Lampion Simbol Kebahagiaan

Wartawati Kabar Sumatera ( Yuni ) Sedang Berpose di Vihara Praja Bumi Sriwijaya. | Foto : Ferry Hotman

Wartawati Kabar Sumatera ( Yuni Yuna ) Sedang Berpose di Vihara Praja Bumi Sriwijaya. | Foto : Ferry Hotman

PALEMBANG – Lampu-lampu berwarna merah yang tergantung pada setiap Vihara dan rumah keturunan Tionghoa selalu terlihat cantik. Konon, lampu tersebut juga selalu disangkut pautkan dengan perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Seperti dikisahkan biksu, lampion juga menjadi sebuah budaya guna menandai atau megetahui pergantian tahun dalam penanggalan orang-orang Tionghoa dan tanpa kehadiran lampion. Imlek jadi kurang meriah apabila tidak menghiasi setiap sudut Vihara dan rumah keturunan Tionghoa itu sendiri.

Lian Yuan, salah satu Biksu Vihara Praja Bumi Sriwijaya kepada Kabar Sumatera, Jumat (23/1) mengatakan, bahwa lampion mempunyai filosofi yang berarti penerangan dan melambangkan sebuah kebahagiaan.

“Bukan hanya menjadikan terang di setiap sudut rumah atau Vihara, tetapi juga melambang kan agar rejekinya itu menjadi terang. Dan, memang orang-orang Cina itu kalau Imlek harus terang agar melambangkan kebahagiaan,” ungkapnya di Vihara Praja Bumi Sriwijaya Jalan Sayangan, Palembang.

Untuk bentuk lampionnya sendiri, sebut Lian Yuan, dulu memang tidak hanya bundar, tetapi juga ada yang berbentuk segi empat dan bahan yang digunakan bukanlah berbahan dari plastik.

“Dulu itu lampion terbuat dari kayu, yang memang benar-benar di ukir. Lampion ukiran seperti itu memang khusus untuk Istana,” Lian Yuan menyebutkan.

Jaman dulu pun, lanjut Lian Yuan, untuk di istana memang menggunakan lampion antik yang memang di ukir. Juga dahulu rakyat biasa tidak boleh menggunakannya, bagi rakyat biasa hanya dibolehkan memakai lampion yang memang biasa.

Cahaya merah dari lampion sendiri mempunyai makna filosofi bahwa cahaya merah itu menjadi sebuah pengharapan, kebahagiaan dan terangnya rezeki.

“Lampion itu berwarna merah, karena bagi warga Tionghoa itu, merah adalah simbol dari kebahagiaan,” ujarnya.

Ucap Lian Yuan, lampion-lampion terdahulu kebanyakan berbentuk asli yang banyak tersimpan dalam istana di Tiongkok.

“Di Tiongkok dan istana Beijing masih ada dan masih banyak yang asli. Kalau untuk produksi mungkin memang sudah jarang, tapi kalau tiruannya itu banyak sekali,” tukasnya.

Tradisi Wangi Penuh Makna

PALEMBANG – Jelang perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa mulai mempercantik kediamannya dengan memasang aneka pernak-pernik Imlek seperti lampion merah, bunga persik, dupa bahkan mercon. Pernak-pernik tersebut ternyata bukan hanya simbol, tapi mempunyai makna tertentu.

Ahli Fengsui asal Sumsel, Candra Wijaya Pasadenah mengatakan, lampion merah merupakan lampu yang terbuat dari kertas berwarna merah menyala melambangkan bahagia dan meriah.

“Bukan hanya sebagai simbol namun bentuknya yang cantik dan unik membuat suasana Imlek semakin meriah,” ujarnya.

Untuk bunga persik (meihua) yang merupakan buah khas dari Negeri Tirai Bambu melambangkan keteguhan dan ketahanan terhadap ujian bagi warga Tiognhoa. “Bunga teratai air ini bisa juga dimanfaatkan untuk menambah cantiknya suasana di Hari Raya Imlek,” terangnya.

Selain itu, bunga persik dipercaya juga membuang nasib sial yang akan datang di tahun selanjutnya. Pernak-pernik yang juga biasa ada saat Imlek adalah bambu yang melambangkan keselamatan dan rendah hati.

“Untuk lebih memeriahkan perayaan Imlek, warga Tionghoa juga menggunakan mercon karena dipercaya melambangkan bahwa di tahun mendatang akan ada yang meledak rezekinya,” jelas Candra. Kemudian ada dupa sebagai peralatan sembahyang kepada dewa-dewa yang disembah.

Tuturnya, dupa atau yang biasa disebut hio sebenarnya adalah medium unutk melakukan ssembahyang atau bagian dari peralatan sembahyang, tidak mempunyai arti khusus dan makna khusus di dalamnya.

“Hio digunakan karena simbolisasi juga, karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan sebagai satu macam pendekatan dengan dewa-dewa di atas sana,” urai dia. Untuk menaknainya, hio yang wangi yakni sebagai penyucian batin dan lingkungan.

 

TEKS     : YUNI DANIATI

EDITOR : RINALDI SYAHRIL

 


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *