Tiga Kelurahan Rebutan “Batu Bodoh”

EMPAT LAWANG | KS – Sejumlah warga tiga kelurahan di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang berebut kawasan “batu bodoh”. Ketiga kelurahan tersebut yaitu Kelurahan Tanjung Makmur, Kelurahan Pasar dan Kelurahan Kelumpang Jaya.

Kok diperebutkan ? Sebab, saat ini di kawasan daerah aliran sungai (DAS) musi “batu bodoh”, sedang beroperasi salah satu perusahaan tambang galian golongan C (batu pasir, red). Meskipun diduga kuari tersebut masih ilegal, adanya aktifitas galian C bisa mendukung perekonomian dan pendapatan masyarakat.

“La ade galian C baru berebut, dulu katek yang nak ribut,” cetus AR (45) warga Kelurahan Tanjung Makmur, kemarin (17/5).

Warga tadi menyebut, batu bodoh itu bukan batu akik, tapi sebutan saja untuk salah satu DAS musi. Memang ada batu cukup besar ditepi sungai, itulah disebut batu bodoh. Saat ini disekitar kawasan itu ada aktifitas tambang galian C, bisa jadi itulah penyebab saling klaim kepemilikan kawasan itu.

Lurah Tanjung Makmur, Eman Sulaiman mengakui adanya saling klaim oleh warga ketiga Kelurahandalam wilayah Kecamatan Tebing Tinggi tersebut, namun karena Ia sekarang ini menjabat sebagai Lurah di wilayah Kelurahan Tanjung Makmur, Ia tak menampik memperjuangankan aspirasi warga ia pimpin. “Ada yang bilang kawasan batu bodoh masuk wilayah Tanjung Makmur, ada juga bilang itu wilayah Kelurahan Kelumpang Jaya. Bahkan akhir-akhir ini juga terdengar kabar jika itu juga diklaim sebagai wilayah Kelurahan Pasar Tebing Tinggi. Yang jelas kami punya bukti otentik jika wilayah itu pernah diurus warga kami secara admistratif dan itu tidak ada sanggahan,” beber Eman.

Ia menyayangkan, ketika adanya aktifitas perusahaan galian C ilegal itulah muncul klaim kelurahan tetangga. Terkait keabsahan kata Eman, para tetua (tokoh) masyarakat Kelurahan Tanjung Makmur siap dikonfrontir dengan siapapun untuk menegaskan jika wilayah tersebut memang benar wilayahnya. “Tokoh masyarakat kami siap menegaskan kepada siapapun jika itu benar wilayah kami berdasarkan sejarah dan bukti tertulis,” imbuhnya.

Dilain pihak, Tokoh Masyarakat Kelurahan Kelumpang Jaya, Bastomi (82) menegaskan, jika wilayah kawasan batu bodoh berdasarkan sejarah terbentuknya Desa Lubuk Kelumpang dan sejarah terbentuknya Desa Tanjung Makmur sudah jelas. Kawasan batu bodoh itu wilayah Kelurahan Kelumpang Jaya dan bukan wilayah Tanjung Makmur apalagi jika Kelurahan Pasar Tebing Tinggi juga ikut mengklaim sangatlah lucu kedengarannya, sebab secara admistratif dari Desa Lubuk Kelumpang sebelum ditingkatkan status menjadi Kelurahan Kelumpang Jaya, tidak pernah ada perbatasan langsung di Sungai Musi dengan Kelurahan Pasar Tebing Tinggi.

“Saya tegaskan itu bukan wilayah Kelurahan Tanjungmakmur, apalagi Kelurahan Pasar Tebing Tinggi sangatlah jauh panggang dengan api,”cetusnya.

Bustomi mengulas, jika sebelum tahun 60an, belum ada desa Tanjung Makmur. Saat itu adanya gerombolan (Pemberontak) yang menguasai daerah hulu Sungai Musi. Karena takut dengan banyaknya gerombolan itulah eksodus warga di hulu Sungai mengungsi ke Tebing Tinggi.

“Mereka datang dari berbagai desa di daerah hulu. Atas kebijakan Pasirah waktu itu diberikanlah nanjungan (tanjung) itu sebagai tempat pengungsian. Karena memang mereka tidak punya tanah untuk bertani, rata-rata mereka bekerja sebagai kuli pasar, makanya saat itu nanjungan tempat mereka tinggal itu disebut Talang Gancu yang sesuai dengan rata-rata pekerjaan penduduk disitu, hingga akhirnya berubah nama menjadi Nanjungan Makmur atau Tanjung Makmur,”bebernya.

Sebelumnya Camat Tebing Tinggi, Rahmad Riandy melalui Sekretaris, Umar Hasan menegaskan, jika Pemkab Empat Lawang yang langsung memerintahkan pihaknya untuk segera memanggil pihak pengusaha tambang yang sudah menggunakan alat berat tersebut untuk mengklarifikasi sejauh mana izin operasional tambang material Galian C (Kuari) di kawasan Batu Bodoh di wilayah perbatasan Kelurahan Kelumpang Jaya dengan Kelurahan Tanjung Makmur tersebut.

“Kita akan panggil terlebih dahulu pihak perusahaan untuk mengetahui sejauh mana izin operasionalnya. Nanti akan berkoordinasi dengan pihak Lurah sesuai dengan intruksi dari Pemkab Empat Lawang, dari hasil pendataan kita itu masih masuk Kelurahan Pasar Tebing Tinggi,”tukasnya. (SAUKANI).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *