Antisipasi Bencana, DAS Kritis Mendesak Direhabilitasi

PAGARALAM – Melihat kondisi sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berada di kawasan padat penduduk, sejauh ini mendesak direhabilitasi. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi terjadinya bencana longsor di bantaran sungai yang melintas di beberapa pemukiman warga yang ada di Bumi Besemah ini.

Hendri Ganesha SE, tokoh masyarakat Pagaralam menjelaskan, jika melihat kondisi sejumlah DAS yang tersebar di 5 Kecamatan se-Kota Pagaralam, sejauh ini perlu dilakukan penanaman pohon pelindung agar dapat mencegah abrasi pematang sungai yang kerap kali dihantam arus deras disaat musim penghujan seperti sekarang ini.

“Ada beberapa sungai dalam kondisi kritis dan dinilai rawan longsor. Apalagi intensitas curah hujan yang tinggi kerap menyelimuti Bumi Besemah hingga berpotensi terjadinya banjir dan longsor,” ujarnya seraya berkata beberapa DAS dimaksud, diantaranya Sungai Lematang, Selangis, Air Perikan, Air Betung dan beberapa sungai lainnya kerap meluap hingga mengancam pemukiman warga.

Setiap kali hujan turun, lanjutnya, arus deras kiriman dari hulu sungai terkadang membuat hilir sungai tak mampu menampung debit air yang berlebihan secara terus menerus.

Sehingga hal itu kerap terjadi banjir hingga merendam areal persawahan dan perkebunan, kolam penampungan ikan, bahkan kepemukiman warga berikut jalan-jalan raya.

“Tidak menutupkemungkinan, semua yang menghalangi kedatangan arus deras dari hulu sungai disaat hujan turun akan dihantam, bahkan bisa saja menimbulkan korban jiwa,” katanya seraya berujar hal itu setidaknya dapat diantisipasi apabila banyak pepohonan dan daerah resapan air dapat hingga kemungkinan terjadinya banjir bandang sangat kecil karena kondisi air normal.

Ia mengatakan, berbeda jika banyak pohon pelindung, kondisi yang ada setidaknya dapat menahan laju air di saat arus deras berlangsung.

“Sebagai langkah mencegah kerusakan yang terjadi akibat derasnya arus air tersebut, diharapkan agar pemerintah setempat dalam hal ini dinas terkait dapat mengiatkan penanaman pepohonan dibantaran sungai. Terutama daerah serapan air atau kawasan hutan lindung,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat, Ir Syarbani mengatakan, sebagai langkah antisipasi terjadinya longsor dan banjir bandang, sejauh ini pihaknya telah melakukan penanaman bibit pohon pelindung yang lebih difokuskan pada kawasan sungai dengan radius 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil

“Prioritas penanaman pohon pelindung terus dilakukan disejumlah lokasi rawan bencana, seperti kawasan Curup Embun, Curup Mangkok hingga kawasan hutan kota dan lainnya. Sebagai bentuk menjaga kesatuan ekosistem alam. Pemerintah Kota Pagaralam melarang setiap warga yang ingin mendirikan bangunan di sekitar kawasan DAS. Mengingat fungsi DAS, merupakan satu kesatuan ekosistem besar yang harus dikelola secara arif dan terpadu demi kepentingan bersama,” ujarnya.

Ditambahkan Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pagaralam, Drs Agus Ahmad M.Si mengatakan, sebelum merencanakan pembangunan fisik, tentunya harus mengedepankan berbagai izin yang telah ditetapkan, mulai dari pengurusan Izin Mendirikan Bangunan ( IMB) maupun izin lingkungan.

“Lokasi pembangunan yang masuk kawasan kesatuan ekosistem alam atau di daerah aliran sungai tentunya diperlukan berbagai penelitian terlebih dahulu. Mengingat kawasan DAS banyak terdapas aktivitas, mulai dari subsistem ekonomi, sosial kultural dan banyak kepentingan lintas sektor maupun wilayah administrasi yang juga ikut melibatkan berbagai pihak,” singkatnya.

Pantauan di lapangan, meskipun sudah ada larangan bagi warga yang hendak mendirikan bangunan di kawasan DAS, tapi tidak sedikit pula terus bermunculan bangunan-bangunan baru di sepanjang bantaran sungai yang ada.

 

TEKS        : ANTONI STEFEN

EDITOR    : FJ ADJONG




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *