Duh, Ikan Salai Sepi Pembeli

Penjual Ikan Salai sedang Melayani Pembeli, di Jalan Alamsyah Ratuprawira negara. | Foto : Ferry Hotman

Penjual Ikan Salai sedang Melayani Pembeli, di Jalan Alamsyah Ratuprawira negara. | Foto : Ferry Hotman

PALEMBANG – Ikan salai merupakan salah satu produk olahan khas asal Sumatera Selatan yang tahan lama dan relatif murah harganya. Ikan salai sangat cocok biasa dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung yang datang ke provinsi ini.

“Tapi, pekan-pekan ini sangat menyedikan penjual ikan salai sepi didatangi pembeli akibat musih hujan dan pasokan ikan berkurang,” ujar Holilah, penjual ikan salai di Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara Bypass Musi II, Palembang, Selasa (27/1).

Kata Holilah, sekarang ini sulit untuk mencari keuntungan bahkan modal pun tidak kembali. Dalam sehari biasanya omzet suplai Rp 2 juta apalagi di bulan puasa, tapi sekarang sulit hanya Rp 300 ribu per hari.

Ia berkata, proses pembuatannya terbilang rumit, karena bahan baku berupa ikan mentah yang sudah dibersihkan harus diasapi dengan api bernyala kecil sehingga akan kering selama tiga hari. Selama pengasapan, ikan tidak boleh diberi garam atau bahan penyedap lainnya, agar rasa gurih keluar dengan sendirinya berkat proses pengasan tersebut.

“Bahan baku ikan yang digunakan harus yang masih hidup, agar tetap segar dan enak rasanya setelah diasapi. Jika menggunakan ikan yang sudah mati, biasanya baunya menjadi tidak enak dan teksturnya agak terberai,” ujar Holilah,di tempat dagangannya di Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara Bypass Musi II, Palembang.

Harga ikan salai relatif terjangkau, berkisar Rp100 ribu-Rp200 ribu/kg. Seperti ikan lele Rp 70 ribu, paten Rp 60 ribu, gabus Rp 200 ribu, baung laut Rp 100 ribu,

“Meski berbeda dari harga ikan pada umumnya, tapi para pembeli sudah mengetahui karena pembuatan ikan asap itu dari bahan baku ikan mentah seberat 3 kilogram setelah diasapi, beratnya akan menyusut menjadi hanya 1 kilogram. Jadi, wajar saja harganya menjadi lebih mahal,” imbuhnya.

Ujar Holilah, pihaknya tidak kesulitan mendapatkan bahan baku beragam jenis ikan, seperti patin, gabus, seluang, lambak, baung sungai, dan lais.

“Ikan lais dan seluang adalah jenis ikan yang paling diminati pembeli, sedangkan ikan lais adalah yang paling mahal karena sulit didapatkan sehingga harganya juga berbeda. Jika tidak mendapatkannya dari Palembang, biasanya diperoleh dari desa-desa di pingiran kota seperti Gelumbang,” tutupnya.

 

TEKS          : CANDRA WAHYUDI

EDITOR      : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *