Tak Terima Putusan Hakim, Kursi Terdakwa Pembunuhan ‘ Jungkir Balik’

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

LUBUKLINGGAU – Sidang putusan kasus pembunuhan Alm Komarudin Warga Desa Lubuk Alai Kecamatan Muara Lakitan Musi Rawas dengan terdakwa Hendri (35) warga Desa Marga Baru Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musirawas, Deman (68) dan Marwan (47) warga Desa Aringin Kecamatan Karang Dapo Kabupaten Musi Rawas Utara ricuh.

Pantauan Kabar Sumatera, jadwal sidang yang diagendakan Kamis (12/12) pukul 12.00 WIB sempat ditunda dan baru dilaksanakan pukul 13.44 WIB, dengan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Tak hanya dikawal ketat sidang putusan yang dilaksanakan diruang sidang utama, dua pintu masuk bagian belakangpun dikunci pihak Pengadilan.

Sidang yang diketuai hakim, Surya Laksmana dengan hakim anggota Beny Arisandi SH MH, M Syafrizal Fahmi SH, dan panitera Zainal Abidin S Sos dimulai ruang sidang mendadak ramai dengan suara keluarga korban.

“Kami nak diam kalu putusanyo adil,” ucap keluarga korban serentak.

Sidang putusan tiga terdakwa dilakukan terpisah. Pertama hakim membacakan putusan terhadap terdakwa Marwan, dan menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dikurangi masa penahanan.

Putusan hakim ini sontak menyulut amarah keluarga korban dan ruang sidang mendadak ricuh. Tak hanya diruang sidang dengan berbicara lantang dan memukul kursi adik korban bersama keluarga lainya mengejar terdakwa yang dibawa dengan mobil tahanan.

“Ulangi pak kami dak dengar, baco putusan alus nian mano kami nak dengar, pengadilan dak adil. Balekke nyawo anak aku Komar kalu yang bunuh cuman dapat hukuman cak itu. Kamu la makan duet bekarung-karung, wong tu jual mobil untuk nyogok kamu,” ucap keluarga korban.

Tak hanya berbicara lantang,ibu ibu yang dipekirakan ibu kandung korban yang tidak terima dengan putusan hakim jungkir balik menangis diruang sidang,dan menjungkirbalikan kursi terdakwa sambil menangis histeris.

Hal itupun membuat istri korban, Sari yang mengenakan baju merah dan jilbab ungu menangis histeris. Namun berselang 30 menit kemudian sidang dengan dua tersangka lainnyapun dilanjutkan dengan tenang dan diakhiri dengan kemarahan keluarga korban. Mereka juga berteriak-teriak bahwa ada oknum yang meminta uang Rp 1 miliar agar terdakwa dihukum mati atau seumur hidup.

Adik korban, Effendi kepada Kabar Sumatera mengaku kecewa dengan hakim dan jaksa yang menangani kasus tersebut,karena mereka menuntut hukuman 20 tahun,namun hanya divonis 10 tahun.

“Hakim itu sudah ngomong, Pak Aji kami biso bantu kamu, tapi kamu biso dak bantu kami duet Rp 1 miliar,berarti hukum itu pacak dibeli,” aku Effendi dengan nada kecewa.

Ia menilai bahwa hukum saat ini bisa dibeli dengan uang,dan orang berduit bisa membunuh orang tanpa hukum setimpal.

“Tanggung igo cuman 10 tahun dua bulan bae, biar dio keluar kami pulo yang bunuhnyo. Kami nak ngajukan banding,”pungkasnya.

 

TEKS    : SRI PRADES
EDITOR    : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *