Enam Bulan Beras Kita Aman

Salah satu gudang Beras di Jl. Lintas Selatan, Pemulutan, Ogan Ilir. | Dok KS

Salah satu gudang Beras di Jl. Lintas Selatan, Pemulutan, Ogan Ilir. | Dok KS

PALEMBANG – Sumatera Selatan membuktikan sebagai provinsi yang surplus lumbung padi. Karenanya Perum Bulog Divre Sumsel Babel menyatakan stok beras untuk masyarakat miskin (raskin) selama enam bulan kedepan, aman. Hal itu diungkapkan Kepala Perum Bulog Divre Sumsel dan Babel, Basirun, ditemui wartawan koran ini dikantornya, kemarin.

Ia mengungkapkan, ketersediaan stok di Sumsel per 19 Desember 2014 mencapai 33.750 ton dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Sumsel selama enam bulan.

“Kami menyimpan 33.750 ton raskin, dan untuk kebutuhannya per bulan sebesar 6.554 ton. Jadi selama enam bulan kedepan stok mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Sumsel,” kata dia.

Sampai saat ini untuk harga raskin di Sumsel masih Rp1.600 per kg, dan diketahui di tahun mendatang pun belum ada kenaikan harga. Untuk pendistribusian raskin di tahun ini saja, kata Basirun, sudah hampir mencapai 100 persen.

Hanya saja, ada satu kabupaten yang belum menyelesaikan pendistribusian raskin yakni Banyuasin yang menyisakan pagu raskin sebanyak 89,265 ton. Hal itu karena proses pendistribusian yang memang belum selesai, dan kurangnya percepatan petugas dalam mendistribusikan raskin ke daerah tersebut.

“Memang secara umum juga dipengaruhi dari lokasi tempat yang rata-rata perairan. Ini kendala juga namun kita tidak bisa menjadikannya kambing hitam. Namun pastinya karena proses distribusi raskin yang belum selesai,” jelasnya.

Berapa besar pengadaan beras yang dimiliki Sumsel tahun ini? Ia menuturkan untuk tahun ini pengadaan beras yang berasal dari petani di Sumsel belum memenuhi target.

“Kita menargetkan bisa mendapatkan pengadaan beras Rp128.000 ton dan terealisasi 65.993 ton atau baru mencapai 51,56 persen. Tentunya angka ini sangat jauh dibandingkan pada 2013 yang berhasil menerima pengadaan beras dari petani sebesar 125.000,” ungkapnya.

Turunnya pengadaan beras tahun ini karena memang produksi beras yang jauh menurun, juga karena disparitas harga yang tidak sesuai dengan permintaan petani.

“Akhirnya petani lebih memilih menjualkan berasnya kepada pembeli besar atau langsung ke pasaran. Dan ini tidak melalui kita,” pungkasnya.

 

TEKS      : IMAM MAHFUZ
EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *