Pengusaha Jasa Pengirman Masih Bingung soal Tarif

Asperindo Sumatera Selatan memastikan belum berencana melakukan penyesuaian tarif pengiriman dalam waktu dekat. | Foto ; Ist

Asperindo Sumatera Selatan memastikan belum berencana melakukan penyesuaian tarif pengiriman dalam waktu dekat. | Foto ; Ist

PALEMBANG – Pengusaha tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Sumatera Selatan (Sumsel) memastikan belum berencana melakukan penyesuaian tarif pengiriman dalam waktu dekat. Ini seiring dengan pemberlakukan kebijakan pemerintah yang telah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa hari yang lalu.

Sebagian besar pengusaha jasa pengiriman saat ini masih menunggu kepastian dari manajemen pusat perihal penyesuaian tarif.

“Memang sewaktu penaikan harga BBM November tahun lalu, ada rencana manajemen untuk menaikkan tarif pengiriman. Bahkan cost operasional pun dinaikkan. Tapi ketika BBM turun dua kali, sampai saat ini belum ada petunjuk pusat sehingga kami masih berlakukan tarif lama,” kata Ketua Asperindo Sumsel, Muhammad Daud, Kamis (22/1).

Dia menilai kebijakan penyesuaian tarif pengiriman ini menyangkut bagi khalayak ramai sehingga harus benar-benar dikaji seksama dengan dilandasi beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurunnya harga BBM itu, lanjut dia, disatu sisi konsumsi BBM dapat dikatakan kembali normal, disisi lain pihaknya telah menaikkan beberapa item seperti motor delivery naik 10 persen, Upah Minimum Provinsi (UMP) naik, pengangkutan udara, dan cost operasional lainnya juga dinaikkan.

“Di sinilah rata-rata pengusaha menjadi binggung dengan kondisi ini. Mana mungkin kami akan menurunkan cost operasional bagi karyawan, termasuk pula UMP, ATK, dan lainnya. Sebagai perusahaan jasa pengiriman, tentu bukannya hal mudah untuk menaikkan tarif pengiriman menginggat ini menyangkut khalayak ramai,” ujarnya.

Sementara itu Direktur PT Tiki Kantor Utama Palembang, H Haris Jumadi menambahkan, sampai saat ini pihaknya masih menahan rencana penyesuaian tarif pengiriman.

“Karena persoalan tarif menyangkut orang banyak, jadi kami sifatnya masih menunggu pusat. Kami akan lihat reaksi pasar bagaimana. Ya, dengan penurunan harga BBM, secara otomatis rencana kami menaikkan tarif pengiriman Maret ini ditunda dalam batas waktu yang belum ditentukan,” jelasnya.

Ia mengaku, sejak penaikan harga BBM November tahun lalu, efek domino dari penaikan harga BBM tersebut berimbas luas terhadap kenaikan cost operasional, seperti biaya gudang dan penanganan gudang dibandara, UMP dan lainnya.

Untuk tarif pengiriman tujuan Palembang-Jakarta untuk paket One Night Service (ONS) masih mengacu pada harga lama yakni Rp 16.000 per kilogram. Dia mengaku rata-rata pengiriman yang dilakukan masyarakat didominasi oleh paket makanan berupa pempek, dokumen dan lainnya dengan dominasi tujuan Pulau Jawa dan sekitar Jakarta Bogor Tangerang Depok dan Bekasi (Jabodetabek).

“Secara kuantitas, realisasi pengiriman paket baik masuk maupun keluar sekitar 1,5 ton per hari,” katanya.

 

TEKS       : AMINUDDIN

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *