Sungai Musi Jadi TPA Sampah Terbesar di Empat Lawang

EMPAT LAWANG, KS – Musim kemarau 2015, kondisi sungai musi di wilayah Kabupaten Empat Lawang kian dangkal. Ironisnya, sungai yang menjadi icon daerah ini, kotor dan terkesan menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah terbesar.

Meskikupn Instansi terkait sudah seringkali menghimbau warga untuk tidak membuang sampah ke Sungai Musi, namun kenyataannya pinggiran Sungai Musi masih menjadi tempat “favorit” warga Kecamatan Tebing Tinggi membuang sampah.

Akibatnya Sungai Musi yang masih menjadi andalan warga Empat Lawang untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK) terlihat kotor oleh sampah yang berasal dari rumah tangga.

Pantauan Kabar Sumatera, Minggu (5/7), daerah aliran sungai (DAS) musi di wilayah Kelurahan Pasar Tebing Tinggi, banyak terlihat tumpukan sampah plastik dan jenis an organik lainnya. Sampah mengeluarkan bau tak sedap lantaran sampah yang dibuang warga tersebut sudah lama menumpuk, dan tak terbawa arus sungai lantaran debit sungai musi sedang mengecil karena memang di musim panas.

Dari pengamatan terlihat jika tumpukan sampah itu sudah biasa dibuang warga di sana. “Kami yang tinggal di bantaran sungai musi ini, kalau buang sampah langsung ke sungai, kan nantinya hanyut dibawa arus juga, ini biasa kami lakukan dari dulu juga begitu,”cetus Wati (40) salah seorang warga.

Dikatakannya, warga di sekitar bantaran kali musi selain memanfaatkan sungai musi untuk jadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, warga juga memanfaatkan sungai sebagai tempat Mandi, cuci dan kakus (MCK). “Ya sungai ini juga tempat mandi, apalagi semenjak aliran air PDAM terganggu, warga di sini rata-rata mengandalkan sungai musi untuk keperluan MCK,” imbuhnya.

Sementara itu Agim (43) warga lainnya mengaku harus membeli air galon untuk keperluan air minum dan memasak. Kondisi tersebut sudah terjadi selama tiga tahun belakangan ini. “Anda lihat sendiri, pasokan air bersih dari pipa PDAM banyaklah tidak mengalirnya daripada mengalirnya, manfaatkan sungai itu sudah tak mungkin karena sudah jadi kakus dan TPA sampah warga. Ya jalan satu-satunya saya harus beli air galon untuk keperluan minum dan memasak,” tukasnya.

Teks/Foto: Saukani

Editor: Imron Supriyadi

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *