PKL Tebing Tinggi Protes Lapaknya Dibongkar

Pembongkaran lapak PKL di pasar tradisional Tebing Tinggi. | Dok KS

Pembongkaran lapak PKL di pasar tradisional Tebing Tinggi. | Dok KS

EMPAT LAWANG – Sejumlah pedagang mempertanyakan tindakan pembongkaran lapak pedagang kaki lima (PKL) di pasar tradisional Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, sementara lokasi baru dijanjikan pemerintah sebagai tempat menggelar dagangan belum ada kepastian.

“Kami cari makan dimana pak?, katanya ada relokasi, tapi tidak jelas pembagiannya,” cetus IN, salah satu PKL di pasar Tebing Tinggi, kemarin.

Informasi dihimpun Kabar Sumatera di lapangan, pembongkaran lapak PKL seyogyanya adalah niat baik pemerintah untuk mempercantik ibukota Tebing Tinggi. Dengan memaksimalkan akses dari jalinsumteng menuju kios eks gedung serbaguna di lorong Talang Padang.

Namun disayangkan, pembongkaran lapak PKL terkesan dipaksakan. Belum ada persiapan relokasi bagi ratusan pedagang, yang notabene menggantungkan kehidupan dengan menjajakan sayuran dan ikan di pasar.
Selama ini lokasi PKL dikenal pasar becek, karena setiap hari tidak pernah kering dan sulit dilintasi.

Ironisnya lagi, kini para PKL mempertanyakan tempat mereka berjualan, sedangkan lapak-lapak mereka sudah rata dengan tanah.

“Kami bingung berjualan dimana, sedangkan gedung yang ada sekarang hanya menampung pedagang grosiran, sedangkan seperti kami yang pedang ikan dan daging tidak disediakan tempat,” ungkap Marni, pedagang ikan Pasar Ulu Musi II.

Dia mengaku siap ditertibkan, namun setidaknya sebelum itu pemkab menyediakan tempat untuk kami berjualan. Jangan sampai kami terobang ambing seperti ini karena tidak memiliki tempat.

“Kami sangat mendukung dengan program pemerintah untuk melakukan penertiban pasar, namun yang disayangkan tempat untuk dijadikan pengalihan itu belum ada,” kata Marni.

Senada Dewi (36), PKL jalinsumteng Pasar Tebing Tinggi mengatakan, dirinya siap pindah asalkan tempat kami ada. Selain itu juga kalau memang pihak pemerintah ingin melakukan penertiban pasar, jangan cuma hanya dengan pedagang lokal saja.

Artinya, yang penduduk asli Tebing Tinggi dan harus ditertibkan juga pedangan dari luar daerah seperti dari Lubuklinggau dan Musi Rawas yang berjualan di pasar Ulu Musi I.

“Ya harus ditertibkan semuanya dan jangan tampak kesannya ada unsur pilih kasih,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pasar, Kebersihan dan Keindahan Kota (DPK3)Empat Lawang Lukman Panggar Besi membenarkan, bahwa melakukan pembongkaran lapak dan itu sesuai dengan perintah bupati, namun tidak semua lapak dibongkar dan hanya sebagian saja.

Pembongkaran lapak tersebut dikarena adanya wacana pembangunan jalan sebagai akses kegedung yang baru atau tempat grosiran di Pasar Ulu II Tebing Tinggi.

“Pembongkaran lapak itu dilakukan sejak Senin malam, namun tidak seluruhnya dan hanya untuk pembangunan jalan saja,” katanya.

Bagaimana dengan tempat PKL? Lukman menyatakan setelah jalan itu selesai para PKL diperbolehkan untuk berjualan, asalkan tidak menganggu para pengguna jalan.

Kemudian bagi yang di pinggir jalan masih diperbolehkan dan hanya saja lapak yang ingin dibangun jalan itu yang kita bongkar.

“Kalau berjualan dibelakang kan masih luas dan bisa dimanfaatkan para PKL,” tegsnya.

 

TEKS : SAUKANI
EDITOR : FJ ADJONG




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *