Imlek dan Tradisi Berbagi Bahagia Lewat Angpao

Salah satu toko yang menjual Angpao dan pernak-pernik Imlek lainnya | Foto : Ferry Hotman

Salah satu toko yang menjual Angpao dan pernak-pernik Imlek lainnya | Foto : Ferry Hotman

PALEMBANG – Di dalam kebudayaan Tionghoa, membagikan angpao saat Imlek bagian dari tradisi. Angpao memiliki arti amplop merah, Ang yang dalam bahasa Mandarin berarti merah dan Pao berarti amplop. Tujuan angpao ini untuk dibagi-bagikan, salah satunya yaitu zakat dan membagikan kebahagian itu kepada orang-orang yang memang tidak mampu.

“Tetapi, karena sekarang ini sudah berubah. Jadi, tidak lagi memberikan angpao itu untuk yang tidak mampu, namun dobagi-bagikan pada siapa saja yang datang bertamu. Inilah tradisi berbagi kebahagian,” ungkap Lian Yuan, Biksu Vihara Praja Bumi Sriwijaya.

Kata Lian, dulunya nilai angpao sendiri tidak sama dengan nilai angpao sekarang. Dari kemasannya pun sudah berbeda, sekarang ini semua dibagi, begitupun orang-orag yang belum menikah, sebab yang sudah menikah memang sudah di anggap mandiri.

“Orang yang belum menikah pun harus diberi, walaupun umur mereka sudah 40 tahun. Misalnya, selagi belum menikah tetap harus diberi angpao, semua itu satu makna kebahagiaan,” ucapnya.

Angpao sendiri sudah berada dari ribuan tahun lalu. Angpao yang bukan asli bahasa mandarin ini ternyata bahasa suku Hokkian yang ada di Tiongkok.

“Ada 56 suku besar di Tiongkok, salah satunya ialah perantaun dari Tiongkok yaitu suku Hokkian yang paling banyak masuk ke negara Indonesia,” tuturnya.

Maka dari itu juga bahasa Hokkian sendiri banyak digunakan orang Indonesia. Umumnya makanan-makanan orang keturunan Tionghoa seperti tahu yang ternyata adalah bahasa dari suku Hokkian sendiri.

“ Contohnya juga kuetiaw, taucho, bakpao itu adalah bahasa dari suku Hokkian,” tandasnya.

 

TEKS     : YUNI DANIATI

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *