Sistem Tebang-Bakar Membuka Lahan Kebun Marak, Empat Lawang Bebas Hot Spot

EMPAT LAWANG, KS – Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertambangan Energi (Dishutbuntamben) Empat Lawang memastikan, belum terdata titik panas akibat kebakaran hutan (Hot spot) di wilayah hutan bumi saling keruani sangi kerawati.

Namun demikian, tidak dipungkiri masih marak sistem tradisional tebang dan membakar hutan, untuk membuka lahan kebun. “Kalau titik hot spot belum ada, pembakaran lahan membuka kebun tradisional memang ada informasinya,” ungkap Kepala Dishutbuntamben Empat Lawang, H Susyanto Tunut, kemarin (13/7).

Susyanto mengakui, larangan pembakaran hutan, lahan ilalang atau semak belukar, sudah disosialisasikan ke masyarakat melalui perangkat desa sejak memasuki musim kemarau 2015. Meskipun tak ada lahan gambut potensi hot spot, tetap ditekankan sesuai intruksi Gubernur Sumatera Selatan, maklumat Kapolda Sumsel, Pangdam II Sriwijaya dan arahan Dishutbun Provinsi Sumatera Selatan.

Terhadap pelaku pembakaran hutan, bisa dikenakan sanksi pidana 10 tahun dan denda Rp 10 Miliar, sesuai ketentuan Undang Undang nomor 39 tahun 2014 pasal 108, bahkan jika dilakukan sengaja membakar hutan, bisa dikenakan sanksi pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 15 Miliar sesuai ketentuan Undang Undang Nomor 41 tahun 1999, pasal 78 ayat ke 3. “Sanksinya berat, makanya kita tekankan sekali agar masyarakat terutama para petani tidak asal-asalan saja saat membuka lahan kebun,” jelas Susyanto menambahkan, masih banyak ketentuan hukum lainnya terkait sanksi pembakaran hutan.

Dampak kejahatan pembakaran hutan, merugikan ekosistem flora dan fauna hutan, gangguan kesehatan akibat asap, gangguan terhadap kegiatan masyarakat internasional seperti pendidikan, transportasi dan perekonomian serta penurunan citra bangsa dan kecaman bahwa indonesia sebagai bangsa “pembakar hutan”.

Di Empat Lawang kata Susyanto, sistem tebang-bakar memang masih dilakukan petani untuk membuka lahan kebun. Namun, sejauh ini tidak membahayakan lahan sekitarnya karena masih skala kecil. Seyogyanya ada cara lebih efektif dan baik dengan sistem tebang saja, karena pasca pembakaran tanah kebun malah semakin kegan tandus.

“Waktu dibakar cacing tanah kan mati, mana mungkin tanah akan semakin subur. Kita sosialisasikan ini juga, agar sistem tradisional tebang-bakar tidak lagi terjadi,” imbuhnya.

Sebelumnya, fraksi PDI Perjuangan DPRD Empat Lawang menyampaikan, terkait maraknya pembakaran hutan untuk membuat kebun oleh petani, agar Dishutbuntamben segera menindak lanjuti kelapangan. “Ini musim panas, banyak petani buka lahan kebun dengan sistem tebang bakar. Pihak terkait kami minta segera menindaklanjutinya. Sebelum terjadi bahaya kebakaran hutan, harus ada pencegahan,” kata juru bicara fraksi PDI Perjuangan, Iin Hendri para paripurna pembahasan LKPJ bupati 2014, beberapa hari lalu. 

Teks: Saukani

Editor: Imron Supriyadi

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *