Kemacetan Di Jembatan Ampera Semakin Parah

Kemacetan Di Jembatan Ampera, | Foto : Bagus Kurniawan

Kemacetan Di Jembatan Ampera, | Foto : Bagus Kurniawan

  • Hak Pejalan Kaki Dirampas

PALEMBANG – Kesadaran pengendara roda dua di Metropolis masih kurang, walaupun sudah ada larangan dari pihak kepolisian maupun Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang melintasi trotoar di kawasan Jembatan Ampera. Namun, sejumlah pengendara masih saja melintasi jalur yang seharusnya di gunakan oleh pejalan kaki.

Pengendara sepeda motor, Anton (25) mengaku, ia terpaksa melintasi jalur yang menjadi hak pejalan kaki tersebut. Karena menurutnya apabila melalui jalur trotoar akan lebih menghemat waktu perjalanan.

“Saya tau sudah dilarang. Tapi hal itu terpaksa saya lakukan untuk menghindari kemacetan,” ungkapnya, saat dibincangi, Kamis (11/12).

Ucapnya, selain bisa menghemat waktu, penyebab lain pengendara roda dua melintasi trotoar, dikarenakan tidak ada pengawasan dari pihak kepolisian.

“Kalau ada polisi yang berjaga, tidak mungkin kami berani menaiki trotoar, tapi ini semua karena disebabkan macet, makanya pengendara sepeda motor menaiki trotoar,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan pengguna sepeda motor lainnya, Zaki (26) mengaku, macet bukan hanya di Ampera saja, melainkan dari Jakabaring sampai dengan kawasan Sudirman.

“Apalagi semenjak Asian University Games (AUG) yang di adakan di Palembang, setiap hari macet panjang. Mulai dari Ampera sampai Jalan Gubernur H Bastari tepatnya simpang tiga pasar induk Jakabaring,” katanya.

Zaki mengaku, beberapa bulan terakhir kawasan Jakabaring memang langganan macet, karena sedang ada pembangunan Fly Over. Menurutnya, kemacetan terjadi pada saat jam sibuk yakni pukul 07.00-09.00 WIB dan pukul 16.00-18.00 WIB.

“Tapi, semenjak AUG dimulai kemacetan setiap waktu. Jalan Gubernur H Bastari selalu macet dan dipenuhi kendaraan mulai roda dua hingga roda empat,”keluhnya.

Zaki mengaku, kemacetan semakin parah dikarenakan banyak pengendara roda dua yang berebut mendahului untuk menghidari macet dengan menaiki trotoar.

“Meskipun lalu lintas keadaan ramai, tidak ada polisi yang mengatur dan melarang pengendara roda dua yang naik trotoar, jadi kami bebas saja naik trotoar,”katanya.

Sementara itu, salah satu warga pejalan kaki di Jembatan Ampera Nia mengaku, ia sangat terganggu dengan banyaknya pengendara motor yang sering menjadikan trotoar sebagai jalur lalu lintas. Menurutnya mereka pengguna kendaraan, sudah merampas hak pejalan kaki.

“Ketika mereka di tegur, malah mereka yang menegur kami, katanya minggir sedikit. Padahal sudah jelas trotoar itu dibuat sebagai pasilitas yang di peruntukan bagi pejalan kaki,”katanya.

Ia berharap, pemerintah maupun Polisi dapat menindak pengguna lalu lintas yang menyalahi aturan. Jangan malah dibiarkan.

“Kami berharap hak pejalan kaki juga diperhatikan, tilang saja mereka yang melanggar aturan,”tukasnya.

 

TEKS     : ALAM TRIE MARSATA

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *