Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan, Pemprov Sumsel Gandeng IPB

PALEMBANG – Kebakaran lahan dan hutan di Sumsel mengakibatkan asap yang cukup menganggu. Ini bukan kebakaran lahan dan hutan yang pertama, melainkan kesekian kalinya terjadi di Sumsel. Karenanya, Pemerintah Provinsi Sumsel mengerahkan berbagai upaya agar tidak terjadi kembali kebakaran lahan dan hutan yang menimbulkan asap, apalagi jika sampai ke negara tetangga. Salah satu upaya itu yakni menggandeng Institute Pertanian Bogor (IPB) yang diarahkan dalam pengendalian kebakaran lahan dan hutan berbasis masyarakat.

Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Prof Bambang Hero Saharjo M.Agr mengatakan, IPB memiliki Pusat Kajian Pengendalian Kebakaran Hutan guna membantu menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Pihaknya juga memiliki pakar kehutanan dan lahan yang juga Dewan Guru Besar di IPB.

“IPB telah mempunyai konsep dan strategi untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan apa yang dimiliki itu dilembagakan dalam bentuk pusat kajian dimaksud. Ini sebagai sumbangsih IPB untuk membantu memberi solusi bagi persoalan kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Tujuan utama pusat kajian itu, yakni menemukan, mengembangkan, serta menyebarluaskan konsep, strategi dan pedoman pengendalian karhutla. Cakupannya, kata dia, meliputi aspek pencegahan, penanggulangan dan pemulihan biofisik pasca-karhutla.

“Prioritas kegiatan pusat kajian itu adalah berpartisipasi aktif dalam upaya penyelesaian masalah kebakaran hutan dan lahan dengan berbagai sumber penyebab,” ujar dia.

Di samping itu, secara intensif memantau dan mengevaluasi sistem peringatan dini dan deteksi dini. Prioritas lainnya juga memberikan konsultasi kepada pelaku usaha dan masyarakat pengelola hutan dan lahan.

“Juga menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dalam pengelolaan hutan dan lahan untuk produksi biomassa yang optimal, lestari dan berwawasan lingkungan,” tuturnya.

Ia mengharapkan kerjasama dengan Pemprov Sumsel kedepan bisa lancar, sehingga tidak terjadi kembali kebakaran lahan dan hutan di Sumsel. Apalagi mengingat lahan gambut di Sumsel sangat luas, dan berpotensi kebakaran tiap tahun.

“Kita terus berkoordinasi dengan Pemprov Sumsel. Ada beberapa kegiatan pengendalian kebakaran yang kami paparkan, mulai dari pencegahan, pemadaman hingga penanganan pasca kebakaran,” imbuhnya.

Staff Balai Penelitian Kehutanan Palembang Bustoni dan Chairul Ahmad mengatakan, persebaran lahan rawa gambut di Sumsel sebanyak 1,42 hektar, dimana OKI mendominasi 768.501 ha, Muba 593.311 ha, Mura 34,126 ha, dan Muara Enim 24.140 ha. Sementara itu tutupan (land cover) lahan gambut di Sumsel sebanyak 1.28.000 ha, dengan rincian huta 500.000 ha, semak belukar 610.000 ha, dan rumput-rerumputan 170.000 ha.

“Lahan gambut ini sudah digunakan, 70 persen sudah ada izin pengusaha HTI dan perkebunan. Dimana HTI sudah mencakup 41,74 persen, perkebunan 0,61 persen, hutan produksi 2,92 persen, hutan produksi terbatas 2,55 persen, dan hutan suaka alam 9,14 persen. Total luas di lahan gambutnya mencapai 806.364 ha,” beber Bustoni.

Disebutkannya penyebab utama degradasi hutan dan lahan gambut di Sumsel yakni ekspoitasi hutan alam (1980-2000), kebakaran hutan dan lahan (1997-saat ini), serta konversi hutan dan lahan terbagi areal transmigrasi (1970-1980an), dan HTI dan perkebunan sawit (2000-saat ini).

Tiap tahunnya jumlah hitspot di Sumsel dan OKI terus mengalami perkembangan yang fluktuatif. Kebakaran dengan jumlah hotspot lebih dari 1.000 di kabupaten OKI terjadi berulang rata-rata setiap dua tahun.

Contohnya ada jumlah titik api yang terdata mulai 15.067 (1997), 129 (1998), 1.457 (1999), 103 (2000), 59 (2001), 1.361 (2002), 387 (2003), 2.100 (2004), 185 (2005), 8.362 (2006), 513 (2007), 369 (2008), 102 (2010), 2.429 (2011) dan 2.761 (2012).

“Karenanya memang perlu penanganan dan pengendalian kebakaran lahan dan hutan. Caranya dengan paket iptek hasil litbang kehutanan guna pencegahan kebakaran lahan dan hutan gambut,” ungkapnya.

Seperti panduan restorasi dan rehabilitasi hutan rawa gambut bekas kebakaran dan konversi, budidaya jenis-jenis pohon lokal unggulan HRG tanpa drainase lahan, budidaya jelutung rawa pada lahan gambut. Juga ada pola agroforestri tanaman hutan dan perkebunan, pola agrosilvofishery untuk optimalisasi pemanfaatan lahan rawa bersulfat masam.
“Kita juga harusnya mengelola jenis pohon poonir HRG (beriang dan gelam) untuk kayu energi pembangkit listrik dan arang. Juga kelengkapan paket peralatan pemadaman kebakaran lahan dan hutan,” beber dia.

Asisten IV Pemprov Sumsel Joko Imam Santoso mengatakan, memang selama beberapa kurun waktu belakangan ini Sumsel terus menghasilkan asap akibat kebakaran lahan dan hutan gambut di Sumsel.

Menurut intruksi Gubernur Sumsel, bagaimana caranya harus ada upaya guna meminimalisir dampak kebakaran lahan hutan itu.

“Asap terus menyelimuti Palembang dan sekitarnya akibat dampak kebakaran itu, bulan lalu. Dan kita harus bisa meminimalisir kebakaran tersebut, jangan sampai menghasilkan asap, apalagi sampai ke negara tetangga,” tuturnya.

TEKS:IMAM MAHFUZ
EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *