Polisi, Antara Sanjungan dan Cacian

Ilustrasi | Dok KS

Ilustrasi | Dok KS

Tahun ini ada Bripda Taufik yang hidupnya di bekas kandang sapi dan menuai simpati, sampai Pak Ahok Gubernur DKI akan membelikan sepeda motor, gara – gara saking miskinya, Bripda Taufik harus jalan kaki sejauh 5 kilometer !! untuk ke markas kepolisian. Simpati bermunculan untuk pak polisi ini yang katanya masuk ke kepolisian murni melalui test.

26 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1989, Serma Wajimun, seorang polisi yang bertugas diwilayah Polda Metro Jaya menuai simpati, gara-gara seorang ibu yang menulis di suara pembaca Koran Kompas, pasalnya, Serma Wajimun memberikan uang kepada ibu tersebut yang terlihat kebingungan ketika menghentikan mobilnya selepas di pintu tol, karena sang ibu kelupaan membawa uang untuk membayar tol dari perjalanan Bogor menuju Jakarta. Bahkan saking terkesimanya dengan aksi Serma Wajimun, sang ibu bahkan lupa menanyakan nama serta mengucapkan terima kasih! Belakangan diketahui nama sang polisi, setelah ibu tersebut menulis di surat pembaca.

Dua peristiwa dengan rentang waktu yang berbeda, berbeda pula cara penafsirannya, tetapi intinya adalah masyarakat akan terkesan dan merasa simpati tatkala pak polisi menebar kebaikan kepada masyarakat. Pakar polisi dari Negara Irlandia yang bernama Taylor, menulis sebuah buku dengan judul “The Smiling Police“ yang menuliskan bahwa keberhasilan seorang polisi akan ditentukan kerja nyata yang simpatik dan peduli dengan masyarakat, karena polisi adalah salah satu aparat yang selalu berhubungan langsung dengan masyarakat.

Sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, polisi dituntut bisa memberikan kesejukan masyarakat. Hanya karena ulah beberapa oknum polisi di jalan, membuat jargon pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat menjadi tidak mengena. Kakak saya mengalami sendiri, pergi ke Surabaya, ditilang 3 kali, gara-gara melanggar marka jalan, padahal waktu itu ada bus yang melanggar marka jalan dibiarkan jalan. Terkadang hal inilah yang membuat citra polisi menjadi rendah di mata masyarakat, karena hukum yang ditegakkan ternyata penegakkannya masih tebang pilih.

Di Jepang, bila kita menelepon kantor polisi, maka kesigapan dan keramahan akan terdengar di ganggang telepon, bahkan ada peraturan bahwa polisi Jepang tidak boleh membiarkan dering telepon sampai lebih dari tiga kali! Kelihatan sepele, tetapi hal tersebut membuktikan kualitas kepolisian,bagaimana dengan di tempat kita?

Lantas apa hubungan tulisan ini dengan peristiwa paling baru, penangkapan salah seorang pimpinan KPK? Mengapa justru KPK menuai simpati bukan polisi? Adakah yang salah dengan citra Polisi? Ataukah karena Hukum dan logika masyarakat tidak bisa sejalan, kalau benar BW bermasalah, kenapa DPR meloloskan jadi salah satu pimpinan KPK? Kalau peristiwa itu terjadi di tahun 2010, mengapa baru sekarang polisi menetapkan tersangka ? 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk menyelidiki kasus yang melibatkan pejabat. Peristiwa yang seperti inilah kadang membuat pikiran negative masyarakat terhadap institusi polisi menjadi berkurang simpatiknya. Sehingga yang menuai dukungan justru KPK.

Walaupun mendapatkan cacian, kecaman bahkan hujatan, toh polisi tetap dirindukan oleh masyarakat. Ibarat lagu benci tapi rindu, itulah wajah polisi kita. Masih banyak polisi yang baik dan berdikasi tinggi untuk pelayanan masyarakat, tetapi banyak juga oknum polisi yang hanya memanfaatkan seragam dan institusinya untuk sekedar mengeruk uang dan jabatan. Jadi pertanyaannya, di posisi manakah seorang Budi Gunawan sebagai polisi layak ditempatkan? Jawabannya, silahkan hubungi bapak President ketujuh RI, Ir. H Joko Widodo.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *