Stop Jadi Buruh dan Pegawai

Demo Buru. / Foto : Google Image

Demo Buru. / Foto : Google Image

PALEMBANG, KS – Hari Buruh seperti menjadi penanda ketidakberdayaan kelompok masyarakat. Setiah tahun tuntutan yang sama selau digulirkan tak juga terwujud. Tapi dari sekelompok buruh, adakah berpikir bagaimana berhenti jadi buruh dan keluar dari zona nyaman, Kemudian bangkit menjadi diri sendiri mulai dari nol?

Keinginan menjadi kaya adalah hak setiap orang. Tapi adakah pengusaha, investor  (pemilik modal) yang beroikir bagaimana agar karyawannya menjadi kaya? Jawabnya tidak. Investor  hanya berpikir tentang bagaimana untung dan rugi dari hasil produktifitas perushaan yang ia miliki. “Bila terjadi krisis ekonomi, maka yang dilakukan adalah efesiensi, dengan cara mengurangi biaya karyawan dan menaikkan produktifitas,” ujar Ariyanyo Hidayat, Praktisi Bisnis Multi Level Marketing  (MLM) K-Link Indonesia, dalam sebuah seminar di Palembang.

Oleh sebab itu, aksi demonstrasi buruh dalam setiap peringatan May Day setiap tahun, sampai kapanpun akan menjadi agenda internasional semata tanpa menberi dampak apapun. Apalagi merubah buruh menjadi kaya, itu jauh panggang dari api. Itu hayalan! Seperti pungguk merindukan bulan. Sebab seumur dunia ada, buruh tetap saja akan selalu dibutuhkan perusahaan, yang posisinya tidak pernah akan naik, kecuali harus keluar dari zona nyaman (berhenti jadi buruh).  Pun demikian halnya dengan pegawai. Selama negara ini masih ada, pegawai akan selalu menjadi buruan alumnus perguruan tinggi. Di negeri ini, profesi pegawai menjadi profesi primadona bagi setiap orang tua.

“Di Indonesia, profesi paling keren dan paling dihormati adalah pegawai atau karyawan. Sebab dengan SK yang dimiliki, seorang pegawai bisa kredit motor, rumah atau yang masih lajang bisa melamar calon isteri. Kenapa disetujui? Karena dia pe-ga-wai,” ujar putra asli Palembang ini.

Kesadaran kuat menjadi buruh karyawan dan pegawai di negeri ini adalah korban penjajahan. Daam kurun waktu terntentu Indonesia terlalu lama dijadikan buruh oleh negara lain, sehingga mentalitasnya terbagnun, bukan menjadi pengusaha tapi siap menjadi buruh, pegawai atau karyawan. Parahnya kita sudah sebagian menajdi tamu di rumah sendiri. “Kita berpuluh tahun dibesarkan oleh guru dan dosen, sehingga mentalitas kita menjadi pegawai. Kalau pegawai kemana-mana dibayari. Karyawan juga. Pulsa dibayari, rumah, sampai makan juga dibayari. Tapi kalau pengusaha, jangankan rumah, mau ke warung saja harus membayar sendiri, bukan minta dibayari,” tegasnya.

Mentalitas selalu ingin mendapat gratisan ini, sehingga membuat warga di negeri ini memilih jadi buruh, karyawan atau pegawai. Padahal tanpa disadari, tidak ada bos perusahaan, gubernur, bupati dan wali kota yang berpikir bagaimana rakyatnya kaya, apalagi pemilik modal, jauh dari pikiran itu. “Anda nggak kira-kira pengusaha yang memikirkan bagaimana agar karyawannya bisa kaya?” tanya Irwansyah, Praktisi Bisnis di Palembang  pada acara seminar bisnis di Palembang.

Meski ada keinginan kaya, namun sebagian warga di negeri ini masih enggan keluar dari zona nyaman. “Artinya untuk menjadi diri sendiri, agar tidak terus menerus menjadi buruh, pegawai dan pegawai kita harus berani keluar dari zoina nyaman. Harus keluar dari kebiasaan kita minta digaji dan difaslitasi untuk kemudian bangkit berdiri sendiri, dengan mulai dari nol,” tegasnya.

Tentu, untuk berhasil diluar menjadi buruh, karyawan dan pegawai, dibutuhkan sikap tegas seseorang dalam memandang hidup. Termasuk bagaimana siap merubah cara pandang dalam menjalani bisnis dari sekadar menjadi buruh, karyawan dan pegawai. “Sebab tidak ada bos yang ingin karyawannya menjadi kaya,” tegasnya.

Faktor penting agar kita sukses dalam mengeluti bisnis, disebut Irwansyah, 85 persen ditentukan oleh faktor sikap. “Sikap  itu cara pandang. Bagaimana Anda akan sukses kalau Anda sangat negatif terhadap usaha yang sedang Anda jalani? Kalau ditanya, semua kita ingin suskes. Lalu kita bertanya kenapa banyak sukses yang kemudian kaya? Karena cara pandang mereka terhadap bisnis yang dijalani sangat positif. Tapi seandainya Anda memandang bisnis dengan pandangan sempit, sebelah mata, bagaimana Anda akan sukses? Kalau memang kita ingin sukses dalam bisnis,  tanyakan dulu pada diri kita, apakah sikap kita sudah benar atau belum dalam menilai bisnis yang kita geluti? Sukses itu hanya menunggu waktu. Tapi hal yang penting mempebaiki kualitas diri kita, yaitu cara pandang kita agar suskes itu bisa lebih mudah kita raih,” tegasnya.**

 

TEKS : IMRON SUPRIYADI

EDITOR : S HIDAYAH

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *