Kepala Pasar 10 Ulu Bantah Jual Beli Kios

Eksekusi ruko di pasar 10 Ulu 22 januari lalu. | Foto ; Bagus Kurniawan

Eksekusi ruko di pasar 10 Ulu 22 januari lalu. | Foto ; Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Tudingan pedagang Pasar 10 Ulu Palembang, terkait jual beli rumah toko ruko) atau kios dengan harga Rp 60-Rp 100 juta, dibantah keras oleh Kepala Pasar 10 Ulu Palembang, Feri.

“Tidak ada jual beli kios. Pembangunan ruko itu swadaya pedagang, jadi uang pedagang kita bangun ruko, tidak ada jual beli,”ungkapnya, saat dibincangi, di Pasar 10 Ulu, Senin (26/1).

Feri mengatakan, uang swadaya pedagang tersebut kisaran Rp 15-Rp 35 juta setiap kios. Jadi, tudingan pedagang yang menyebutkan biayanya mencapai ratusan juta tidak benar.

“Biayanya disesuaikan dengan bangunan, artinya jika pedagang menginginkan tambahan seperti pintu dan lainnya, biaya akan ditambah. Tapi biayanya hanya Rp 15-Rp 35 juta setiap kios,”kilahnya.

Feri mengaku, perbaikan yang dilakukan pihaknya tersebut semata-mata untuk membantu para pedagang, karena bangunan lama sudah tidak layak lagi untuk ditempati.

“Awalnya kami terima laporan, bahwa ada pedagang kepalanya bocor yang diakibatkan genteng jatuh karena bangunan sudah jelek, jadi kami langsung melakukan pembangunan atas permintaan pedagang,”akunya.

Ditanya apakah ia mengetahui bahwa bangunan tersebut tidak ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ? Feri menjawab, hal itu urusan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya.

“Tapi, bangunan yang dibongkar itu sudah jauh masuk kedalam. Artinya sudah mundur 1,5 meter dari bangunan lama, kalau IMB kami tidak tahu, kami hanya membangun,”ujarnya.

Sebelumnya, Dirut PD Pasar Palembang Jaya, Apriadi Ces Busri membantah, jika pihaknya sudah melakukan jual beli ruko di pasar 10 Ulu tersebut.

“Kami tidak pernah jual kios pada pedagang,”katanya.

Apriadi mengaku, bangunan ruko tersebut atas permintaan pedagang, karena dikawasan tersebut kumuh. Oleh itu, pedagang meminta kepada PD Pasar untuk dibuat permanen.

“Bangunan itu permintaan pedagang itu sendiri. Soal pembongkaran, kami tidak ada kewajiban menggantinya,”katanya.

Sambung Apriadi, karena yang melakukan pembongkaran pihak Satpol PP, silahkan pedagang tanyakan ke Satpol PP terkait hanti ruginya.

“Soal izin, kami tidak tahu. Karena itu pedagang yang minta di benahi, kalau di eksekusi soal izin. Ya kami tidak tahu,”ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang pasar 10 Ulu, yang ruko nya dibongkar, Ani mengatakan, sementara waktu 28 pedagang yang ruko nya dibongkar dipindahkan ke depan, tepatnya di Pasar 10 Ulu yang baru selesai dibangun oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang.

“Sementara kami pindah di sini, tapi ukurannya kecil yakni 1×2 meter saja. Padahal ruko kami yang dibongkar berukuran 2×2,”katanya.

Sambung Ani, ia dan pedagang lainnya meminta kepala Pasar atau PD Pasar Palembang Jaya mengembalikan uang mereka.

“Kami minta uang kami dikembalikan, dengan besaran yang sama yakni Rp 60-Rp 100 juta. Berdagang ditempat yang baru ini sepi, mana tempatnya sempit,”tutupnya.

 

TEKS        : ALAM TRIE MARSATA

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *