Menyelamatkan Mahasiswa dengan Manhaj Thalaqqi

seminar pemahaman ahlu sunnah wal jamaah  yang digelar kordinator komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Rabu, 17/18/2014. | Dok KS

seminar pemahaman ahlu sunnah wal jamaah yang digelar kordinator komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Rabu, 17/18/2014. | Dok KS

PALEMBANG – Saat ini mahasiswa perlu diselamatkan dengan cara manhaj thalaqqi. Demikian diungkapkan oleh Buya Yahya   pada seminar pemahaman ahlu sunnah wal jamaah  yang digelar kordinator komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Rabu, 17/18.

Menurut Buya Yahya, manhaj thalaqqi, terdiri dari dua kata, manhaj dan talaqqi. Kata manhaj, secara bahasa berarti jalan yang lurus dan jelas. Sedangkan secara istilah berarti, cara (teknik) atau jalan (metode). Menurut Buya, metode yang bisa mengantarkan kepada pengenalan terhadap hakikat kebenaran di dalam berbagai ilmu melalui media, yaitu disebut Buya, seperangkat kaidah-kaidah umum yang mengarahkan (meluruskan) alur pemikiran dan yang mengatur proses berfikir hingga sampai pada konklusi (natijah, hasil) tertentu. “Dengan istilah lain, ia adalah Qanun (undang-undang) atau kaidah (landasan) yang mengatur setiap usaha studi ilmiah di bidang apa saja,” tegasnya.

Sedangkan kata thalaqqi menurut Buya, berarti menerima dan mengambil. Dikatakan dalam bahasa Arab “thalaqqi ‘an fulan (ia mengambil ilmu dari fulan). Maka istilah manhaj thalaqqi berarti metode pengambilan Aqidah. Dan biasanya disebut Buya, secara lengkap “Manhaj Talaqqi Wa Istidlal” yang berarti metode pengambilan aqidah dan berargumentasi. “Jadi manhaj thalaqqi ahlu sunnah dapat disimpulkan, sumber akidah adalah kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ijma’ salaf al-shalih. Semua hadits yang shahih, meskipun melalui jalur yang tidak mutawattir adalah hujjah. Akal berfungsi untuk memahami sumber-sumber akidah yang telah diimani dan hasilnya pasti sesuai dengan riwayat-riwayat yang shahih, dan mengikuti serta mengandalkan pemahaman salaf terhadap ayat atau hadits,” tegasnya.

Manhaj thalaqqi, ini menurut Buya, untuk menjaga para mahasiswa, karena mahasiswa ini akan masuk suatu wilayah yang terbuka. Oleh sebab itu, mahasiswa harus mempunyai rambu-rambu  agar mereka tidak kebablasan. Sebab menurut Buya, mahasiswa itu selalu diajak  berfikir. “Maka kami ingatkan kepada mahasiswa agar jangan lupa dengan Manhaj thalaqqi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Buya menegaskan, manhaj thalaqqi merupakan pengambilan ilmu dengan memperhatikan kedisiplinan, kesinambungan, keilmuan antara guru dengan murid. Dalam hal ini sangat berarti dalam menjaga dalam mengkaji Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang benar.

Ditambahkan, dalam konteks ini seseorang bukan berarti tidak boleh memperluas ilmu dengan cara membaca. Namun disini lebih ditekankan kepada seseorang agar mempunyai dasar-dasar aqidah yang benar yang diambil dari guru yang jelas terlebih dahulu, sebelum mereka mengembara dengan pemikiran-pemikiran aqidah yang berbeda.

“Mahasiswa punya kewajiban untuk tetap belajar di kampus dengan guru yang mengajar. Tapi perlu juga mengetahui tentang Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Maka harus kembali kepada Masyayih yang mana selama ini mempunyai sanad yang jelas dan sebagainya,” tuturnya.

Hal lain yang disampaikan Buya adalah pentingnya menyelamatkan pemikiran mahasiswa dengan manhaj thalaqqi, yaitu mengambil  ilmu dari guru sampai Nabi Muhammad SAW.  “Kalau belajar di kampus kan hanya untuk wawasan, akan tetapi pengetahuan tentang ahlul sunnah wal jamaah perlu digali, agar mereka tidak salah dalam pemahamnnya,”katanya.

Sementara itu, Deri Ketua Korkom HMI UIN Raden Fatah mengungkapkan,
tujuan dari seminar ini agar mahasiswa mendapatkan pemahaman tentang ahlu sunnah wal jamaah, terjkait dengan banyaknya pemahaman-pemahaman yang cenderung menyesatkan.

“Diharapkan melalui seminar ini, peserta benar-benar memahami ahlu sunnah wal jamaah, sehingga tidak terjebak dalam menggali pemikiran,” ujar Buya.

 

TEKS    : ANDI HARYADI 

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *