650 Kg Daging Babi Hutan Disita

Daging celeng | Dok KS

Daging celeng | Dok KS

INDRALAYA – Sekitar 650 kilogram daging babi hutan alias daging celeng diamankan Petugas Polsek Indralaya dalam sebuah razia, Minggu (21/12) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Daging celeng yang diangkut menggunakan Grand Max Pick Up BG 9723 BB ini rencananya akan dibawa ke Desa Wirata, Lampung Tengah, Lampung.

Selain mengamankan ratusan kilogram daging celeng, petugas juga mengamankan sopir bernama Maskur (42) warga Desa Sri Gunung Sungai Lilin Kabupaten Muba dan Romelan (32) pemilik daging celeng, warga Desa Tegal Mulyo Kabupaten Muba.

Semula polisi tidak menduga dalam mobil pick up itu berisi daging celeng, karena termuat dalam box kulkas. Namun begitu dibuka boxnya terlihat onggokan daging babi hutan yang terbilang langkah diperjualbelikan.

Menurut pengakuan Romelan, daging babi hutan tersebut diangkut dari Muba dan direncanakan di jual ke Desa Wirata Lampung Tengah.

“Tiba di Lampung Tengah rencanya sudah menunggu orang Bali bernama Slamet selaku pembelinya dan biasanya daging celeng akan diolah menjadi dendeng,” kata Romelan.

Dia menjelaskan daging celeng itu dibelinya seharga Rp 5 ribu perkilogram dan akan dijual Rp 9 ribu. Binatang babi hutan itu didapat masyarakat hasil perburuan di areal perkebunan di Muba.

Sebelum merencanakan mengangkut daging celeng itu, Romelan mengaku telah mengantongi surat dari kepala desa dan juga berkolsultasi dengan petugas kepolisian di Muba.

“Intinya tidak ada masalah menjualbelikan daging celeng itu, karena menurut petugas tersebut babi hutan tidak masuk kategori hewan yang dilindungi. Oleh sebab itu saya memberanikan diri menjual daging celeng ini,” katanya.

Kapolres Ogan Ilir AKBP Asep Jajat Sudrajat melalui Kasat Reskrim Iptu Dafid Siddiq tetap melakukan pengusutan dan memproses keduanya. “Yang jelas ke dua orang ini kita amankan dulu untuk pengusutan lebih lanjut,” jelas kasat kemarin.

Kendati demikian, Kasat Reskrim Polres OI iptu Dafid Siddiq sudah siap menjeratnya dengan aturan yang ada. “Kita sudah siapkan UU no 8 th 1999 tentang perlindungan konsumesn dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun dan denda Rp 2 miliar serta UU no 16 th 92 tentang karantina terhadap makanan yang tidak bersertifikasi kesehatan, dengan ancaman 3 tahun penjara dan denda Rp 190 juta.

 

Teks   : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *