Warga Miskin di Sumsel Berkurang 15 Ribu Orang

ilustrasi | Dok KS

ilustrasi | Dok KS

PALEMBANG – Badan Pusat Stastik (BPS) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Sumsel hingga September 2014 hanya turun 15.034 orang atau 0,29 persen dibandingkan semester sebelumnya. Secara total penduduk miskin September capai 1.085.795 orang atau 13,62 persen dari Maret 2014 capai 1.100.829 orang atau 13,91% persen.

Kepala BPS Sumsel Bachdi Ruswana mengatakan, meski di Sumsel sering digelar event-event besar, namun hal tersebut tidak terlalu berpengaruh bagi penurunan masayarakat yang miskin. Justru event-event tersebut hanya dapat dinikmati oleh para pedagang-pedagang besar dengan keutungan berlipat-lipat.

“Setiap tahun angka kemiskinan berfluktuatif naik turun. Sedangkan dengan adanya event-event besar yang digelar di Sumsel hanya bersifat mempromosikan Kota Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya ke negara-negara luar,” katanya, Rabu (28/1).

Dia merincikan pada September 2012 lalu jumlah penduduk miskin di Sumsel mencapai 1.043.620 orang atau sekitar 13,48 persen, Maret 2013 sekitar 1.110.530 orang atau sekitar 14,24 persen, September 2013 penduduk miskin mencapai 1.104.569 orang atau 14,06 persen dan Maret 2014 sekitar 1.100.829 orang atau 13,91 persen.

“Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami kenaikan 0,03 persen atau mencapai 3.736 orang. Sedangkan penurunan penduduk miskin terjadi di perdesaan sekitar 0,46 persen atau sekitar 18.770 orang. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan,” jelasnya.

Secara umum selama Maret-September 2014, lanjut dia, garis kemiskinan sedikit naik 2,90 persen dari Rp 298.824 per kapita per bulan menjadi Rp307.488 per kapita per bulan. Sementara garis kemiskinan perkotaan naik sekitar 2,76 persen dari Rp336.929 per kapita per bulan pada Maret 2014 menjadi Rp 346.238 per kapita per bulan pada September 2014. Sedangkan garis kemiskinan perdesaan naik 2,98 persen.

Dia menuturkan komposisi penduduk miskin menurut tempat tinggal (perkotaan dan perdesaan) tidak banyak berubah dimana sebagian besar penduduk miskin berada didaerah perdesaan sekitar 65,85 persen atau turun dari Maret 2014 sebesar 66,65 persen.

“Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” jelasnya.

 

TEKS        : AMINUDDIN

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *