“Guru Bukan Sekadar Mengajar”

PALEMBANG – Dekan Fakultas Agama Islam UMP, Drs Abu Hanifah, M. Hum mengatakan proses belajar mengajar di sekolah dasar (SD) sampai SMA tidak begitu signifikan. Dimana guru sebagai pendidik tidak banyak memberikan maksimalisasi pendidikan moral kepada anak didiknya. Bahkan yang lebih menyedihkan, para guru banyak sekadar mengajar tapi tidak mendidik. Padahal menurutnya, guru seharusya bukan sebatas memgajar tetapi juga wajib menjadi pendidik yang baik.

“Ini fakta yang terjadi dari dulu sampai sekarang. Dimana seorang guru hanya gugur kewajiban dalam memberikan akses pendidikan. Padahal guru merupakan faktor determinan dalam menentukan tinggi-rendahnya mutu pendidikan. Bayangkan, jumlah guru jutaan orang, sebagian besar berlatar belakang pendidikan SLTA dan D3 untuk jenjang TK-SD-SMP, dan sebagian kecil tamatan S1 untuk jenjang SM. Tentu saja ini berpengaruh pada kemampuan mengajar, yang diukur dengan penguasaan materi pelajaran dan metodologi pengajaran.” ujarnya.

Lebih lanjut aktivis Muhammadiyah Sumsel ini mengatakan, menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah melakukannya. Tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit.

“Kalau menjadikan manusia cerdas dan pintar itu mudah, tapi yang sulit ini menjadikannya baik dan berakhlak. Jadi sangat wajar apabila dikatakan bahwa problem moral merupakan persoalan akut atau penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun. Menciptakan anak didik yang baik, itu namanya mendidik, tapi menciptakan murid yang pintar akademik itu mengajar,” ujarnya,

Abu Hanifah menambahkan, problem moral inilah yang kemudian menempatkan pentingnya penyelengaraan pendidikan karakter. Sebab karakter dan moralitas merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap dan perilaku.

“Pendidikan karakter semacam ini lebih tepat sebagai pendidikan budi pekerti. Pembelajaran tentang tata-krama, sopan santun, dan adat-istiadat, menjadikan pendidikan karakter semacam ini lebih menekankan kepada perilaku-perilaku aktual tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual dan kultural,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Abu menilai, wajar saja bila anak didik tidak benar-benar menerima apa yang seharusnya mereka terima di bangku sekolah. Sopan santun terhadap guru, orang tua maupun orang lainpun tidak dilakukan oleh anak didik. Hal ini terjadi lantaran banyak sebagian guru tidak memberikan contoh baik kepada anak didiknya. “Bahkan lebih tragis lagi, oknum guru mengambil kesempatan untuk berbuat yang tidak baik kepada anak didiknya. Lebih-lebih lagi tawuran dan perkelahian antar murid sering terjadi,” ujar Mahasiswa S.3 Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang ini.

Di samping itu, banyak guru yang mengajar di luar bidang keahliannya, yang secara teknis disebut mismatch (tidak sesuai). Contoh ekstrem, guru sejarah mengajar matematika dan IPA, yang terutama banyak dijumpai di madrasah (MI, MTs, MA). Guru mismatch ini jelas tidak mempunyai kompetensi untuk mengajar mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya. Akibatnya, hal ini dapat menurunkan mutu aktivitas pembelajaran. Dengan demikian, upaya peningkatan mutu guru mutlak dilakukan yang bisa ditempuh melalui program sertifikasi dan penyetaraan D3 dan S1 menurut bidang studi yang relevan. Namun, upaya ini harus disertai pula dengan peningkatan kesejahteraan guru melalui pemberian insentif.

 

 

TEKS      : AHMAD MAULANA

EDITOR  : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *