Sebelum Tewas Napi Merah Mata Masih Diborgol

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Diduga lantaran sakit, Zainudin (48) narapidana kasus narkoba yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Merah Mata, tewas meregang nyawa setelah kurang dari 24 jam mendapatkan perawatan intensif di unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Muhammad Husein (RSMH) Palembang.

Isak tangis keluarga pecah ketika mobil jenazah tiba d irumah Zainudin, yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Kemas I Majapahit, Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur II Palembang. Saat tiba tiba di rumah duka, jenazah langsung disambut keluarga yang sudah menantinya.

Dijelaskan Ismail Reza (20), yang merupakan anak bungsu dari Zainudin, bahwa ayahnya tersebut memang sudah empat hari terakhir mengalami sakit ginjal, namun pihak Lapas tidak memberikan pelayanan yang maksimal, Zainudin hanya mendapat perawatan di klinik yang berada di dalam Lapas.

“Setelah ayah saya sekarat barulah pihak Lapas membawanya ke rumah sakit, namun kurang dalam 24 jam mendapatkan perawatan di rumah sakit, ayah saya menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa (9/12) pukul 07.00 WIB,” katanya.

Lanjut Reza, ia menyesalkan lambannya tindakan pihak lapas terhadap ayahnya sehingga meninggal. “Coba waktu ayah sakit langsung dibawa ke rumah sakit bukan ke klinik, mungkin ayah saya masih bisa selamat,” jelasnya.

Selain terlambat membawa ayahnya ke rumah sakit, Reza juga kecewa dengan perlakuan pihak Lapas dengan masih memasang borgol di kaki kiri selama Zainudin menjalani perawatan, baik saat di klinik Lapas maupun di RSMH Palembang.

Bahkan, Reza mengaku melihat bekas borgolan di kaki kiri ayahnya yang sudah lebam. Padahal, menurut Reza, pihak lapas seharusnya tidak perlu lagi memborgol kaki ayahnya mengingat kondisi ayahnya yang sudah kritis dan tidak mungkin akan melarikan diri.

Ia menilai, ayahnya tidak akan tewas jika penanganan terhadap kesehatan ayahnya sesuai prosedur. “Ayah saya ini pekan depan bebas dan kami sudah siap menyambut kedatangannya. Namun, kami malah menyambut ayah dengan kondisi sudah tidak bernyawa,” kata Reza.

Dikatakan Reza, saat melihat kaki kiri ayahnya masih diborgol, ia sudah meminta kunci kepada petugas lapas. Namun, menurut petugas yang mengantar Zainudin ke rumah sakit, kunci dibawa oleh petugas yang lain. Borgol akhirnya lepas beberapa jam sebelum kematian Zainudin.

Sejak ditahan atas kasus narkoba di tahun 2011, Reza yang menghidupi keluarga. Ia bekerja sebagai karyawan kounter ponsel di Palembang Square. Sementara adiknya sudah putus sekolah dan belum memiliki pekerjaan.

“Ayah divonis penjara 5,4 tahun dan akan bebas pekan depan. Kami benar-benar sedih dengan kejadian ini,” kata Reza.

Dilihat dari rumah duka, Zainudin tergolong keluarga menengah ke bawah. Ia tinggal di rumah panggung berdinding kayu yang terlihat masih kokoh. Di sekeliling rumahnya sudah banyak ditempati warga, yang juga menetap di rumah berdinding kayu. Sebelum ditangkap atas kasus pengedar narkoba, Zainudin bekerja sebagai pencari barang-barang rongsokan.

Sementara itu, Kepala Lapas Merah Mata Farid, membenarkan adanya napi yang meninggal. Namun, napi tersebut meninggal bukan di dalam lapas melainkan di RSMH Palembang. “Memang ada, napi tersebut meninggal karena sakit komplikasi gagal ginjal dan jantung,” tuturnya.

Namun, Farid mengaku belum tahu perihal borgol di kaki Zainudin saat yang bersangkutan menjalani perawatan. Ia masih akan memeriksa ini kepada anggota yang membawa Zainudin ke rumah sakit. “Akan saya dalami dulu benar atau tidaknya,” kata Zainudin singkat.

 

TEKS   : Oscar Ryzal

EDITOR  : SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *