Lanjutan Sidang Ahmad Yani, Saksi Plintat-Plintut, Hakim Berang

Sidang Kasus A Yani | Dok KS

Sidang Kasus A Yani | Dok KS

KAYUAGUNG – Hakim Ketua, Dominggus Silaban berang saat mendengar keterangan saksi korban, Alex dalam sidang lanjutan kasus dugaan penipuan pemberian izin lahan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Kamis (18/12) kemarin.

Kekesalan hakim ketua ini sangat beralasan. Lantaran Alex membeberkan keterangan yang membingungkan dan tidak sesuai apa yang dikatakan dengan Berita Acara Pemeriksaan milik saksi korban yang dibacakan Hakim Ketua.

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan hakim ketua maupun hakim anggota terkait penyerahan uang izin usaha pada terdakwa Ahmad Yani tidak dijawab dengan jelas dan singkat. Beberapa penjelasan saksi korban terkait penyerahan uang tidak sesuai dan berubah-ubah perihal adanya beberapa nama yang menyerahkan uang tersebut pada Ahmad Yani.

Bahkan, hakim ketua beberapa kali terlihat bingung terkait penjelasan uang yang diberikan saksi korban kepada terdakwa sebesar Rp 1,2 miliar. Dalam persidangan, itu saksi korban mengakui jika dirinya menawarkan diri kepada terdakwa untuk meminta bantuan izin usaha dan sudah melakukan pertemuan sebanyak enam kali.

“Pada 12 September 2012, saya beri uang Rp 200 juta kepada Edi Rizal, Mulyadi serta Tarni untuk diserahkan ke Ahmad Yani. Dan katanya sudah sampai. Itu untuk admninistrasi penerbitan izin usaha,” ujar Alex dipersidangan.

Dalam persidangan saksi korban juga menjelaskan, jika dirinya sudah bertemu dengan terdakwa sebanyak enam kali yakni pada 12 September 2013 hingga 28 September. Sementara itu, terdakwa Ahmad Yani yang diberikan kesempatan berbicara mengatakan, jika apa yang diucapkan saksi korban tidak benar dan penuh rekayasa.

“Itu tidak benar, Pak. Pada 12 September 2012, saya berada di Pulau Samosir, Medan. Saya tidak bertemu dengan Tarni, Mulyadi ataupun Edi Rizal,” tegasnya.

Ahmad Yani menambahkan, kebohongan juga terkuat saat saksi korban bercerita jika pada 25 September 2012, Tarni berada di rumahnya.

“Tidak benar juga Pak. Pada tanggal tersebut saya berada di Jakarta. Intinya keterangan tersebut bohong dan rekayasa,” tegasnya.

Kuasa Hukum terdakwa Ahmad Yani Iswandi Idris menyebutkan, bahwa fakta persidangan terungkap, bahwa saksi korban memberikan keterangan tidak jelas. Menurutnya, saksi korban sendiri tidak bisa memastikan keterangan pada saat diperiksa dikepolisian.

“Terbuka tadi di persidangan bahwa saksi tidak bisa meyakinkan keterangannya yang dia buat sendiri. Inikan aneh. Bahkan, semua orang yang hadir bingung, termasuk hakim ketua dan anggota,” ungkapnya.

Ia berujar, keterangan saksi ialah keterangan yang dialami, dilihat dan didengar. “Harusnya dia bisa memberikan keterangan yang jelas, gamblang dan tergas, tidak sebaliknya berbelit-belit,” ungkapnya.

Disinggung adanya kejanggalan kasus tersebut, Iswadi menjelaskan, pihaknya masih berfikir positif lantaran masih ada saksi yang belum memberikan keterangan.

“Setelah saksi-saksi dihadirkan dimuka persidangan, baru bisa melihat lebih jauh terhadap perkara ini. Kalau untuk fakta persidangan jelas dilihat bahwa keterangan saksi tidak jelas, tidak tegas dan tidak ada kepastian. Padalah BAP merupakan kerangan dia sendiri,” paparnya.

Terpisah, Kuasa Hukum saksi korban Alex, yakni Hendri Dunan menilai, sidang tersebut tidak adil dan saksi korban merasa dipojokkan. “Ya, kalau saya lihat ini tidak adil. Saksi korban seolah-olah diposiskan sebagai terdakawa. Kita rencana akan melapor ke Komisi Yudisial (KT), singkatnya.

Dalam persidangan tersebut, sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Dominggus Silaban, hakim anggota Jely Syahputra dan Hakim Anggota, Irma H. Nasution. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni Andi M Arif dan Solahudin. Terungkap pula Kuasa Hukum Ahyad Yani juga menyerahkan uang jaminan sebanyak Rp 400 juta ke pihak PN Kayuagung.

Dan, sidang akan kembali digelar pada 22 Desember 2014 mendatang dengan agenda mendengarkan saksi yakni Tarni. Sidang sendiri dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB.

 

TEKS       : JUNAEDI ABDILLAH
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *