saat ini kita punyai komunitas militan untuk membersihkan lingkungan,” tambahnya.

TEKS : IMAMAH AL-GHONI

FOTO : PALEMBANG DALAM SKETSA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *