Ketidakjujuran Kita Sudah Parah

PALEMBANG – Realitas ketidakjujuran diakui Prof Dr Romli SA, M,Ag, dalam sebuah perbicangan informal tentang potret pendidikan di negeri ini yang disebutnya sudah sangat memprihatinkan. Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumatera Selatan (Sumsel) mengakui, kondisi pendidikan kita sekarang ini sudah demikian parah. “Contohnya hampir setiap tahun ada saja kasus kebocoran kunci jawaban Ujian Nasional (UN), yang faktanya beberapa kali melibatkan guru, atau bahkan kepala sekolah,” ujar Dekan Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah, belum lama ini.

Dari kenyataan ini, Romli mengatakan sudah terjadi persengkongkolan antara masyarakat dengan pengelola pendidikan. Di satu sisi dalam kasus UN menurut Romli, masyarakat ingin anaknya lulus, di sisi lain pengelola lembaga pendidikan dapat ancaman dari keukasaan. “Akibatnya, penanaman nilai-nilai kejujuran kita juga menjadi lumpuh. Misalkan saja dalam UN yang setiap tahun dilakukan, bagaimana kalau sampai ada seorang kepala sekolah diancam kalau siswanya tidak lulus 75 persen kemudian akan dimutas,” ujarnya.

Sejumlah kepala daerah juga melakukan hal serupa. Sehingga menurut Romli, ada saja oknum guru atau kepala sekolah yang memerintahkan guru untuk mencari kunci jawaban menjelang UN, seperti sejumlah kasus dalam UN beberapa waktu lalu. “Ini kondisi pendidikan kita sangat parah kalau begini! Kalau ini yang terjadi, bagaimana proses pendidikan nilai kejujuran akan baik dan terwujud, kalau ternyata banyak anak sekolah yang lulus karena pesanan. Akibatnya setelah lulus, bekerja juga nyogok. Jadi wajar kalau Islam sangat memberi hukuman berat, masuk neraka (finnaar), kepada yang menyuap atau yang disuap. Karena memang dampak suap terhadap kehidupan sosial dan perusakan moralnya dalam sistem kehidupan memang sangat besar,” tegasnya, kepada Kabar Sumatera, belum lama ini di Palembang.

Kondisi ketidakjujuran ini bukan hanya dalam kasus UN saja, melainkan di kampus sebuah perguruan tinggi. Husaini Robi Yanto (22), salah satu mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Palembang mengatakan, Dalam sesi tanya jawab di Sekolah Demokrasi Prabumulih (SDP) yang diselenggarakan Yayasan Puspa Indonesia (YPI) dan Komunitas Indonesia untuk Indonesia (KID), di Prabumulih, pekan silam, Robi mengaku pernah diminta pihak jajaran dekan untuk membuat laporan fiktif. “Waktu itu kegiatan belum dilaksanakan, sementara pihak dekanat minta kami untuk membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan supaya dananya segera cair. Apakah ini bukan namanya lapora fiktif,” ujar Robi, setengah protes.

Kenyataan yang sama juga terjadi di perguruan lainnya di Palembang. Mahasiswa berinisial Gm, menyebutkan semua laporan di rektorat tempat dia menuntut ilmu saat ini, nyaris semua dilakukan dan dibuat jauh sebelum acara selesai. “Bahkan stempel sudah dibuat oleh rektorat sendiri,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, Dr Muhajirin, akademisi di Palembang mengatakan, bagaimana mungkin lembaga pendidikan kita akan melahirkan generasi yang jujur, kalau sejak awal sudah dididik untuk berbohong seperti itu. Tapi menurut Muhajirin, hal itu tidak semua dilakukan sekolah. “Saya yakin, masih ada sekolah yang tetap mengedepankan kejujuran dalam proses seleksi atau dalam hal apapun. Tapi kalau itu terjadi, ini akan menodai pesan moral dari pendidikan itu sendiri,” ujarnya kepada Kabar Sumatera, pekan silam.

Muhajirin menegaskan, untuk mengantisipasi kebohongan di hampir semua lembaga, pendidikan kejujuran harus dimulai dari keluarga. Orang tua, menurutnya, punya peran penting untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini pada setiap anak yang lahir. “Insya Allah kalau dari keluarga sudah tertanam kuat, apapun yang mengganggu si anak akan tetap jujur. Tapi orang tuanya harus jujur dulu, kalau orang tuanya tidak jujur, ya bagaimana akan menjadi tauladan bagi anaknya,” ujarnya optimis.**

 

TEKS       : AHMAD MAULANA
EDITOR   : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *