Saatnya Palembang Punya Bendungan, Tapi Warga (Tak Mendukung?)

PALEMBANG, KS

Banjir di Palembang hingga kini masih menjadi persoalan serius. Bukan hanya bagi warga tetapi juga Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Sudah menjadi rahasia umum, setiap kali musim hujan, sejumlah titik dan ruas-ruas jalan utama di Kota Pempek ini akan tergenang air. Hujan tak prlu sehari. Dua jam saja hujan mengguyur Palembang, secara pelahan jalan-jalan protokol akan berubah menjadi genangan air.

Namun upaya Pemkot untuk menanggulangi banjir setiap musim hujan, hingga kini tak juga membuahkan hasil. Kolam retensi yang sudah dibangun secara maksimal, ternyata tidak memberi solusi terhadap luapan air yang berlebih.

Parahnya, sistem drainase di kota ini yang sudah diperbaiki belum juga membuahkan hasil. “Sistem drainase sudah dibenahi secara maksimal. Tapi tidak bisa menanggulangi banjir. Luapan air dari anak Sungai Musi tetap saja meluas ke rumah-rumah warga. Dalam hal ini Palembang dibutuhkan bendungan untuk menampungnya,” ujar Bistok Simanjuntak, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII.

Tak tanggung-tanggung, hingga kini Pemkot Palembang sedang berusaha mencari lahan untuk membuat bendungan. “Bendungan itu dilengkapi pintu air dan rumah pompa seluas 1,7 hektare,” tegasnya.

Bahkan pemerintah pusat telah menyiapkan dana sebesar Rp 200 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel dan Pemkot Palembang masing-masing akan mengucurkan dana sebesar Rp10 miliar. “Dana ini khusus untuk pembebasan lahan,” tegas Bistok.

Namun, lagi-lagi rencana Pemkot ini terbentur sikap warga. Sejumlah warga disebut Bistok tidak mendukung terkait dengan pembebasan lahan. “Rencana ini kurang mendapatkan dukungan warga. Padahal lokasi itu sudah diproyeksikan menjadi tempat pembangunan bendungan. Misalnya, penduduk di kawasan Sekip Bendung. Mereka belum sepenuhnya mendukung keinginan pemerintah. Padahal ini untuk penanggulangan banjir,” ujarnya.

Kucuran dana APBN untuk pembangunan bendungan ini sejatinya sudah dikucurkan sejak 2011. Namun karena tidak ada lahan, terpaksa uang tersebut dikembalikan. “Ini sudah terjadi hingga dua kali. Namun begitu, pemerintah tidak akan menyerah. Kami akan tetap melakukan sosialisasi kepada warga, terutama yang berada di sekitar lokasi bakal dibagunnya bendungan. Kita ajak mereka untuk secara bersama mengatasi banjir. Sebab persoalan ini harus ditangani secara bersama. Kita bisa bayangkan, bagaimana jika sampai tiga tahun ke depan di Palembang tidak punya bendungan, bisa jadi titik banjir mencapai ratusan,” pungkasnya.

Normalisasi Kolam Retensi

Pemkot Palembang yang merancang pembangunan bendungan ini sebagai program yang beriring dengan normalisasi kolam retensi. Sebab saat ini Pemkot Palembang akan segera melakukan normalisasi terhadap 37 kolam retensi. “Ini  dilakukan untuk mengatasi persoalan banjir,” ujar Syafri Nungcik, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Palembang.

Paling tidak, ada sejumlah kolam retensi yang akan menjadi target normalisasi. Mulai dari kolam retensi di Simpang Polda, Kambang Iwak, di samping RS Siti Khadijah, Jalan Basuki Rahmat, Seberang Ulu II dan lainnya. “Semua itu akan dilakukan normalisasi,” tegasnya.

Normalisasi kolam retensi Palembang ini merupakan program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Palembang 2016. Anggarannya menggunakan dana dari APBD provinsi dan kota dibantu dari APBN. “Makanya dalam waktu dekat ini, normalisasi akan segera kita lakukan, mengingat penghujung bulan ini biasanya sudah memasuki musim hujan. Jadi hal ini harus diantisipasi bila terjadi banjir,” ujarnya.**

TEKS : IMAMAH AL GHONI

EDITOR : IMRON SUPIRYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *