Titik Nadir Krisis Karakter

Realitas politik yang diiringi dengan banyaknya kasus korupsi dalam beberapa pekan silam, apalagi menimpa sejumlah petinggi negara dan kepala daerah, telah mengakibatkan tuduhan kalau bangsa ini sudah kehilangan karakter yang baik untuk mengantarkan rakyat lebih sejahtera.

Dengan kondisi seperti itu, kemudian beberapa pihak menilai, hal ini mengakibatkan sikap apatis masyarakat terhadap para pemimpin. Sikap ini semula tidak akan tumbuh dan berkembang dalam gelombang golongan putih (golput) dalam setiap pemilu. Tetapi setelah melihat berbagai kasus yang melibatkan orang-orang yang pada awalnya dipercaya, tetapi belakangan kemudian membelot dan membohongi rakyat, akhirnya arus sikap apatis ini terus berkembang. Lantas apakah ini juga akan terjadi juga pada pilpres mendatang?

Sikap apatis rakyat terhadap pemimpin bukan disebabkan banyaknya kasus korupsi yang telah menodai lembaga parlemen dan lembaga pemerintah. Namun sebaliknya, sikap yang demikian itu, karena dimata rakyat hal itu tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar mereka. Rakyat hanya akan merasa terusik jika kebutuhan dasar disentuh, seperti naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL), harga BBM, gabah dan sembako yang melambung tinggi. Jika tidak, maka rakyat tidak akan merasa terganggu dengan konflik politik di tingkat pusat dan daerah. Bahkan mereka tidak peduli siapa yang bakal memimpinnya. Rakyat berpendapat, siapapun pemimpinnya, selama ini tidak juga merubah nasib hidup mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tentu ini tantangan bagi calon kepala daerah yang akan ikut dalam kompetisi politik.

Namun meminjam istilah mantan praktisi politik Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sumsel, Dr Tarech Rasyid, M.Si, sikap itu sebagai akibat dari pola pikir sebagian masyarakat kita yang sudah sangat individualistik. Mentalitas dan karakter generasi bangsa ini sudah demikian materialistik, sehingga hampir semua persoalan sosial di masyarakat diukur dengan materi. Sangat banyak nilai-nilai kebangsaaan yang menjadi khas dari karakter bangsa ini sudah bergeser, sebagai akibat dari kuatnya cengkeraman kapitalisme yang menjerat rakyat dengan berbagai mimpi, baik melalui media maupun melalui simbol-simbol yang membuat sebagian rakyat terbuai mimpi.

Dalam kondisi seperti ini, kemudian belakangan muncul desakan tuntutan membangun karakter bangsa, terutama pengintegrasian pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan. Pembangunan karakter bangsa adalah upaya sadar untuk memperbaiki, meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran bangsa Indonesia. Untuk membangun karakter bangsa, haruslah diawali dari lingkup yang terkecil. Khususnya di sekolah, ada baiknya kita menganalogikan proses pembelajaran di sekolah dengan proses kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan nilai-nilai tersebut di atas dapat dilaksanakan melalui pembelajaran. Tentu saja pembelajaran yang dapat mengadopsi semua nilai-nilai karakter bangsa yang akan dibangun.

Bahkan, para tokoh agama menyebut, membangun karakter bangsa adalah sebuah Jihad. Meskipun interpretasi jihad sekarang menjadi begitu beragam, mulai dari perang melawan musuh nyata, perang melawan iblis, sampai perang melawan hawa nafsu saat ramadhan. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi capres dan cawapres yang mutlak diwujudkan.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *