Produk Gerabah Makin Langka

PALEMBANG – Sejak beberapa tahun ini, keberadaan produk gerabah di Palembang semakin langka. Sebagian besar perajin gerabah berpindah profesi usaha lain yang jelas-jelas menguntungkan.

Gerabah merupakan seni kerajinan tangan yang telah melegenda. Seni dan pembuatannya yang turun-temurun. Dulunya gerabah digunakan untuk menyimpan beras, garam, dan bumbu-bumbuan, di samping digunakan untuk memasak, namun seiring berjalan waktu kini gerabah dapat bernilai seni tinggi tergantung kreativitas dan sang pembuat gerabah.

Eci, perajin gerabah asal Palembang, Jumat (23/1) kepada Kabar Sumatera menyebutkan, saat ini perajin yang ada di kota ini dari tahun ke tahun mengalami pengurangan. Bahan baku gerabah pun sulit didapatkan.

“Bahkan, kami harus memesan dari Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, maupun kabupaten dan kota lainnya,” ungkap Eci yang tinggal di Jalan Sekip.

Jika dihitung, perajin gerabah di kota Palembang kini tinggal beberapa orang saja yang masih aktif menjual aneka produk gerabah. Ini disebabkan perajin gerabah hilang ditelan oleh kemajuan zaman.

“Ya, sepertinya tidak banyak lagi orang yang memakai periuk gerabah. Begitu juga dengan gerabah berbentuk celengan ayam atau kendi,” katanya.

Kata Eci, untuk saat ini rasanya sangat sulit menambah pelanggan, karena banyak pelanggan lebih senang dengan alat-alat rumah tangga yang dijual di toko.

Namun begitu, Eci menjual gerabahnya dengan harga jual bervariasi mulai dari harga Rp 25.000 untuk calengan ayam, angribet, stroberi. bahkan sampai dengan Rp 45.000 untuk satu buah pot bunga dan kendi. Ia juga eci menjual arang, sekam dan kompos.

“Keterampilannya buat gerabah ini saya peroleh dari orangtua,” katanya.

Ada beberapa jenis gerabah yang tersaji di toko Eci, antara lain cobek, kuali, wajan, kendi, vas bunga, asbak, teplok atau senthir serta blengker atau penopang kuali pada lubang tungku.

“Biasanya pesanan datang tak menentu. Sehari saya sanggup membuat satu buah gerabah dan periuk atau colek sebanyak 20 buah,” tuturnya.

 

TEKS      : CHANDRA WAHYUDI

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *