Sekolah Mewah Bukan Jaminan

siswa MIN 1 Palembang | Dok KS

Siswa MIN 1 Palembang | Dok KS

PALEMBANG – Mindsite (pola pikir) para orang tua sekarang ini perlu dirubah. Selama ini orang tua menginginkan anaknya untuk sekolah di tempat yang serbah mewah dan canggih. Sarana yang mendukung dan fasilitas yang mewadahi. “Padahal semua itu belum jadi jaminan tentu kualitas anak didiknya. Kenyataannya, banyak para anak didik yang manja dengan fasilitas yang ada,” ujar Kepala Sekolah MIN I Palembang, Ferry Wijaya, S.Ag, belum lama ini.

Lebih lanjut, Ferry mengatakan kecerdasan dan kepintaran anak didik bukan hanya ditentukan oleh fasilitas sekolah yang mewah dan megah. Termasuk keberhasilan anak disik bukan pula dilihat dari raportnya. “Tetapi harus dilihat dari tingkah laku anak didik tersebut dalam kesehariannya, setelah mereka mendapat pendidikan di sekolah itu,” ujarnya.

Sekarang ini, menurut Ferry, banyak anak didik yang pintar dan pandai, tetapi tidak secara moral agama, ada sebagian anak didik yang tidak bisa shalat, tidak bisa mengaji dan tingkah laku yang kurang baik. “Kalau itu yang terjadi berarti anak tersebut gagal dalam sekolahnya. Tapi seandainya, dia pintar, rajin, cerdas, agamanya mendukung, barulah dia sukses belajarnya,” ujar Fery yang ditingkahi temuk tangan para tamu dan wali murid.

Fery menambahkan, pembelajaran di sekolah, sudah seharusnya memaksimalkan pengawasan dan keteladaan dari para guru. Saat proses belajar mengajar, menurut Ferry, setiap guru sebagai orang dewasa, wajib secara terus menerus mengawasi dan mengarahkan, sehingga anak-anak didik di sekolah kepribadiannya bisa terbentuk dengan baik. “Itu semua hany akan terjadi bila dilakukan keteladaan dari para guru yang terus membimbing dan membina anak didiknya. “Seperti contoh, membiasakan anak-anak agar mengucapkan salam bila bertemu sama siapa saja,”ungkapnya.

Dengan pembiasaan kebaikan di sekolah, akan menghasilkan kepribadian yang baik bagi anak didik, termasuk guru di sekolah. Sebab menurut Ferry, program yang dilakukan secara terus menerus dan komitmen menjalaninya, secara perlahan akan melekat di setiap anak didik dan guru. “Generasi kedepan bukanlah generasi yang terpaksa (karena ada aturan) tapi membentuk generasi yang terbiasa melakukan kebiasaan baik. Kita harapkan, anak didik akan terbiasa tata cara yang Islami, seperti menghormati teman, guru maupun orang yang lebih tua dari mereka. Inilah yang kita arahkan kepada anak didik kita,” ujarnya.

Sementar itu, Dr Kusnadi, MA, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang mengatakan, pembinaan anak didik memang seharusnya dimulai dari kecil. Sebab dengan menanamkan nilai-nilai agama sejak dini akan membentuk generasi yang sadar tentang kebaikan dan keburukan. “Nantinya saat sudah tumbuh dewasa anak akan lebih bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh menurut agama, atau menurut aturan pemerintah,” ujarnya**

 

TEKS       : AHMAD MAULANA
EDITOR   : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *