Sumsel Bakal “Saingi” Banjir Jakarta

PALEMBANG – Memasuki musim penghujan yang terus terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan, membuat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Sumsel semakin memprioritaskan penambahan bangunan kolam retensi. Sehingga bisa menetralisir banjir dari luapan air yang biasanya terjadi. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas PU Pengairan Sumsel, Syamsul Bahri, saat diwawancarai belum lama ini.

Terang Syamsul, pihaknya tengah menentukan skala prioritas, apalagi mengetahui dana alokasi untuk pengembangan dan pembangunan pusat irigasi dan pengairan di Sumsel sebesar Rp112 miliar.

“Kami mendapat alokasi sebesar Rp112 miliar. Sementara banyak proyek pengairan yang harus dibangun. Karenanya perlu dilakukan skala prioritas. Diantaranya yakni program pengendalian banjir, irigasi rawa, pemeliharaan bangunan yang sudah ada dan lain sebagainya guna menunjang ketahanan pangan di Sumsel,” kata dia.

Salah satunya yakni proyek pembangunan kolam retensi Arafuru yang berada di sekitar kawasan PT Pusri. Proyek itu akan mulai berjalan tahun depan, dan pihaknya mengalokasikan dana ganti rugi pembebasan lahan sebesar Rp 5,5 miliar.

“Luas kolam retensi hanya satu hektar. Namun dana yang disiapkan sangat terbatas. Karenanya kami meminta agar masyarakat sekitar mengetahui manfaat dibangunnya kolam retensi, jadi tidak hanya dinilai dari materi. Ini yang biasanya menjadi kendala di lapangan,” ajaknya.

Sampai saat ini, kata dia, sudah ada 22 kolam retensi yang dibangun. Sementara targetnya, masih ada 43 kolam retensi yang harus dibangun dan masih masuk dalam tahap perencanaan.

Ia menuturkan dalam 5-10 tahun mendatang diketahui Sumsel akan menyamai DKI Jakarta yang terkenal dengan banjirnya. Akibat belum berjalannya rencana pembangunan 65 kolam retensi atau waduk.

“Jika terus begini, selama waktu yang diperkirakan itu, kita akan tenggelam. Sama kondisinya dengan DKI Jakarta saat ini, dimana mudah terjadi banjir dan genangan air yang meluap,” kata dia.

Karenanya sebelum itu terjadi, pihaknya ingin terus berupaya maksimal dalam membangun dan menyediakan kolam retensi di titik-titik rawan yang ada di Sumsel. Dikatakan Syamsul, ada dua penyebab banjir yakni penguapan air sungai dan laut serta kapasitas turun hujan yang tinggi.

“Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait, baik dari sisi teknis dan non teknis. Kami kerjasama juga dengan pihak tata ruang kota dalam penentuan wilayah pembangunan kolam retensi dan pelebaran kawasan drainase,” ungkapnya.

Hanya saja, lanjutnya, saat ini terus terkendala dengan pembebasan lahan dari masyarakat. Hal itu karena satu kolam retensi dibutuhkan tanah seluas 15 hektar, sementara anggaran dari APBN biasanya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat.

Ditanya mengenai konsep dalam rencana pembangunan 43 kolam retensi, Syamsul menuturkan pihaknya mendatangkan peneliti asal Belanda untuk merumuskan titik-titik rawan banjir. Peneliti ini akan secepatnya datang ke Sumsel dan melakukan MoU dengan Pemprov Sumsel, lalu mulai melakukan penelitian selama satu tahun.

“Kami ingin membentuk konsep kajian ilmiah mengenai kondisi pengairan di Sumsel. Baik itu ilmiah dalam jangka panjang, menengah dan pendek. Yang jelas, jika nanti sudah selesai melakukan penelitian, kami akan langsung menentukan langkah dalam antisipasi terjadinya banjir di Sumsel,” ungkapnya.

Mengenai Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diberikan pemerintah pusat untuk Dinas Pengairan adalah sebesar Rp23 miliar. Dan itu sudah dihitung secara totalnya dalam alokasi dana proyek Rp112 miliar.

“Akan ada sebelas item irigasi guna pengelolaan irigasi. Ini akan disebar ke sembilan kabupaten kota di Sumsel. Untuk pembagian berdasarkan survey kebutuhan di lapangan,” kata dia. Sebelas item itu yakni diperuntukkan Lahat, Empat Lawang, OKI, Muratara, OKU, OKUT, Muaraenim, Lubuk Linggau, dan Musi Rawas. Pembagian itu sudah disesuaikan dengan skala prioritasnya.

 

TEKS      : IMAM MAHFUZ
EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *