Naikkan Angka Ekspor jadi “PR” Sumsel

Aktivitas bongkar Muat Peti Kemas. | Foto ; Bagus Kurniawan KS

Aktivitas bongkar Muat Peti Kemas. | Foto ; Bagus Kurniawan KS

PALEMBANG – Adanya instruksi Pemerintah Pusat yaitu Kementerian Perdagangan RI, yang meminta Sumatera Selatan (Sumsel) harus memenuhi pencapaian ekspor tiga kali lipat dari tahun 2014. Hal tersebut dianggap tugas berat bagi Disperindag Sumsel guna memenuhi target tersebut. Pasalnya, arus lalu lintas barang dan perdagangan di Sumsel belum begitu lancar.

Kepala Disperindag Sumsel, Permana mengakui, usai melakukan pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu diumumkan setiap provinsi di Indonesia harus meningkatkan jumlah dan besaran ekspor sebesar 300 persen atau tiga kali lipat dari pencapaian tiap tahunnya.

“Ini diberlakukan tahun ini. Jelasnya ini membuat setiap provinsi kaget. Apalagi Sumsel yang notabenenya belum punya pelabuhan atau outlet untuk menjadi lokasi masuk dan keluar barang,” kata dia.

Target yang diberikan itu, dianggap cukup sulit dipenuhi oleh Disperindag Sumsel. Meskipun di Sumsel, sumber daya alam (SDA) sangat melimpah ruah. Seperti karet, batubara, Crude Palm Oil (CPO), kerajinan dan lain sebagainya.

“Kita memang ditarget bisa meningkat tiga kali lipat, dan itu mungkin sulit dicapai. Karenanya saya meminta kepada Menteri Perdagangan untuk memberikan rincian target tiap komoditas yang ada di Sumsel. Ini karena komoditas di Sumsel cukup beragam,” beber Permana.

Diketahui, ekspor nonmigas di Sumsel terus berjalan fluktuatif tiap tahunnya yakni 1.559,6 juta US$ (2009), 3.013,4 juta US$ (2010), 4556,0 juta US$ (2011), 3.733,6 juta US$ (2012), 2.209,0 juta US$ (2013). Data yang dimiliki Disperindag Sumsel, kata dia, hanya Januari-Oktober 2014, dimana hingga Oktober 2014 tercatat 2.130,6 juta US$.

“Kami masih menunggu jawaban dan arahan dari Kementerian Perdagangan, besaran-besaran ekspor nonmigas yang akan ditingkatkan. Jadi jika sudah jelas maka kami bisa upayakan per sektor dan per jenis komunitas yang akan ditingkatkan di tiap daerah,” ungkapnya.

Permana menjelaskan, sebenarnya di tahun ini Pemprov Sumsel optimistis nilai ekspor bisa meningkat sekitar 3-5 persen, meski trennya terus mengalami penurunan sejak 2011.

Salah satu strategi yang akan diterapkan pemerintah adalah memperluas pasar non tradisional, terutama untuk komoditas andalan. “Seperti komoditas karet, Sumsel sudah punya banyak pesaing produsen baru dari luar negeri makanya perlu memperluas pasar ke negara lain,” katanya.

Dia mengemukakan saat ini produsen baru, seperti Vietnam, Kamboja dan Myanmar telah merambah pasar tradisional ekspor karet Sumsel. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, karet memang menempati peringkat pertama ekspor nonmigas dengan nilai ekspor mencapai US$1,72 miliar per November 2014.

Nilai tersebut menurun drastis sebanyak 24,89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai US$2,4 miliar. Adapun nilai ekspor Sumsel secara keseluruhan mencapai US$2,85 miliar, merosot 19,72 persen dari sebelumnya US$3,55 miliar.

“Kita bisa saja mencapai target yang ditentukan Pemerintah Pusat itu. Itu bisa saja terjadi apabila sarana dan prasarana Sumsel dalam segi arus lalu lintas barang tersedia. Tapi sampai saat ini pelabuhan dan Tanjung Carat belum juga selesai perencanaan dan pembangunannya. Baik pelabuhan, jalan, dan lain sebagainya harus secepatnya diselesaikan dengan baik,” pungkasnya.

 

TEKS       : IMAM MAHFUZ
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *