Madrasah di Sumsel Masih Gunakan Kurikulum 2006

 

PALEMBANG – Terkait keputusan dari Kementerian Pendidikan Dasar Menengah dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menerapkan Kurikulum 2013 (K-13) di sekolah, hal ini belum berlaku untuk Madrasah di Sumatera Selatan (Sumsel).

Saifuddin, Humas Kementrian Agama (Kemenag) Sumsel mengatakan, sekarang madrasah-madrasah yang ada di Sumsel masih menggunakan kurikulum lama, yaitu Kurikulum 2006, dikarenakan belum adanya surat edaran dari Menteri Agama.

“Sekolah di bawah naungan Kemenag Sumsel Masih menggunakan Kurikulum lama, sampai nanti ada petunjuk dari Menteri Agama terkait penerapan kurikulum 2013 untuk Madrasah,” katanya, saat ditemui Harian Umum Kabar Sumatera di Kemenag Sumsel, Kamis, 18/12.

Ia menjelaskan, madrasah di Sumsel masih seperti sebelumnya. Sebab untuk pelajaran Pendidikan Agama Islam, kurikulumnya dibuat dari kemenag sendiri, akan tetapi untuk pelajaran umum tetap menggunakan kurikulum di bawah Kemendikbud.

“Kita tidak terganggu untuk Pendidikan Agama Islam, seperti Bahas Arab, Fiqih dan lain-lain, karena semua itu merupakan kurikulum yang dibuat dari Kemenag sendiri,” tuturnya.

Terkait adanya pro kontra terhadap K-13, Saifuddin mengatakan, semua itu adalah dinamika pergantian dari Menteri lama. “Yang jelas kita tidak boleh terganggu dengan hal itu, kita tetap berjalan seperti biasanya, belajar seperti biasanya, sampai ada surat

edaran dari pusat,” ujarnya.

Untuk sementara ini, Kemenag Sumsel masih menunggu arahan dari Menteri Agama tentang surat edarannya seperti apa? “Yang jelas arahannya untuk sementara adalah masih menggunakan kurikulum yang lama,” ujarnya.

Saifudin menyampaikan, mestinya untuk menerapkan kurikulum baru, lebih dahulu dilakukan survei dan pengkajian yang dalam, sehingga apakah perlu dilakukan pergantian kurikulum atau tidak. “Harus dilakukan pengkajian secara mendalam lebih dulu, sehingga bisa memilih mana yang lebih pantas, lebih efesien dan bermanfaat diterapkan dengan sesuai kondisi yang ada sekarang. Jangan sampai keputusan yang diambil sifatnya terburu-buru, sehingga penerapannya di lapangan belum sesuai dengan yang diinginkan,” ujarnya.

 

TEKS   : ANDI HARYADI

EDITOR  : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *