Gara-gara PNS dilarang Rapat di Hotel, Pengusaha Hotel Banyak Merugi

PALEMBANG – Berlanjutnya kebijakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) soal larangan bagi Pegawai Sipil Negeri (PNS) melakukan rapat di hotel sangat berdampak pada pendapatan pengusaha hotel.

Dengan adanya kebijakan Menpan Nomor 10 Tahun 2014 ini, membuat para pengusaha hotel di Sumsel khususnya yang tergabung di Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) harus mengalami kerugian.

Solahuddin Sekretaris PHRI Sumsel mengatakan, jika surat edaran tersebut berdampak banyak bagi kelangsungan usaha perhotelan, baik dari segi pemasokan bahan makanan maupun kelangsungan kontrak kerja kepada para pegawainya.

“Gara-gara surat edaran itu banyak sekali pengaruhnya, Contoh saja, banyak karyawan harian yang harus diistirahatkan, kalau memang pihak hotel tidak sanggup bayar, itu terpaksa diistirahatkan selamanya untuk melanjutkan kerja, lalu pemasok daging dan sayur juga berkurang, banyaknya ruangan di hotel yang jadi tidak maksimal digunakan, seperti aula atau ruang rapat yang sudah disediakan pihak hotel, jadi tidak lagi banyak digunakan,” katanya kepada Kabar Sumatera, Kamis (29/1).

Biasanya pada tiap akhir tahun, penghasilan hotel meningkat tajam. Terlebih lagi kebanyakan dari dinas birokrasi sering menghabiskan alokasi dana tahunan untuk menggelar rapat dan kegiatan sejenisnya di hotel. Namun setelah kebijakan tersebut keluar pada 1 Desember 2014, para pengusaha perhotelan hanya mendapat rugi

Dalam mengeluarkan kebijakan, lanjutnya, seharusnya pemerintah harus berpikir ulang. Jika kegiatan rapat dialihkan ke kantor, pengeluaran pemerintah juga akan semakin besar. Salah satunya dengan menambah kebutuhan peralatan konsumsi di kantor dan lainnya.

“Karena surat edaran tersebut, pengeluaran pemerintah bisa lebih besar. Kantor kantor harus beli alat katering untuk kebutuhan konsumsi selama rapat, itu kan biayanya besar sekali. Jadi, tolong bagi pemerintah untuk berpikir ulang tentang dampak dari kebijakan ini,” lanjutnya.

 

TEKS      : YUNI DANIATI

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *