Petugas P3N Keluhkan “Setoran” ke KUA

KAYUAGUNG – Sejumlah petugas pembatu pencatat nikah (P3N) di Kecamatan Pedamaran mengeluhkan adanya setoran yang harus mereka bayar ke Kantor Urusan Agama (KUA) setiap kali mereka menikahkan orang. Besaran uang yang mereka setor sebesar Rp175 ribu untuk setiap orang menikah.

“Ya begitulah aturan mainnya. Malahan uang setoran itu sudah dibuat perjanjian tertulis oleh kepala KUA bahwa setiap kali kami menikahkan dia mesti dapat jatah sebesar Rp175 ribu” kata salah seorang P3N di Pedamaran yang namanya minta dirahasiakan.

Dia menjelaskan, sejak ada aturan baru ini, biaya nikah sebesar Rp600 ribu yang harus disetor ke bank.

“Nah dari Rp600 ribu itu, kami setorkan ke bank. Tapi kami masih dapat duit, sebasar Rp275 ribu yang ditransfer ke rekening kami. Artinya bank hanya menerima Rp325 ribu,” jelasnya.

Nah, dari uang yang diperolah sebesar Rp275 itulah. Pihak KUA Pedamaran meminta jatah Rp175 ribu. Dan kami hanya dapat Rp100 ribu.

“Jadi banyaklah jatah orang KUA dong. Apa benar itu aturannya,” ujarnya mempertanyakan.

Lanjut dia, pihaknya pernah mempertanyakan mengapa harus setor sebanyak itu.

“Kalau Rp50 ribu saya rasa tidak keberatan. Karena kami mau dapat jugalah. Tapi jawaban dari orang KUA, bahwa sebenarnya P3N tidak berhak dengan uang itu. Beruntung kata dia kami ini diperbantukan. Kalau tidak semua uang itu pasti jadi miliki Kepala KUA,” katanya menirukan ucapan KUA.

Akhirnya, dengan kondisi demikian, P3N cuma bisa pasrah dengan keadaan.

“Ya mau apalagi kami tidak bisa berbuat banyak. Kalau kami melawan kami bisa diberhentikan. Tapi logikanya apakah bisa KUA bekarja tanpa kami P3N ini kalau kami berhenti,” katanya kembali bertanya.

Minimnya pendapatan para P3N, membuat mereka terus mengeluh. Apalagi kata dia, pemerintah telah menghapuskan insentif ustad dan ustadza serta P3N. Yang setiap tahun mereka terima.

“Kami ini mengeluh lantaran pendapatan kami minum, mana lagi tahun ini pemerintah tidak lagi memberikan kami insentif karena dihapuskan jaman Pak Bupati Iskandar ini. Jadi betambah parah,” keluhnya.

“Waktu belum dihapuskan, lumayan lah dek, soalnya aku kan selain P3N juga guru ngaji, jadi dapt dua jatah. Tapi sekarang tidak ada pemasukan. Sementara selain P3N saya pendapatan saya sebagai guru tak bisa mencukupi karena hanya Rp100 ribu per bulan honor saya,” ungkapnya sedih.

Sebelumnya Kepala Kemenag OKI, Ishak Puteh, pernah mengatakan, semua P3N harus menaati aturan mengenai biaya nikah yang telah ditetapkan sebesar Rp600 ribu.

Setelah aturan itu dipatuhi oleh para P3N, ternyata praktek di lapangan justru anak buahnya, yakni pihak KUA yang meminta jatah dengan P3N dengan alasan P3N tidak berhak dengan uang nikah itu. Justru mereka mesti berterima kasih karena telah diperbantukan oleh KUA.

 

TEKS       : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : FJ ADJONG

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *