Kemiskinan adalah Jembatan Emas

Mungkin, saya, Anda atau siapapun juga selama ini terbersit dalam hati membenci terhadap kemiskinan. Kebencian ini bisa jadi bermula dari ketidaksediaan kita membantu menyelesaikan kemiskinan. Atau karena di putaran otak kita yang ada hanya tuduhan pada pemegang kebijakan negara yang kita anggap tidak peduli terhadap kemiskinan dan orang miskin.

Tetapi, jika kemudian orang miskin dan kemiskinan itu kita putar menjadi diri kita, mungkin kita tidak pernah akan membenci kemiskinan dan orang miskin. Sebab saya, Anda atau siapapun, sedang berada dalam posisi miskin. Artinya, katika kita dalam posisi miskin dan dilingkupi oleh kemiskinan dan kemudian kita membenci kemiskinan, itu sama halnya kita sedang membenci diri kita sendiri.

Mulai hari ini sebaiknya kita melihat kemiskinan dan orang miskin bukan dengan kacamata dendam, benci atau kasihan. Sebab dendam, benci dan ucapan kasihan tidak akan menyelesaikan persoalan kemiskinan.

Yang terpenting dalam melihat kemiskinan dan orang miskin adalah bagaimana kemiskinan dan orang miskin dijadikan “ladang” kita untuk menebar benih kebaikan, sehingga kemiskinan dan orang miskin tidak selalu dihujani dengan hujatan, cercaan dan makian.

Sebab, ketika Tuhan menciptakan kemiskinan dan orang miskin bukan tanpa tujuan. Sedemikian egonya kita yang dalam keseharian kita lebih banyak menahan hak orang lain, dari pada kita mau memberikan sebagian dari harta kita, sehingga untuk membuka lahan kebaikan itu, Tuhan tetap saja membiarkan kemiskinan dan orang miskin itu ada di sekitar kita.

Kalau kita kemudian sudah memantapkan diri dalam hati, kalau sebenarnya kemiskinan dan orang miskin adalah peluang kita untuk berbuat baik yang diciptakan Tuhan, mengapa kita harus memaki-maki, mencaci, mengusir mereka dari hadapan kita, Toh, Tuhan dengan sengaja menciptakan kemiskinan dan orang miskin sebagai alat Tuhan, agar ruang hati kita bersedia untuk terus menanamkan benih kebaikan antar sesama mahluk.

Jika teryata kemiskinan dan orang miskin adalah sekumpulan mahluk yang diciptakan Tuhan, tetapi kita usir mereka dengan tenpa memberi apapun pada mereka, bukankah kita sama saja sedang membuang kesempatan berbuat baik, yang sedang diberikan Tuhan di hadapan kita?

Dalam keseharian, kita sering melihat kemiskinan dan orang miskin itu seperti tinja yang menjijikkan. Itu karena kita tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa kemiskinan dan orang miskin itu diciptakan. Padahal, kemiskinan dan orag miskin di sekitar kita adalah “jembatan emas” untuk membuka diri dan hati agar kita mau berbagi antar sesama, karena semua harta yang kita punya, ada hak orang lain yang wajib kita berikan pada mereka.

Kemiskinan dan orang miskin, tidak kita sadari ternyata telah membawa jasa besar pada bangsa ini. Indonesia pernah disebut di mata internasional, sebagai bangsa yang mampu ber-swasembada pangan karena mampu membantu jutaan rakyat miskin terbebas dari krisis pangan. Kemiskinan, juga telah banyak membuka peluang bagi kita untuk terus melakukan pembersihan diri, pembersihan ego kepemilikan harta benda dari “kesadaran milik-ku” menjadi milik-Nya, hingga kita mau dan bersedia memberikan sebagian kecil dari harta yang kita punya.

Tuhan sepertinya memang belum bersedia melenyapkan kemiskinan dan orang miskin, karena kita masih perlu banyak berbuat, untuk membayar hutang-hutang kebaikan Tuhan kepada kita, sejak lahir hingga sekarang.

Untunglah, Tuhan belum mencabut kemiskinan dan menghabisi orang miskin. Itu pertanda, Tuhan masih berbaik hati dengan kita. Ini bentuk solidaritas Tuhan buat kita.  Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk melakukan perbaikan diri melalui kemiskinan untuk menyongsong kematian?

Pesan saya, janganlah kita hanya bisa menyimpan “tumpukan tinja” di dalam rumah, karena itu akan membuat kita makin tidak mengerti siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Lalu kita tidak pernah sadar ruang diri kita, dimana Tuhan dan dimana kita.

Jika di hadapan kita ada “jembatan emas” yang mengantarkan kita sampai pada kesempuraan ketataatan pada Tuhan dengan berbagi antar sesama, mengapa kita sering memilih menyimpan “tinja” di dalam rumah?**

Sumber Majalah Sindang Merdeka-Palembang, 1999-2001  

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *