Orientasi Angka, Menjebak Kreatifitas Anak Didik

Anak didik | Dok KS

Anak didik | Dok KS

PALEMBANG – Upaya pembinaan dan pembentukan karakter pada anak didik di sekolah, sebaiknya harus dimulai dengan nmenekankan mata pelajaran yang bukan sekadar berorientasi pada angka-angka semata.

“Kalau orientasi pendidikan kita hanya berbatas pada angka, ini akan melemahkan dan menjebak kreatifitas anak didik. Ada kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh,” Drs Abu Hanifah, M.Hum, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), belum lama ini.

Sama juga artinya, pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat,” tegas Drs Abu Hanifah, M.Hum, dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), belum lama ini.

Sebaliknya, menurut Abu, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh. Kalau itu yang terjadi, menurutnya watak seseorang akan mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. “Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik,” ujarnya.

Dalam persoalan ini, Abu menegaskan guru sangat memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar. Sebab ruh pendidikan sesungguhnya terletak di pundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya hakikat pendidikan ada di tangan guru. Oleh sebab itu, guru memiliki peranan strategis dalam ”mengukir” anak didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Terpisah, Jum Herman, S.Ag, Praktisi pendidikan di Muaraenim mengatakan, upaya peningkatan pendidikan karakter sangat erat kaiytannya dengan pendidikan budi pekerti. Didalamnya, ada pembelajaran tata-krama, sopan santun, dan adat-istiadat. Materi ini akan membantu proses pendidikan karakter. Sebab hal ini lebih menekankan kepada perilaku-perilaku aktual tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual dan kultural.

Senada dengan Abu Hanifah, menurut Jum orientasi pendidikan kita yang cenderung diukur dengan angka-angka ini hanya akan melahirkan generasi yang pragmatis. “Anak didik akan jauh dari proses berpikir yang kreatif. Sebab orientasi mereka hanya bagaimana mendapat nilai bagus, bagaimanapun caranya. Sangat mungkin konsentrasi anak bukan bagaimana mencitakan kreatifitas, mellainkan hanya berkutat pada angka-angka,” tegasnya.

 

TEKS        : AHMAD MAULANA
EDITOR    : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *