Proyek Irigasi Air Jemair Senilai RP 2,1 M Banyak Kejanggalan

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PAGARALAM – Upaya mengetahui berbagai keluhan di masyarakat, Komisi 3 DPRD Kota Pagaralam, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pembangunan iriasi Air Jemair, yang berada di RT 2 RW, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam. Melalui sidak dimaksud para legislator ini banyak menemukan berbagai kejanggalan dalam pengerjaan bangunan saluran air yang telah menyerap dana APBD Sumsel 2014 senilai Rp2,1 miliar.

Ketua Komisi 3 DPRD Kota Pagaralam, Yumisa didampingi anggota Dessy Syska, Sepni Amir, Pandin Firmansyah, Alpian, Kadino, Darmawi dan Dedi Irawan, meninjau langsung titik bangunan irigasi roboh, yang berjarak sekitar 1 KM dari Dusun Sumber Jaya, kemarin (15/12).

Keadaan bangunan yang kurang memperhatikan pekerjaan, kurang perencanaan, tidak dibuat bronjong sebelum pembuatan saluran irigasi, termasuk kualitas bangunan sangat tidak sesui dengan kondisi alam dan kultur tanah yang mudah longsor. Kemudian Komisi 3 pun menemukan pola pengerjaan fisik bangunan lebar 1 meter tinggi sekitar 80 cm dengan panjang sekitar 35 meter tampaknya dikerjakan asal jadi dan tidak sesui dengan lebar dan kekuatan fisik bangunan sebelumnya.

“Masyarakat awam saja menilai bangunan irigasi Air Jemair yang telah menyerap dana APBD Sumsel tahun 2014 senilai Rp2,1 miliar ini sangat tidak sesuai, apalagi kami dari Komisi 3 secara langsung melihat pengerjaan dimaksud sangat tidak sesui,” ujar Yumisa didampingi Dedi Irawan, kemarin.

Hasil pemeriksaan bangunan dimaksud lanjutnya, sangat jelas mudah mengalami kerusakan meski baru selesai di bangun, karena kondisi ini terjadi akibat dikerjakan asal jadi dan kurang pengawasan.

“Ini sungguh ironis, bangunan Air Jemair telah menyerap dana sekitar Rp15 miliar, tapi hasilnya jauh dari harapan dan membuat warga kecewa,” kata Yumiza.

Sebetulnya sambung Dedi Irawan, pelaksana pekerjaan perlu mengkaji dahulu tindakan apa yang mesti dilakukan jika melihat kondisi daerah rawan longsor membangun saluran irigasi.

“Memang aneh, ada kesan pihak provinsi membuat proyek simpel untuk mempermudah dalam pencairan dana saja, mengingat pihak provinsi kerap memilih lokasi yang jauh dari pemukiman dan jauh dari pengawasan,” tambahnya.

Ia mengatakan, kepada pihak provinsi khusunya Dinas PU Sumsel agar dapat meningkatkan pengawasan terhadap berbagai program daerah.

“Kendati demikian, kami dan Pemkot Pagaralam sulit melakukan pengawasan terhadap proyek dimaksud, selain tidak pernah melapor dan terkesan dilakukan memang mencari daerah terpencil,” bebernya.

Sebelumnya, Kepala BPBD Kota Pagaralam Herawadi SSos menerangkan, memang penyebab kerusakan akibat sering longsor. Bahkan kerusakan irigasi dimaksud merupakan susulan setelah mengalami kerusakan beberapa bulan sebelumnya. Ia berkata, pihaknya belum bisa melakukan penanggulangan karena masih tanggungjawab provinsi dan belum masuk masa pemeliharaan karena baru beberapa minggu selesai dikerjakan Dinas PU Pengairan Provinsi Sumsel.

“Dana pembangunan irigasi Air Jemair melalui dana APBN dan APBD Sumsel, jarang menggunakan APBD Kota Pagaralam,” terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas PU Kota Pagaralam, Ir Sunarto mengatakan, proyek pembangunan Air Jemair di kelurahan candi Jaya merupakan proyek yang didanai APBD Provinsi Sumatera Selatan.

“Mohon maaf, kami tidak bisa berkomentar terlalu jauh, mengingat pekerjaan tersebut sama sekali tidak di ada koordinasinya dengan dinas PU Kota Pagaralam,” katanya seraya berujar kita sudah melaporkan hal itu kepada Dinas PU Pengairan Provinsi Sumsel agar kerusakan yang ada dapat segera diperbaiki.

 

TEKS     : ANTONI STEFEN
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *