Butuh 3 Tahun Lagi untuk Terapkan E-Sabak

Ilustrasi | Liputan6.com

Ilustrasi | Liputan6.com

PALEMBANG – Penerapan fasilitas “tablet” yang disebut E-Sabak sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar masih terlalu dini. Oleh sebab itu fasilitas tersebut belum bisa diterapkan. Kalaupun akan diterapkan membutuhkan waktu tia tahun lagi. “Saya pikir kalau untuk wacana boleh saja, akan tetapi untuk pelaksanaan 2 hingga 3 tahun ke depan baru siap,” ujar Prof Dr Abdullah Idi, M.Ed, Pengamat Pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, belum lama ini.

Pernyataan itu menyusul adanya rencana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan untuk menggunakan tablet yang dinamai E-Sabak sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar bagi sekolah.

Anies mengatakan di berbagai media, sekalipun sudah menggunakan E-sabak, namun untuk menulis akan tetap menggunakan kertas atau buku. Menurut Anies tablet hanya akan dipakai sebagai media penyimpan materi pelajaran.

Tujuaanya, menurut Anies selain menghemat kertas, penggunaan E-Sabak juga dapat menjaga kualitas buku karena tidak dipengaruhi faktor lain seperti kertas, distribusi atau kerumitan logistik. E-Sabak juga dirancang untuk bersifat interaktif.

Namun, Menurut Abdullah Idi, hal itu ini belum tepat. Selain belum mantapnya kurikulum, mayoritas sekolah juga belum punya alat elektronik dan teknologi seperti itu. Belum lagi untuk pengadaan Esabak membutuhkan anggaran yang sangat besar.

“Saya pikir hal itu belum bisa. Apalagi kurikulum juga belum mantap, belum lagi kita masih dihadapkan dengan honor dan gaji mereka,”katanya.

Untuk konsepnya, menurut Abdullah Idi menganggap sudah bagus. Namun kendalanya adalah dari guru dan  anak-anak yang belum siap dengan sistem elektronik, terlebih di daerah-daerah. “Kalau ide dasar dan konsepnya bagus, tapi realitasnya belum. Anak-anak juga belum siap dengan itu. Terlebih yang berada di daerah, guru-guru pun belum banyak yang paham dengan komputer,” katanya.

Lebih lanjut, Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang ini menambahkan, konsep dari pemerintah untuk mengalihkan penggunaan buku ke tablet butuh proses yang panjang, sehingga penerapannya bisa maksimal dan tidak mengalami kendala.

Rencananya penggunaan tablet sebagai buku teks di sekolah, Kemendikbud juga akan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan informasi (Kemenkominfo), Kementerian Pariwisata serta PT Telkom tentang layanan internet untuk daerah 3T dan layanan email untuk sekolah, guru dan siswa. Kerjasama antar kementerian ini penting mengingat Kemendikbud memiliki jaringan yang sangat luas, yaitu 208 ribu sekolah di Indonesia.
TEKS       : ANDI HARYADI

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *