Humanisasi Pendidikan

Upaya pendidikan atau membina nilai moral hendaknya menggunakan asas atau pendekatan manusiawi atau humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik secara utuh dan bulat (aspek fisik-non fisik, emosi-intelektual, kognitif-apektif, dan psikomotorik). Kita masih sangat komit dnegan satu pernyataan bahwa pendidikan yang memanusiakan manusia, yaitu pendidikan yang menyentuh unsur dalam manusia, yaitu ruhani.

Ruhani seseorang juga memerlukan nutrisi dan gizi. Kalau kebutuhan ruhani ini terpenuhi dalam diri seseorang dengan sangat baik, maka orang itu bisa disebut sebagai orang beriman dan bertakwa. Dan orang-orang yang kebutuhan otak serta ruhaninya terpenuhi secara melimpah ruah, maka mereka bisa disebut sebagai orang-orang yang mempunyai kecerdasan paripurna, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Adapun pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial (mempunyai kemampuan, kelebihan dan kekurangannya) diperlakukan dengan penuh kasih sayang, hangat, kekeluargaan, terbuka, objektif, dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan atau paksaan apapun juga.

Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala aspeknya. Ada tiga hal yang perlu dikaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan akan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justeru akan semakin memegang peranan penting di dalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka.

Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia, baik jasmani maupun rohaninya perlu diberikan kesempatan di dalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik di dalam pendidikan formal, non formal, dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya.

Dengan demikian, proses pendidikan hendaknya dijadikan sebagai proses humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral, agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, baik pada masa kini dan masa yang akan datang. Untuk itu, hendaknya pula pendidikan bersendikan agama, kebutuhan dunia, dan tradisi bangsa. Sehingga, pendidikan sebagai proses humanisasi, pendidikan berkepentingan untuk memposisikan manusia sebagai makhluk yang memiliki keserasian dengan habitat ekologinya. Manusia diarahkan untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis seperti makan, minum, pekerjaan, sandang, tempat tinggal, berkeluarga, dan kebutuhan biologis lainnya dengan cara-cara yang baik dan benar. Dalam proses humanisasi seperti itu, maka pendidikan dituntut untuk mampu mengarahkan manusia pada cara-cara pemilihan dan pemilahan nilai sesuai dengan kodrat biologis manusia.

Dengan demikian, nilai dan pendidikan merupakan dua hal yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Bahkan ketika pendidikan cenderung diperlakukan sebagai wahana transfer ilmu pengetahuan seperti yang diyakini oleh sebagian besar penganut aliran kognitivisme, di sana telah terjadi perambatan nilai yang setidaknya bermuara pada nilai-nilai kebenaran intelektual. Demikian pula, ketika peristiwa pendidikan sangat syarat dengan pembelajaran keterampilan baik formal maupun non-formal, di dalamnya terdapat proses pembelajaran nilai yang mengandung bobot benar-salah, baik-buruk, atau indah-tidak indah.**

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *