Pendidikan Masih Diukur dengan Angka

FOTO--Ferry-KS

foto:fery/ks

PALEMBANG – Sistem pendidikan saat ini masih juga dengan target pembentukan manusia yang cerdas secara moral. “Oleh sebab itu, saya katakan menciptakan orang baik dalam dunia pendidikan itu lebih sulit ketimbang menciptakan orang yang pintar secara keilmuan,” ujar Dr Kasinyo, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.

Hal itu dikatakan Kasinyo sehubungna dengan sejumlah kasus yang menimpa di beberapa sekolah. Ironisnya, diantara pelaku penyimpangan itu adalah tenaga didik yang semestinya menjadi tauladan bagi peserta didik.

Menurut Kasinyo, sulitnya mendidikan orang baik, disebabkan sistem pendidikan kita diukur dengan angka-angka, rangking dan huruf diatas kertas. Ukuran itu menurut Kasinyo bukan tidak penting, Namun standarisasi nilai dalam angka diatas teks hal itu hanya untuk mengukur kepintaran peserta didik, dan bukan ukuran apakah peserta didik akan menjadi orang baik atau tidak.

Kasinyo mengatakan, pendidikan pada hakekatnya memiliki dua tujuan, yaitu membantu manusia untuk menjadi cerdas dan pintar (smart), dan membantu mereka menjadi manusia yang baik (good). Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah melakukannya, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit. “Dengan demikian, sangat wajar apabila dikatakan bahwa problem moral merupakan persoalan akut atau penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun,” tegasnya.

Kenyataan tentang akutnya problem moral inilah, menurut Kasinyo, yang kemudian menempatkan pentingnya penyelengaraan pendidikan karakter. “Rujukan kita sebagai orang yang beragama (Islam misalnya) terkait dengan problem moral dan pentingnya pendidikan karakter dapat dilihat dari kasus moral yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah selesai-selesai,” tambahnya.

Membangun pendidikan karakter kepada peserta didik, menurut Kasinyo, bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan beberapa faktor yang dapat mendukung terealisasinya pendidikan. Diantaranya tenaga pengajar (guru). Sebab guru merupakan teladan bagi siswa-siswinya, sehingga cara mengajar yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh nyata berupa tindakan. “Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang menjadi guru bukanlah orang yang sembarangan. Pelatihan dan diklat mengenai pendidikan karakter wajib diikuti seluruh guru tanpa terkecuali,” tambahnya.

Sementara itu, Drs Abu Hanifah, M. Hum, Dekan Faklutas Agam Islam Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) mengakui, kualitas moral generasi muda saat ini, boleh dikatakan sedang mengalami penurunan. Oleh karena itulah, menurut Abu, perlu diselenggarakan pendidikan karakter yang meliputi pendidikan moral, pendidikan nilai-nilai kehidupan, religius, dan budi pekerti di setiap institusi pendidikan. Karakter merupakan pola perilaku yang bersifat individual. “Saya sepakat apa yang diungkapkan Williams & Schnaps dimana pendidikan karakter adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh para anggota sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab,” tambahnya.

Disisi lain, Syahida Rena, Psikolog di Palembang mengatakan, pendidikan karakter menadi adalah upaya mendidik peserta didik dengan menanamkan nilai-nilai moral (karakter) yang baik kepada generasi penerus bangsa. Menurutnya, pendidikan karakter merupakan pendidikan yang tidak hanya mengutamakan kualitas ilmu pengetahuan, tetapi juga mengutamakan kualitas moral peserta didik yang didukung oleh skill. **

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *