Apindo Inginkan Rupiah Stabil

Ilustrasi  | Kontan/Baihaki

Ilustrasi | Kontan.co.id

PALEMBANG – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel menginginkan rupiah stabil level Rp12.000 per dolar. Apindo sebagai kumpulan pengusaha multisektor. Tentu ada untung dan rugi dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Pelemahan rupiah saat ini sangat memberatkan, sebab memengaruhi harga jual dalam negeri yang naik. Sedangkan daya beli masyarakat masih rendah. Di satu sisi untuk ekspor memang bagus, namun disisi lain komponen bahan baku banyak yang impor. Jadi ini sangat memberatkan sekali,” tutur Ketua Apindo Sumsel, Sumarjono Saragih, Jumat (19/12).

Ia berujar, dalam konteks neraca perdagangan Sumsel lebih didominasi impor ketimbang ekspor. Terbukti sebagian besar perkebunan banyak menggunakan pupuk impor yang harganya cenderung naik.

Ungkapnya, bahwa hingga saat ini saja masih banyak bahan baku yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Padahal potensi yang terdapat di Sumsel saat ini cukup banyak untuk dimanfaatkan, sehingga dalam hal ini pemerintah harus dapat melihat potensi tersebut.

“Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terlalu tinggi membuat pengusaha mengalami kerugian bukan hanya dari produksi, namun juga rugi kurs. Secara industrial semua pihak terpukul dengan situasi ini ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang rendah,” tuturnya.

Lanjut Sumarjono, sebetulnya pengusaha hanya menginginkan kestabilan dan kepastian. Sebab hal itu membawa pengaruh dalam hal pengaturan cashflow. Importir biasanya telah menyetujui kontrak mendatangkan barang dengan jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu dan pada kurs yang telah disepakati.

“Dengan terus melemahnya rupiah, otomatis importir harus mendatangkan barang dengan harga lebih tinggi mengacu pada harga dolar saat itu. Sudah ada kontrak dengan proyeksi kurs tertentu. Otomatis importir rugi,” jelasnya.

Di sisi lain, kendatipun dalam beberapa hal eksportir diuntungkan, namun hal ini tidak diimbangi dnegan demand yang baik. Sementara bagi pengusaha ekspor yang bahan bakunya impor juga tidak banyak membantu akibat beban kurs tinggi. Ia tak dapat memprediksikan apakah rupiah diakhir tahun sampai triwulan I/2015 akan menguat atau melemah. Pemerintah pun tidak memiliki optimisme tinggi untuk mengembalikan rupiah pada level baik dengan upaya strategis.

“Bukan permasalahan penggunaan dolar dalam transaksi ekspor impor. Selama ini perusahaan dalam negeri menggunakan rupiah setiap bertransaksi ekspor dan impor dan itu wajib dilakukan. Tapi jika dijual ke luar negeri otomatis transaksi menggunakan dolar,” ujar Sumarjono berharap pemerintah terus mengintervensi agar rupiah berada pada level Rp12.000 per dolar.

Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K Eddy menambahkan, secara teoritis jika rupiah melemah dan dolar mengalami kenaikan maka eksportir karet diuntungkan dengan menjual karet ke luar negeri. Namun disisi lain tidak didukung dengan kondisi saat ini dimana demand masih sangat rendah sehingga ekspor karet masih stagnan.

“Untuk tujuan ekspor karet masih Amerika, Cina dan Eropa. Tahun lalu saja ekspor karet dalam negeri mencapai 1juta ton per tahun. Angka itu justru merosot sekitar 20 persen terjadi sejak semester II/2014,” ungkapnya.

 

TEKS      : AMINUDDIN
EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *