Irigasi Roboh Segera Perbaiki

PAGARALAM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pagaralam, desak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sumsel, agar dapat meningkatkan pengawasan dan melakukan perbaikan kembali terkait robohnya irigasi Air Jemair, di RT 2 RW 2, Kelurahan Candijaya, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam yang diduga kuat dikerjakan asal jadi atau tidak sesuai bestek. Hal itu dikemukakan Anggota Komisi 3 DPRD Kota Pagaralam, Dedi Irawan SH, Rabu (11/12).

Warga setempat sudah seringkali melaporkan adanya irigasi rusak dan tidak dapat difungsikan, padahal baru beberapa pekan lalu selesai di bangun. Ia mengatakan, kondisi ini terjadi karena ada kesan dikerjakan asal jadi.

“Memang aneh, bangunan sudah manghabiskan dana hampir Rp 20 miliar lebih, tapi hasilnya jauh dari harapan dan membuat masyarakat kecewa,” katanya.

Ujar dia, pelaksana atau kontraktor sudah mengkaji terlebih dahulu tindakan apa yang mesti dilakukan jika melhat kondisi daerah rawan longsor saat membangun saluran irigasi.

“Kalau diamati memang terkesan pihak provinsi membuat proyek untuk simpel dalam pencairan dana saja, sehingga sering memilih lokasi yang jauh dari pemukiman agar tidak terpantau,” sebutnya.
Dedi menegaskan, diminta kepada pihak provinsi agar dapat meningkatkan pengawasan terhadap berbagai program daerah. Apalagi dana pembangunan irigasi dimaksud menggunakan dana APBD Provinsi Sumsel, tahun 2014 senilai Rp 1,7 miliar.

“Baru selesai dikerjakan beberapa pekan lalu, bangunan sudah roboh sepanjang 35 meter dengan lebar sekitar 1 meter dengan tinggi sekitar 1 meter hingga menyebakan bangunan rusak berat dan tidak dapat difungsikan,” jelasnya seraya berkata kerusakan irigasi ini pernah mengalami kerusakan cukup parah beberapa bulan lalu, bahkan seluruh bagian bangunan ambruk masuk ke dalam jurang sedalam ratusan meter.

Irigasi ini dibangun sekitar tahun 1955 lalu kemudian diteruskan perpanjangan saluran dengan menggunakan APBD Sumsel sekitar Rp 4 miliar tahun 2011 kemudian diteruskan Rp 6,9 miliar tahun 2012 dan Rp 1,7 miliar tahun 2014, namun akibat sering mengalami kerusakan akibat kondisi hasil pekerjaan kurang kuat dan kokoh.

“Meski begitu, kami dan pemerintah setempat sulit melakukan pengawasan terhadap proyek tersebut selain tidak pernah melapor dan terkesan dilakukan memang mencari daerah terpencil,” bebernya.

Kepala BPBD Herawadi SSos mengatakan, memang penyebab kerusakan akibat sering longsor yang membuat kerusakan irigasi itu yang merupakan susulan setelah mengalami kerusakan beberapa bulan sebelumnya, dilokasi yang sama sudah dilakukan perbaikan tapi belum selurunya.

Ia mengatakan, sejauh ini pihaknya belum dapat melakukan penanggulangan karena masih tanggungjawab provinsi dan belum masuk masa pemeliharaan, karena baru beberapa minggu selesai dikerjakan Dinas PU Pengairan Provinsi Sumsel.
“Mayoritas pembangunan irigasi Air Jemair melalui dana APBN dan APBD Sumsel, jarang menggunakan APBD Kota Pagaralam,” terangnya.

Data di lapangan kata dia, memang posisi pengerjaan irigasi bukan hanya rawan longsor saja tapi berada di tepi jurang cukup dalam.

“Saat ini ada 300 meter keberadaan saluran irigasi yang rawan lonsor dan belum tersentuh pembangunan karena masih berupa tanah,” ungkapnya.

Kepala Dinas PU Kota Pagaralam, Ir Sunarto mengatakan, bangunan irigasi rusak merupakan proyek Provinsi Sumsel dan kerusakan irigasi akibat longsor di daerah Dempo Tengah itu akan segera diminta pihak pelaksana melalui Dinas PU Provinsi untuk segera melakukan perbaikan.

“Kami akan membuat laporan resmi kepada Dinas PU Provinsi agar segera dilakukan perbaikan,” singkatnya.

TEKS:ANTONI STEFEN
EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *