Petani Karet, “Kami Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”

EMPAT LAWANG, KS – Kebutuhan ekonomi para petani karet di Kabupaten Empat Lawang semakin terhimpit, tak hanya akibat anjloknya harga komoditi unggulan perkebunan tersebut, hasil sadapan getah karet pun menurun drastis di musim kemarau.

Informasi dihimpun Kabar Sumatera menyebutkan, harga karet sejak beberapa bulan terakhir hanya dikisaran Rp 5000 per kilogram. Itupun karet dengan kualitas tatal sedang (TS), kalau jenis tatal banyak (TB), hanya dihargai dibawah Rp 4000 per kilogram.

Disisi lain, sejak memasuki musim kemarau akhir Juni 2015 lalu, hasil sadapan getah karet mengalami penurunan drastis. Akibat kekeringan dan cuaca panas pohon karet memasuki tahap gugur daun. “Biasanya hasil sadapan per satu hektar kebun karet mencapai 20 kilogram per hari, ini mau dapat 10 kilogram saja sulit. Itupun kalau punya kebun sendiri, bagaimana nasib petani yang sehari-hari hanya jadi buruh upah sadap, hasil sedikit dibagi dua dengan pemilik kebun,”ungkap Fendi (38) petani karet di Kecamatan Tebing Tinggi, kemarin (26/7).

Ia mengaku, saat ini nasib petani karet di Empat Lawang bagaikan “jatuh tertimpa tangga” hargo karet murah, hasil sadapan juga menurun. Sementara kebutuhan ekonomi semakin meningkat, menjelang tahun ajaran baru dan pasca Idul Fitri 1436 Hijriah. “Kapan harga karet normal, Rp 7000 perkilogram saja sudah lumayan,”imbuhnya.

Sementara itu Jili (36) pengepul karet keliling mengaku, sudah satu tahun terakhir harga pasaran karet anjlok. Para pengepul (touke, red) pun sudah banyak bangkrut, karena sudah banyak petani menyetop sadapan getah karetnya. “Kami kesulitan cari karet, anjloknya harga juga berpengaruh besar penurunan omzet pengepul,” jelas Jili menguraikan, harga jenis karet TS masih di kisaran Rp 5000 per kilogram, sementara kalau karet basah kotor masih di harga Rp 4000, karena terkendala di penggilingan.

Mengenai kualitas Jili menyebut, saat ini komoditi karet Tebing Tinggi sudah membaik, setidaknya para petani sudah tidak “nakal” menjual karet kotor. “Jarang ketemu karet kotor, langganan sudah diperingatkan kalau karet kotor tidak kita beli,” cetusnya.

Sebelumnya, kepala Dinas Kehutanan Perkebunan Pertambangan dan Energi (Dishutbuntamben) Empat Lawang, H Susyanto Tunut mengakui, setiap tahun tanaman karet mengalami masa gugur daun, terutama pada musim kemarau. Namun kondisi itu tak berlangsung lama, setidaknya satu atau dua bulan getah kembali normal. “Kita juga mengimbau petani karet, agar menjaga kualitas hasil produksi,”tukasnya.

Teks : Saukani

Editor : Imron Supriyadi

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *