Nasib Guru Honor Masih Menyedihkan

PALEMBANG – Prof. Dr. Slamet Widodo, Guru Besar Universitas Sriwijaya mengatakan, dirinya cukup miris dan prihatin jika melihat nasib guru honorer. “Mereka harus terus-menerus bersabar akan kepastian nasib mereka yang belum jelas. Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mereka dengan ikhlas mengabdikan diri untuk kemajuan bangsa, tapi sampai saat ini mereka belum mendapat kepedulian yang cukup memadai, bahkan nasibnya masih menyedihkan,” ujarnya kepada Kabar Sumatera, belum lama ini di Palembang.

Pernyataan Slamet ini, terkait dengan ungkapan Presdien Jokowi yang juga prihatin terhadap guru honorer. Menurut Jokowi, nasib guru honor memang memprihatinkan. Sebab menurut Jokowi, kesejahteraan guru berbanding terbalik dengan pengabdian mereka yang hingga puluhan tahun.

“Ini harus segera diselesaikan karena beliau-beliau (guru honorer) ini telah mengabdi pada dunia pendidikan lama sekali tapi dengan penghasilan yang sangat minim, sekali seratus sampai dua ratus ribu. Bayangkan inilah fakta yang kita hadapi,” tegasnya.

Jokowi berjanji untuk memperjuangkan nasib guru honorer. Namun, untuk mencapai status PNS, mereka harus tetap menjalani prosedur yang ada. “Meskipun akan diangkat tetap ada prosedur dan proses yang dilalui. Tapi tetap akan kita angkat,” ujarnya.

Menyahuti pernyataan itu, Slamet Widodo menegaskan agar keberadaan guru honorer di masa mendatang harus mendapat perhatian serius. Mereka harus mendapat penghargaan yang layak dari pemerintah. Sebab diantara mereka sudah belasan tahun mengabdi dan menunggu kepastian, aapakah dalam bentuk kepedulian keiankan honor atau bahkan pengangkatan menjadai Pegawai negeri Sipil (PNS).

Jika para guru honorer tidak mendapat kepedulian maksimal, menurut Slamet, kondisi ini sangat kontra produktif dengan target pemerintah yang sedang ingin meningkatkan kualitas pendidikan. “Saat pemerintah sedang mendorong mutu pendidikan agar meningkat, tapi di sisi lain, objek yang dijadikan tumpuannya harus hidup dalam ketidakpastian. Ini kontra produktif. Guru Honorer butuh dan harus dapat penghargaan, sebab yang mereka lakukan untuk pencerdasan anak bangsa. Semoga mereka diberi kekuatan untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik yang baik,” ujar Ketua Yayasan Sekolah Islam Terpadu Harapan Mulia Palembang ini.

Slamet menambahkan, diakui atau tidak, banyaknya orang pintar dan hebat di negeri ini berkat kerja keras para guru, termasuk guru honor. Oleh sebab itu, sepantasnya bila mereka di berikan penghargaan yang tak ternilai dari jerih payahnya untuk bangsa ini. “Selain menghargai jasa para pahlawan tanpa tanda jasa, tentunya menghargai segala daya upaya yang dilakukan mereka, tak boleh dilupakan. Melalui pengabdian mereka di dunia pendidikan, bangsa ini melahirkan orang-orang pintar dan hebat. Setapak demi setapak bangsa ini bangkit dari kelamnya masa kolonial Belanda yang meninggalkan warisan kebodohan. Melalui jasa para guru, bangsa yang kemudian mampu menyejajarkan pergaulan bangsa ini di dunia internasional,” tegasnya.

Slamet juga membandingkan antara Indonesia dan Malaysia. Pada tahun 2013 di Malaysia, Guru Mula (guru muda lulusan D3) mendapat gaji sekitar 1.745 RM atau sekitar Rp. 4.941.222,33 per bulan. “Sementara di negeri ini, masih ada guru lulusan S,1 golongan III.A, yang harus cukup dengan gaji rendah, bahkan minim per bulannnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Slamet menyebutkan, naiknya anggaran dana Bantuan Operasional sekolah tiap tahun, menurut Slamet rupanya tidak banyak berpengaruh pada kesejahteraan mereka. Terlebih dengan adanya aturan dalam penggunaan dan BOS yang menyebutkan, sekolah tidak boleh menggunakan dana BOS lebih dari 20% untuk belanja pegawai (membayar honor pegawai non PNS). “Kebijakan ini menurut saya kurang bijak. Pemerintah mungkin lalai melihat kondisi beberapa sekolah yang berada di pedalaman, di mana gurunya di dominasi oleh guru non-PNS,” tambahnya.

 

TEKS     : AHMAD MAULANA

EDITOR    : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *