Pemprov Sumsel Uji Sampel Apel Berbakteri

Ilustrasi Buah Apel | Dok KS

Ilustrasi Buah Apel | Dok KS

PALEMBANG – Menyusul adanya buah apel impor jenis Granny Smith dan Gala, yang mengandung bakteri berbahaya buatan Bidart Bros, California (AS). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel akan segera melakukan uji sampel tiap buah impor yang dijual di pasaran.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sumsel, Amruzi Minha menegaskan, bersama dengan BPOM pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi pusat penjualan buah-buahan dan distributor, guna mengambil sampel buah impor yang dijual di pasar modern maupun tradisional.

“Walaupun apel asal Amerika tersebut belum masuk pasar Sumsel, kita akan tetap melakukan pengecekan ke lapangan. Karena ini dirasakan sangat perlu untuk lebih memastikan bahwa apel yang terinfeksi bakteri Listeria Monocytogenes, tak beredar di daerah kita,” ungkap Amruzi saat diwawancarai di kantornya, Selasa (27/1).

Pada umumnya, terang Amruzi, apel impor asal AS tidak masuk karantina untuk dijual di Sumsel maupun Indonesia secara besar. Sebab, apel impor yang dijual di Sumsel masih didatangkan dari Tiongkok, Australia, dan Selandia Baru.

“Akan tetapi, kita tetap waspada jika ada oknum pedagang yang kedapatan menjual produk tersebut,” tegasnya.

Menurut Amruzi, secara regulasi, Pemerintah Pusat telah membuat peraturan ketat, mengenai peradaran panganan segar yang menjadikan seluruh buah impor harus melewati serangkaian uji setifikasi jelas, dan kelayakan kualitas buah yang diedarkan dipasaran. Namun, dia menuturkan, serangan buah impor bisa saja tetap masuk oleh para oknum penjual dan distributor dengan memanfaatkan jalur pelabuhan tikus dan sebagainya.

“Kita juga menunggu laporan masyarakat kalau mereka melihat Apel merek Granny Smith dan Gala kalau ternyata ada yang menjual dipasaran, segera laporkan saja,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjutnya, adanya isu beredarnya buah apel berbakteri tersebut, yang selalu diwaspadai ialah maraknya buah yang mengandung formalin di pasaran.

Diakuinya, pengawasan buah berformalin cukup sulit dilakukan mengingat kebanyakan oknum pelaku adalah para pedagang, bukan dari kalangan distributor dan ritel.

Ditambahkan oleh Kepala Otoritas Kompetensi Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) BKP Sumsel, Bambang Suhanto menjelaskan, produk buah impor yang berbahaya sulit diketahui oleh para pembeli. Karena identifikasinya harus melalui proses laboraturium.

Menurutnya, buah-buahan impor yang berbahaya banyak mengandung plestisida, lilin, dan formalin.

“Buah yang diberi lilin dan plestisida bisa hilang jika dicuci bersih, tapi kalau mengandung formalin tak mungkin hilang. Tapi buah berformalin biasanya pada buah jeruk, anggur, dan apel,” bebernya.

Untuk itu, dia pun menyarankan masyarakat dapat lebih selektif membeli buah. Yaitu, dengan membeli penganan buah lokal yang jauh lebih aman ketimbang produk impor.

TEKS:IMAM MAHFUZ
EDITOR:RINALDI SYAHRIL


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *