Menyiapkan Wartawan Muslim, SJI Al-Badar Konsisten Gelar SJI

PALEMBANG, KS

Pekan ini, di awal September 2015, Pondok Pesantren Al-Badar Palembang, tetap konsisten menggelar Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI). Program yang sudah berjalan 1 bulan ini merupakan kerja bareng antara Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang dan Ponpes Yayasan Ponpes Al-Badar. Lembaga lain yang menjadi mentor utama program ini adalah jurnalis KabarSumatera.com.

Pertemuan pekan ini, Ahad, (13/9/2015) merupakan  kali kelima dalam program SJI yang direncanakan akan berakhir pada Oktober 2015. “Kita upayakan melalui SJI ini, para santri yang mayoritas mahasiswa bisa terdorong untuk menulis, terutama berkarya dalam bidang jurnalistik,” ujar Dwi Novari, S.Pd.I, M.Pd.I, Mudir Ponpes Al-Badar Palembang, di sela-sela proses belajar di SJI, belum lama ini di Palembang.

Materi yang diberikan, sejak awal pertemuan sampai pertemuan ke-empat, menyajikan dasar-dasar penulisan jurnalistik. Hal ini dilakukan karena mayoritas mahasiswa yang menjadi santri dalam SJI ini sebelumnya belum mengenal tentang dasar-dasar jurnalistik. Namun demikian, menurut Imron Supriyadi, Direktur LP2S Palembang, sekaligus mentor utama dalam program ini, dalam pratiknya nanti akan dibagi dua kelas, yaitu kelas fiksi dan non fiksi.

Kelas fiksi, disebut Imron sebagai pengembangan imajinasi santri SJI untuk menulis tentang apa saja yang terlintas dibenaknya. “Karya sastra dalam kelas fiksi, untuk memberikan kebebesan berpikir seluas-luasnya kepada santri. Dalam kelas fiksi santri dituntut berpikir liar dalam arti liar yang memberi kontrubusi pemikiran kepada publik,” ujar mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang ini.

Sementara materi di kelas non fiksi, para santri diajak menulis secara ilmiah dalam konteks karya jurnalistik, dan bukan dalam jalur akademik. “Ini dua hal yang berbeda. Keduanya menullis fakta, tetapi pada metode penulisan antara karya jurnalistik dan karya ilmiah dalam akademik akan berbeda. Namun keduanya harus menulis fakta. Salah satu perbedaannya, menulis berita, wartawan tidak boleh beropini dan menafsirkan, tetapi dalam karya ilmiah akademik , mahasiswa atau dosen boleh menafsirkan, menganalisa bahkan mengambil kesimpulan dengan teori yang ditemukan. Bisa membantah, membenarkan atau bahkan menyakahkan. Hal itu tidak terjadi dalam jurnalistik. Sebab wartawan hanya menulis fakta. Kesimpulannya berada di tangan pembaca,” tegas alumnus Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah IAIn Raden Fatah Palembang.

Memasuki pertemuan ke-empat pekan ini, Ahad (13/9/2015), santri SJI sudah mulai berlatih membuat lead berita dengan menerapkan rumus 5W+1H, sebagai rumus dasar jurnalistik. Setelah sebelumnya, santri SJI didaulat menulis feature, dan diajarkan tehnik wawancara secara spontan.

Selanjutnya, para santri dalam setiap materi diberi tugas menulis berita sesuai materi yang sudah disajikan sebelumnya. Evaluasi hasil kerja santri ini akan dilakukan pada pekan selanjutnya.**

SJI LPM Ukhuwah

Sebelumnya dengan materi yang berbeda, sekolah serupa juga digelar di Graha LPM Ukhuwah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Acara yang diprakarsai Korodinator Bidang Litbang LPM Ukhuwah ini bermula dari kegelisahan sejumlah kader terhadap pentingnya pengetahuan jurnalistik.

 

Suasana SJI LPM Ukhuwah UIN RF Palembang Sabtu 12 September 2015 di Graha Ukhuwah UIn RF Palembang (Foto : Dok.LPM Ukhuwah)

Suasana SJI LPM Ukhuwah UIN RF Palembang Sabtu 12 September 2015 di Graha Ukhuwah UIn RF Palembang (Foto : Dok.LPM Ukhuwah/Andreanto)

Imron Supriyadi, sebagai alumnus LPM Ukhuwah harus beberapa kali menekankan kepada kader LPM agar menyiapkan diri menjadi pelatih jurnalistik. “Sebagai calon jurnalis, Anda bukan sekadar menyiapkan diri menjadi jurnalis bagi diri sendiri, tetapi harus bersiap diri menjadi pelatih bagi adik-adik LPM yang baru. Sekarang Anda belajar sebanyak-banyaknya tentang jurnalistik. Dan besok atau lusa Anda punya kewajiban menularkan ilmu ini kepada generasi selanjutnya. Ini amal jariyah. Kita sudah mati, ilmu kita tetap bermanfaat, Ini investasi pahala,” ujarnya seolah menjadi ustadz di LPM kali itu.

 

Ada perbedaan materi antara SJI LPM Ukhuwah dan SJI Ponpes Al-Badar. Materi di SJI LPM Ukhuwah sudah mengusung tentang penentuan angle berita dan penguatan lead dalam berita. Sebab secara teori dan rumus dasar jurnalistik, di LPM Ukhuwah menurut Imron dianggap selesai.

 

“Jadi menurus saya, tidak lagi saya akan jelaskan tentang 5W+1H, sebab Anda sudah mendapatkan itu. Sekarang tinggal menerapkan bagaimana mengemas berita yang sederhana tetapi bisa memiliki news value yang bermanfaat bagi publik,” tegasnya, Sabtu (12/9/2015).

 

SJI LPM Ukhuwah dan SJI Al-Badar, pekan depan akan terus berlanjut, dengan mengevaluasi hasil karya jurnalis muda di UIN Raden Fatah Palembang dan Ponpes Al-Badar Palembang**.

 

 

TEKS  : TIM REDAKSI KS

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *