Para Sopir Angkot Masih Banyak Pakai Tarif Lama

Ilustrasi Angkutan Kota | Dok KS

Ilustrasi Angkutan Kota | Dok KS

PALEMBANG – Usai ditetapkannya tarif angkutan umum Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) pekan lalu, seharusnya sopir angkutan mematuhi untuk tidak lagi menggunakan tarif yang lama. Namun, masih saja banyak sopir angkutan kota (angkot) yang masih memakai ongkos lama alias nakal.

Berdasarkan pantaun Harian Umum Kabar Sumatera, Kamis (29/1), masih banyak sekali sopir angkot nakal yang masih menggunaklan tarif lamanya. Seperti angkutan umum jurusan Perumnas dan jurusan Pakjo.

Dina, pengguna angkutan umum jurusan Pakjo merasa bingung setiap kali membayar ongkos, terkadang ia harus dimarahi sopir saat membayar dengan ongkos yang menurut supir kurang.

“Kalau ketemu supirnya yang baik terima-terima saja ongkos dengan tarif baru. Tapi, keseringan malah dapat sopir yang galak,“ ujar Dina, Kamis (29/1).

Cetus Dina, setiap hari ia harus mengeluarkan ongkos angkot Rp 12 ribu untuk sampai ke tempat kerja. Tentu bagi Dina sangat memberatkan kalau sopir masih memberlakukan tarif lama, karena sudah tidak sesuai lagi dengan pendapatannya saat ini.

“Gaji belum naik, jadi kalau bisa tarif diturunkan seperti semula Rp3000, kalau begini terus bisa tekor saya, mana lagi belum dihitung untuk makannya, “ tuturnya.

Lain halnya yang dikatakan Feri. Seorang supir bajaj berkata semua ini kesalahan pemerintah yang menaik turunkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan waktu yang relatif cepat.

Gimana tidak bertahan dengan tarif lama, sementara setoran, sparepart dan sembako semua naik, pastinya mereka juga harus memenuhi kebutuhan itu, kalau tidak seperti itu pasti mereka bakalan bingung buat cari tombokkan,” ucap Feri

Ongkos yang seharusnya Rp 4000 dan turun menjadi Rp 3.200 juga memberatkan Yadi, supir angkutan umun jurusan Perumnas yang masih menggunakan tarif lama, dikarenakan kebutuhan lainnya tidak ikut turun,

“Mana mau sih kita mengurangi penghasilan, sementara semuanya naik. Imbasnya bukan hanya di ongkos, tapi juga sewa kendaraan kan naik, onderdil juga naik, ya. Bisa dibilang faktor dari masih menggunakan tarif lama karena onderdil dan sembako naik, itu jadi salah satu faktor nya,” ujar Yudi saat ditemui Kabar Sumatera di sela-sela istirahatnya di depan Palembang Square.

 

TEKS       : YUNI DANIATI

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *